PBNU ‘Belepotan’?

28

NU itu warisan para wali. Tidak pernah memberontak, tak pernah memusuhi minoritas, tak pernah meyalakan petasan di tempat ibadah saudara lain agama, tak mudah takfiri, tapi terus saja dimusuhi. Biasanya, dan ini sudah berkali-kali dibuktikan sejarah, mereka yang selalu usil pada NU akan jadi wadal.”

Oleh: Abdurrozaq

Para peminum kopi di warung Cak Sueb, kalau dipikir-pikir bukan orang sembarangan. Meski mereka udik, ndeso, tapi bahasan mereka jauh lebih cerdas daripada konten kreator di negara Cak Manap yang hanya mementingkan uang adsens daripada kelangsungan negara. Para peminum kopi di warung Cak Sueb, jarang sekali membahas hal-hal bodoh apalagi provokatif. Sedangkan para konten kreator media sosial, bahkan yang follower atau subcribernya sudah jutaan, konten mereka seringkali hanya sampah. Bukan hanya tak mendidik, mereka bahkan rela memecah belah bangsa hanya demi mencari makan.

Sore itu, sekali lagi Mahmud Wicaksono dan Cak Paijo LSM bersitegang silang pendapat. Muasalnya, Cak Paijo LSM berkomentar ugal-ugalan soal polemik yang terjadi di PBNU. “Makanya, ormas keagamaan kok ngurusi tambang, korupsi dana haji, akrab dengan zionis, bahkan menjadikan orang asing sebagai penasehatnya. Akhirnya ya begini. Umat makin bingung, kiai makin tak disegani, bahkan menjadi bahan olok-olok,” ujar Cak Paijo LSM di depan para peminum kopi.

Mahmud Wicaksono yang sembahyangnya masih sering qodlo’, kalau sampai kiai Nusantara dipaiduh, apalagi yang maiduh kurang teliti dalam memahami isu, apalagi komentar di media sosial 90 persen berasal dari chatbot atau orang-orang latah, tentu saja ngamuk.

“Sampeyan itu, dibohongi algoritma, termakan narasi liar dan propaganda palsu kok percaya, cak,” ujar Mahmud Wicaksono seraya mensabotase rokok Cak Paijo LSM.

“Lha nyatanya kan, NU mendapat jatah mengelola tambang, pernah diperiksa KPK terlibat korupsi dana haji, beberapa pengurusnya pernah ke Israel? Bahkan yang terbaru, ketua umum PBNU mengundang pemateri pro zionis dan mengangkat penasehat orang asing?” Balas Cak Paijo LSM tak terima.

“Makanya, kalau baca berita itu yang lengkap. Jangan konten media sosial yang dijadikan acuan. Sesekali tanya chat GPT yang datanya lebih valid dan adil karena ia mengumpulkan jutaan data di internet,” ujar Mahmud Wicaksono seraya menyeruput kopinya yang sudah tinggal ampas.

“Lha wong sudah viral? Mbah Yai Ketua Umum dimakzulkan karena isu tambang, terseret dana haji dan mengundang pembicara pro zionis,” ujar Cak Paijo LSM masih tak terima.

“Gini lho cak,..” ujar Mahmud Wicaksono seraya menyeruput kopi Cak Paijo LSM. “Soal dana haji, PBNU memang diperiksa, tapi sebatas sebagai saksi. Hingga saat ini, KPK belum menetapkan siapa pun tersangkanya. Bahkan setelah ditelusuri, tak ada jejak transaksi dana haji ke rekening siapa pun di PBNU. Dan yang terpenting, PBNU dan kementerian religius itu tak ada hubungannya dengan PBNU. Andai kelak ada pengurus PBNU yang—naudzu billah—terseret dana haji, itu masalah personal, tak ada sangkut pautnya dengan PBNU. Sampeyan cari di berita, terutama media yang ‘terpercaya’ tak satupun yang memberitakan jika PBNU fix terlibat skandal dana haji.”

“Soal PBNU mendapat jatah mengelola tambang, sampai detik ini, PBNU belum mengelola tambang itu, apalagi mendapatkan hasil. Malah menurut saya bagus kalau PBNU diberi izin mengelola tambang. Lha daripada dikelola para oligarki, daripada dikelola politisi busuk dan di-dum dum ke negara asing, mending dikelola PBNU. Hasilnya bisa untuk membangun pesantren, musalla, mesjid. Sampeyan itu keracunan narasi palsu yang selalu didengung-dengungkan para buzzer sehingga hoax dianggap fakta.”

“Tapi beberapa kader NU ke Israel kan fakta, cak?” kejar Cak Paijo LSM.

