“Ada, banyak wirid-wirid yang bisa meluluh lantakkan para penjahat seperti itu. Tapi siapa yang akan ngelakoni? Kita sudah terkontaminasi riba, syubhat, ghibah. Doa orang seperti kita hanya sampai di plafon. Allah pasti menjawab doa, tapi doa kita yang …..”
Oleh: Abdur Rozaq
Makin hari, tubuh Gus Karimun makin kurus. Matanya kian cekung, sembab, dan senyumnya kecut. Kiai muda anti uang syubhat itu sepertinya sedang menanggung beban yang sangat berat. Berpuluh tahun, kawan-kawannya di warung kopi tak pernah melihat keadaan Gus Karimun seperti itu. Meski agamanya dihina, pesantren dihina, para kiai dan santri direndahkan di media sosial oleh chatbot, antek George Soros atau anak-anak ingusan yang asal berkomentar, Gus Karimun tak pernah terlihat seperti saat itu. Saat ini, pasti ia menanggung beban yang cukup berat.
Setiap malam, Gus Karimun memang jarang, bahkan tak pernah tidur. Ia berkhalwat, memohon keselamatan semesta, memohonkan ampun umat di seluruh penjuru dunia. Ia memohon keselamatan umat manusia, seakan mereka adalah dirinya sendiri.
“Nuwun sewu, sampeyan sakit tah, gus?” tegur Wak Takrip memberanikan diri.
“Alhamdulillah saya sehat, wak. Raga saya sehat, tapi bathin saya yang sakit,” jawab Gus Karimun, seraya tersenyum terpaksa.
“Jangan di-songgo sendirian, gus. Kalau ada apa-apa cerita kepada kami. Kami para santri sampeyan, tentu takkan tinggal diam, kami akan membantu dengan apa yang kami bisa,” ujar Wak Takrip memelas. Biasanya, Gus Karimun akan menolak jika kawan-kawannya mengaku sebagai santrinya, namun kali ini Gus Karimun terlalu letih untuk menjelaskan lagi. Pikirannya terlalu letih.
“Saya melihat, …” Gus Karimun terdiam sebentar.
“Alam ini begitu gelap, wak. Hampir dalam setiap salat malam dan dzikir, saya seakan mendapat kabar buruk. Sangat buruk. Semoga pengelihatan saya salah. Semoga itu hanya angan-angan dan hayalan saya. Semoga itu bukan ilham dari Allah, karena sangat mengerikan.”
“Apa perang dunia ketiga, gus?” tanya Mahmud Wicaksono tak sabar. Gus Karimun terdiam sejenak. Ragu untuk menjawab.
“Perang dunia ketiga ya, gus?” desak Mahmud Wicaksono. Seakan memaksa Gus Karimun untuk mengaku.
“Ya, termasuk itu…” jawab Gus Karimun terpaksa.
“Temasuk itu? Artinya akan ada beberapa kejadian mengerikan?” cecar Mahmud Wicaksono panik. Kabar langit yang diterima Gus Karimun, selama ini memang sering akurat. Orang bilang, kiai muda itu sudah kasyaf, sudah diberi pengelihatan yang bukan hanya dengan mata lahir.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuuuun,” ujar seisi warung Cak Sueb.
“Ya, setiap saat berita memang makin mengerikan,” ujar Cak Paijo LSM.
“Amerika sudah seratus persen siap memantik perang dunia ketiga, sementara kita masih belum bisa berbuat banyak,” sambung Cak Paijo LSM.
“Sepasti apa akan terjadinya perang dunia ketiga, gus?” ujar Mahmud Wicaksono menginterogasi.
“Hanya Allah yang tahu. Tapi melihat gejala alam dan sunnatullah, sepertinya tahun ini,” ujar Gus Karimun. Cak Paijo LSM membanting gelas tanpa terasa.
“Dajjal!” umpatnya.
“Tapi kan pasti ada suwuk yang bisa menghentikannya, gus?” buru Wak Takrip.
“Ada, banyak wirid-wirid yang bisa meluluh lantakkan para penjahat seperti itu. Tapi siapa yang akan ngelakoni? Kita sudah terkontaminasi riba, syubhat, ghibah. Doa orang seperti kita hanya sampai di plafon. Allah pasti menjawab doa, tapi doa kita yang …..”
“Tapi sebenarnya, tanpa perang dunia ketiga pun, kita akan luluh lantak oleh megathrust, banjir bandang, angin lesus siklon atau tsunami. Tapi yang paling menyakitkan, kita menjadi Yakjuj Makjuj di tanah kita sendiri. Kita memaham biak hutan lebih ganas dari Yakjuj Makjuj. Bukan hanya di Sumatera kita temukan kayu gelondongan terbawa arus banjir bandang. Di kota inipun, gelondongan kayu pinus meluncur dari gunung seperti anak panah.”
Semua orang mengelus dada. Mahmud Wicaksono mendengus diam-diam.
“Manusia, sepertinya akan mendapat teguran karena terlalu tamak, terlalu meremehkan ajaran Allah, bahkan menghina aturan-Nya. Barangkali dengan diberi bencana perang, kelaparan, kekacauan dan kehancuran ekosistem, kita akan berbenah diri,” kata Gus Karimun lemas.
“Jika ada wirid yang bisa kami baca, silahkan ijazahkan, gus. Barangkali ada doa di antara kami yang dikabulkan Allah,” pinta Wak Takrip memelas.
“Mulai nanti malam, baca surat Al Fiil tengah malam. Tapi sebelumnya, kita harus membaca sayyidul istighfar seribu kali sebagai pembuka. Lalu, pada kata tarmiihim, baca tanpa hitungan. Ulangi sampai subuh menjelang.”
“Khasiatnya apa, gus?” Celetuk Cak Paijo LSM.
“Orang-orang jahat, akan hancur seperti daun dimakan ulat, apalagi jika kita khususkan kepada mereka.”
“Qibiltu, gus. Mulai nanti malam, saya akan ngelakoni. Biar para pembuat penyakit baik lokal maupun global, dihancurkan oleh Allah.” Kata Mahmud Wicaksono.
“Silahkan, saya ijazahkan wirid ini kepada sampeyan semua, termasuk kepada para pembaca. Tapi ingat, jangan diarahkan kepada orang yang tidak pantas dihukum. Jangan dibaca demi balas dendam karena kita tidak suka pada seseorang. Wirid ini hanya berkhasiat kepada orang yang kejahatannya hanya layak dihentikan oleh tangan Tuhan.”
“Buat koruptor boleh, gus?”
“Boleh, sangat boleh!”





















