Di Antara Dua Ranu, Tiris Mengajarkan Cara Menikmati Alam dengan Perlahan

23
Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris bersama warga fun trekking antar danau di Kecamatan Tiris. (Foto : Diskominfo/Hendra Trisianto)

Tiris (WartaBromo.com) – Kabut sore di Kecamatan Tiris tak hanya menutupi pegunungan, tetapi juga menyimpan kisah tentang danau, perjalanan, dan upaya menjaga alam tetap lestari. Ranu Merah dan Ranu Argo hadir sebagai ruang hening bagi siapa pun yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk keseharian.

Langit Tiris masih berwarna pucat ketika langkah-langkah kaki mulai menapaki jalur tanah yang basah oleh sisa air hujan. Pepohonan tinggi berdiri rapat, sementara suara air mengalir samar terdengar dari kejauhan.

Di tengah lanskap pegunungan itulah Ranu Merah dan Ranu Argo berada—dua danau vulkanik yang menjadi wajah lain Kabupaten Probolinggo.

Rabu (7/1/2026) lalu, kawasan ini kembali ramai, namun bukan oleh keramaian yang riuh. Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris bersama jajaran OPD, komunitas alam, serta anggota DPRD Jawa Timur Mahdi memilih menyapa alam Tiris dengan berjalan kaki.

Sebuah perjalanan menyusuri jalur alami sepanjang kurang lebih enam kilometer pun dimulai. Konsep fun trekking menjadi pilihan.

Bukan perlombaan, bukan pula wisata instan. Jalur yang dilalui menghadirkan pengalaman bertahap—menyeberangi sungai kecil khas pegunungan, mendaki tanjakan tanah, hingga melintasi jalur terbuka yang memperlihatkan kehidupan warga desa.

Di sela perjalanan, alam memberi hadiah berupa air terjun kecil yang tersembunyi di balik rimbun dedaunan.

Sesampainya di Ranu Merah, lanskap berubah drastis. Permukaan danau tampak tenang, memantulkan bayangan pepohonan di sekelilingnya.

Warna air yang khas memberi kesan magis, seolah danau ini menyimpan cerita panjang tentang aktivitas vulkanik masa lalu.

Bupati Haris menyebut kawasan danau di Tiris sebagai potensi wisata alam yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan.

Dari tujuh danau yang tersebar di wilayah ini, Ranu Merah dan Ranu Argo menjadi prioritas penataan karena akses dan daya tarik alamnya.

“Upaya perbaikan infrastruktur terus dilakukan secara bertahap. Akses jalan menuju Ranu Merah sudah dibenahi agar wisatawan dapat berkunjung dengan lebih aman dan nyaman,” kata Haris.

Menurutnya, karakter alam Tiris sangat cocok untuk wisata berbasis aktivitas luar ruang, seperti trekking dan jelajah alam.

Jarak antar danau yang relatif dekat memungkinkan wisatawan menikmati lebih dari satu destinasi dalam satu perjalanan tanpa merusak ekosistem sekitar.

Meski demikian, Haris menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak boleh mengabaikan prinsip keberlanjutan.

Konsep ekowisata menjadi fondasi utama agar keindahan alam tetap terjaga dan masyarakat lokal merasakan manfaatnya.

“Alam di Tiris ini masih jujur. Tugas kita adalah menjaganya agar tetap seperti ini, sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga sekitar,” ujarnya.

Saat matahari mulai condong ke barat, suasana di tepi Ranu Merah berubah semakin sunyi.

Tenda-tenda didirikan, api unggun kecil menyala, dan malam pun dijalani dalam balutan udara dingin pegunungan. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak. Semua larut dalam kebersamaan yang sederhana.

“Kita punya pekerjaan rumah dalam memajukan kunjungan wisatawan ke kawasan wisata alam di Kabupaten Probolinggo agar mampu menjadi tulang punggung perekonomian daerah,” tambah Mahdi.

Tiris mengajarkan satu hal: wisata bukan semata soal tujuan, melainkan tentang perjalanan itu sendiri.

Tentang melangkah pelan, membaca alam, dan belajar hidup berdampingan dengan lanskap yang telah ada jauh sebelum manusia datang. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.