“Itu agenda pribadi mereka, cak. Bukan menjadi delegasi PBNU. Bahkan, mereka sudah dipecat dari kepengurusan NU.”

“Bagaimana soal penasehat PBNU dari orang asing dan narasumber pro zionis?”

“Penasehat asing, itu hanya sebagai penasehat hubungan internasional, bukan penasehat kebijakan apalagi keagamaan. Itupun, sekarang sudah dirumahkan, di PHK. Lha soal narasumber pro zionis, Mbah Yai Ketua Umum sudah meminta maaf karena PBNU kurang teliti memilih narasumber,” jelas Mahmud Wicaksono. Tukang cukur rambut itu memang punya banyak waktu untuk membaca berita terpercaya, karena ia memang pengangguran terselubung.

“PBNU itu ya memang begitu,” celetuk Gus Karimun yang entah sejak kapan sudah duduk di lincak warung.

“Manuvernya sulit ditebak, seringkali terlihat pragmatis, namun setiap langkah sudah diperhitungkan tiga bidak ke depan. Makanya, kalau dilihat dari kacamata suudhan alias buruk sangka, PBNU itu sering kontroversi,” ujar Gus Karimun tenang.

“Ya memang, karena PBNU itu hasil ijtihad, bisa jadi ia khilaf. Namanya juga manusia, para pengurus mungkin pernah kepleset, namun para sesepuh baik yang masih gesang maupun yang sudah wafat, buru-buru menegur dan mengingatkan.”

“Kenapa akhir-akhir ini nama PBNU begitu belepotan, ya karena banyak rival. Negara Cak Manap ini kan tanah sorga, jadi berbagai kepentingan, bermacam agenda politik, berbagai ideologi, rebutan ingin menggenggam Negara Cak Manap ini. Kaum ekstrim kanan yang beragama secara radikal, ingin merebut Negara Cak Manap. Ekstrim kiri yang anti agama, anti moral dan liberal, ingin merebut Negara Cak Manap. Karena NU menjadi penghalang berbagai kepentingan yang saling berebut pengaruh itu, untuk sementara mereka bersatu, ramai-ramai njotosi NU dengan opini. Sebab jika konfrontasi secara langsung, mereka belum percaya diri melawan NU. Belanda, Inggris, Sekutu, babak belur oleh Resolusi Jihad. PKI, awalnya saja sok jagoan. Setelah NU dikomando para Mbah Yai untuk membela diri, mereka kan KO? Bahkan banyak yang playing victim. Bilang salah orang, salah tangkap, padahal pas lagi jaya-jayanya terang-terangan menyerang pesantren baik secara psokologis, propaganda bahkan main fisik. Ormas yang suka takbiran padahal belum lebaran, akhirnya ya kuwalat. Secara hukum sudah innalillahi meski pahamnya menjadi memedi yang gentayangan hingga kini.”

“NU itu warisan para wali. Tidak pernah memberontak, tak pernah memusuhi minoritas, tak pernah meyalakan petasan di tempat ibadah saudara lain agama, tak mudah takfiri, tapi terus saja dimusuhi. Biasanya, dan ini sudah berkali-kali dibuktikan sejarah, mereka yang selalu usil pada NU akan jadi wadal.”

“Ya memang, NU itu bukan agama. NU itu hanya organisasi keagamaan yang mencoba menjadi wadah Islam ala Mbah Wali Songo. Dan berkat berislam cara santuy ala NU itulah, Negara Cak Manap masih berdiri hingga kini.”

“Itu terlalu fanatik namanya, gus.” Ujar Cak Paijo LSM tak terima.

“Lha mereka yang membully NU malah lebih fanatik lagi. Bahkan, demi ideologi mereka berkembang dan menguasai negara, mereka pakai cara apa saja, kok. Tak peduli jotosan seduluran bahkan Negara Cak Manap ini bubar.”

“Lalu bagaimana sikap kita seharusnya, gus?” tanya Wak Takrip.

“Yo wis ra usah melu-melu. Tak usah ikut-ikut. Andai ada pihak yang khilaf, ya biar becik ketitik olo ketoro saja. Sekhilaf-khilafnya kiai, ya tidak separah kekhilafan kita para pendosa ini. Se pragmatis-pragmatisnya orang beragama, saya kira lebih terjaga daripada pragamatisme orang yang keberatan diatur hukum Tuhan.”

“Mending kita ngopi seraya menbaca sholawat asyghil. Siapa pun yang berniat buruk, semoga disibukkan oleh pihak lain yang juga berniat buruk. Baik terhadap agama, negara maupun kemanusiaan.”

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.