Bumi Milik Gusti Allah, Makanya Parkir Bayar

30

Bagi Cak Sueb yang hampir setiap hari kulakan rokok, gula, kopi, mie instant dan segenap isi warung, tentu saja harus menyediakan uang parkir belasan ribu perhari. Sangat tragis jika dibandingkan dengan keuntungan warung kopinya yang sering diutangi oleh para pelanggan, terutama Mahmud Wicaksono

Oleh : Abdur Rozaq
Bumi ini milik Gusti Allah, demikian kelakar Cak Paijo LSM suatu kali. Oleh karena itu, manusia sebenarnya hanya dipinjami dan tak berhak mengeksploitasi sejengkal bumi pun demi kepentingan pribadi. Di lain sisi, dengan prinsip bumi ini milik Gusti Allah juga, Cak Brodin malah memiliki pemahaman yang berbeda. Bumi memang milik Gusti Allah, namun di mana ia diizinkan meniup peluit, di sanalah orang parkir harus bayar padanya. Seringkali, sertifikat tanah pemilik lahan tak berdaya melawan peluit yang ditiup Cak Brodin.

Polemik absurd bumi milik Gusti Allah ini, diperparah oleh kebijakan para pejabat yang sering kurang jeli saat membuat aturan. Suatu masa, pemerintah di kota Cak Manap menetapkan biaya parkir berlangganan dijadikan satu, saat membayar pajak kendaraan bermotor. Sebagai bukti, plat nomor kendaraan ditempeli stiker sebagai penanda. Namun seperti biasanya, begitu banyak aturan yang hanya berlaku di atas kertas, indah dalam slogan dan ramah dalam seremonial semata. Stiker sakti itu, ternyata tak semujarap jimat yang ditempel di dahi vampir dalam film Cina. Meski ceto welo-welo, para tukang parkir penganut paham bumi ini milik Gusti Allah, tetap menarik uang parkir. Berani tanya, bisa dipelototi. Berani minta karcis, bisa ditantang duel.

Bagi Cak Paijo LSM yang harus ngopi sak paran-paran di saentero kota, penghasilannya bisa berkurang drastis karena harus bayar parkir belasan kali sehari. Itu Cak Paijo, seorang anggota ormas, sering macak wartawan bahkan punya kartu pers entah dari mana. Meski banyak tukang parkir yang kenal padanya, tetap saja harus membayar demi njengkepi setoran.

Karena stiker sakti anti bayar parkir tak efektif, salah seorang Walikota akhirnya menghapus kebijakan salah perhitungan itu. Dan, setiap jengkal bumi yang milik Gusti Allah itu, akhirnya dibagi-bagi. Konon, ini konon sih, setiap lokasi yang ramai kendaraan parkir, akan dilelang kepada seseorang. Namun masih misteri, siapa yang melelang, dan siapa yang membeli. Pemenang lelang lokasi lalu merekrut anak buah untuk menjadi tukang parkir, sementara si bos leha-leha di room karaoke. Bahkan konon, demi sebuah lahan parkir, orang rela bacokan atau membeli santet.

Bagi Cak Sueb yang hampir setiap hari kulakan rokok, gula, kopi, mie instant dan segenap isi warung, tentu saja harus menyediakan uang parkir belasan ribu perhari. Sangat tragis jika dibandingkan dengan keuntungan warung kopinya yang sering diutangi oleh para pelanggan, terutama Mahmud Wicaksono.

Dulu, Cak Dulla pernah buka warung kopi di seputar alun-alun. Setelah direlokasi paksa ke eks Pasar Ponco, ia bangkrut karena pembeli lari. Menghindar ke warung kopi lain yang bebas parkir.

Masih soal parkir, Mahmud Wicaksono pernah shock ketika anaknya dirawat di rumah sakit akibat gizi buruk. Sudah kena mental beberapa kali dipleroki petugas medis karena menggunakan BPJS, di parkiran ia kaget dengan uang parkir yang mirip argo taksi zaman kuno. Anehnya, meski uang parkirnya begitu horor, pengelola berkelit saat motor seseorang hilang.

Menurut Gus Karimun yang sejak tadi menyimak obrolan kawan-kawannya tentang pengalaman aneh soal parkir, pemerintah sebenarnya bisa membuat solusi cerdas. Bukan dengan membongkar kembali paving yang masih bagus untuk dijadikan lahan parkir. Bukan memberikan seragam kepada tukang parkir liar. Tapi mengaktifkan kembali transportasi umum seperti di kota-kota maju di luar negeri. Katakanlah, membuat semacam Transjakarta kecil-kecilan. Dengan mengaktifkan kembali trasportasi umum, kemacetan akan berkurang, polusi udara dan suara turun drastis. Dan tentu saja, masyarakat akan mengurangi durasi penggunaan kendaraan pribadi, dan tak banyak kena uang parkir. Itupun kalau masyarakat mau. Tapi apa mungkin, hobi bergaya dengan kendaraan kreditan bisa berhenti?

Di hari-hari biasa, uang parkir ditetapkan entah oleh siapa sebesar 2000 rupiah. Tak ada informasi jelas, karena mayoritas tukang parkis memberikan karcis yang berisi keterangan perda besarnya uang parkir. Namun jika ada hari besar seperti jelang lebaran atau haul Mbah Hamid, parkir motor bisa naik menjadi 5000 rupiah bahkan lebih. Itupun, helm dan jok belum dijamin aman.

Konon katanya, para bos berebut lahan parkir tak kalah seru dengan para pemimpin kartel, triad atau yakuza. Memang tak ada perang antar geng, tak ada penyerangan pemimpin kartel, namun berani mengusik bumi milik Gusti Allah yang sudah dibagi-bagi, bisa dicelurit orang. Dan itu semua bisa terjadi, pasti sudah atas restu guberment atau sherif setempat.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.