Pasuruan (WartaBromo.com) – Pernahkah Bolo memperhatikan kemasan obat sakit kepala yang dijual di warung atau apotek? Gambar tersebut ternyata menunjukkan ekspresi seorang laki-laki kesakitan atau memegang kepala karena pusing.
Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan menarik, mengapa citra laki-laki yang justru dipilih? Apakah ini sekadar desain atau ada makna tertentu di baliknya?
Nah, dalam teori semiotika Ferdinand de Saussure, visual laki-laki di kemasan merupakan penanda yang mewakili berbagai beban sosial. Sedangkan petanda adalah makna atau pesan tentang maskulinitas dan tekanan hidup laki-laki.
Penanda berupa gambar laki-laki dapat menciptakan persepsi bahwa sakit kepala erat kaitannya dengan tanggung jawab dan tekanan yang dihadapi oleh pria. Petanda yang muncul adalah bahwa laki-laki punya tekanan besar dalam peran sosial mereka.
Lantas, apa alasannya lebih lengkapnya?
1. Beban Maskulinitas dan Solusi dari Obat Sakit Kepala
Banyaknya beban pekerjaan, keluarga, dan ekspektasi sosial membuat laki-laki lebih mudah terkena sakit kepala. Visual laki-laki dipilih karena merepresentasikan realita ini dalam bentuk yang mudah dikenali oleh konsumen.
Masyarakat melihat laki-laki sebagai pilar yang harus kuat, namun visual ini menunjukkan bahwa kekuatan tetap punya batas. Oleh karena itu, solusi cepat dan praktis yang ditawarkan adalah mengonsumsi obat sakit kepala sebagai penyembuh.
2. Visual Laki-laki Menciptakan Koneksi Emosional
Pemilihan laki-laki sebagai objek visual di kemasan juga bertujuan membentuk hubungan emosional dengan konsumen. Saat melihat citra tersebut, konsumen laki-laki merasa relevan dengan pengalaman yang digambarkan.
Ini adalah strategi pemasaran yang efektif karena mampu menyampaikan pesan bahwa “Anda tidak sendiri.” Obat sakit kepala menjadi teman yang membantu saat tekanan hidup membuat kepala terasa berat dan sulit berpikir.
3. Mempresentasikan Laki-Laki Tak Selalu Kuat
Alasan berikutnya, penggunaan citra laki-laki adalah untuk merepresentasikan sosok yang sering dianggap kuat namun tetap bisa tumbang karena tekanan. Visual tersebut membangun empati dan koneksi emosional dengan konsumen laki-laki.
Selain itu, pemilihan laki-laki mencerminkan konstruksi sosial bahwa pria menanggung banyak beban, mulai dari pekerjaan hingga urusan keluarga. Dengan menampilkan laki-laki, produsen ingin menunjukkan bahwa mereka memahami tekanan yang dialami konsumen. (jun)