Para Habaib Rocker Indonesia: Antara Nasab dan Sanad Estetik

19

Oleh : Maulana Sholahudin*

Perdebatan nasab habib sudah masuk pada caci maki dan saling hujat, dan itu bagi saya sudah keluar dari tradisi ilmiah. Kali ini saya ingin membawa pada perspektif lain. Biasanya habaib/habib identik dengan tokoh agama dengan kostum jubah dan surban. Tetapi tidak sedikit yang menjerumuskan diri di dunia seni.

Di antara yang menjerumuskan diri di jalur estetik yang legendaris dan istimewa adalah dua habib dari marga Albar, yakni Syech Albar dan Ahmad “Bing Slamet” Albar. Syech mewariskan sanad estetika ini kepada anaknya, Ahmad Albar (1946). Pada kurun 1970-an, sang anak tampil menghentak blantika musik rock Indonesia bersama teman-temannya di Godbless. Grup ini menjadi mursyit api musik rock di Indonesia. Ahmad Albar dianggap sebagai sumber uswah dan inspirasi oleh seluruh grup musik rock setelahnya, seperti Slank, Boomerang, Jamrud, Powerslaves, dan sebagainya. Hari ini, sanad estetika keluarga Albar pertama itu diteruskan oleh Fachri Albar (1981). Bedanya, Fachri menggali ladang estetisnya di lahan seni peran, bukan musik.

Takdir sanad estetik Ahmad “Bing Slamet” Albar ada dalam thoriqoh yang sama dengan Syech Albar. Beliau melahirkan anak-cucu di bermacam-macam bidang estetika di Indonesia. Mulai dari Ratna Lusiana Albar (1963) atau Uci Bing Slamet, Ferdinand Syah Albar (1966) atau Adi Bing Slamet, dan Ratna Fairuz Albar (1968) atau Iyut Bing Slamet. Terhitung sejak warsa 1970-an, nama-nama tenar itu telah berjaya di dunia musik, komedi, dan film. Bahkan, orang seumuran siapa yang tidak kenal penyanyi cilik Adi Bing Slamet.

Di era milenial ini, darah estetis Bing Slamet Albar dialir-teruskan oleh cucu-cucunya. Dua nama yang terkenal adalah Ayudia Chaerani Albar (1990) atau Ayudia Bing Slamet dan Ratna Kharisma Adzana Albar (1993) atau Adzana Bing Slamet.

Ayudia adalah putri Hilmansyah Albar, anak kedua Bing Slamet. Ayudia mulai merebut perhatian masyarakat Indonesia sejak ia dipoles oleh Deddy Mizwar dalam film Ketika (2004). Setelah itu, ia menjadi langganan banyak episode FTV, sinetron, dan tayangan komedi di televisi. Sedangkan Adzana mulai memasyhur lewat film Cermin Penari Jaipong (2014) dan sinetron Putih Abu-Abu (2012).

Adzana, yang merupakan putri kandung Adi Bing Slamet itu, dinikahi oleh seorang berdarah habib juga, Muhammad Rizky Alatas (1991), bintang film Oops! Ada Vampir (2016) dan sejumlah FTV serta sinetron. Sebelum terjun ke dunia seni peran, Rizky tercatat sebagai anggota grup vokal Treeji bersama Tarra Budiman dan Jispeh Hakim.

Juga pada warsa 1960-an, seorang habib dari marga Al-Jufri yang termasuk pemantik ghirroh awal musik rock Indonesia, ada Syech Abidin (1946–2013), drummer grup rock AKA (Apotik Kali Asin) yang dibentuk Andalas Datoe Oloan (1943–2009) atau Ucok Harahap di Surabaya. Ucok, keyboardis sekaligus vokalis utama AKA, merekrut Habib Syech sebagai penggebuk drum, Arthur Kaunang sebagai pembetot bass, dan Soenata Tanjoeng sebagai pemetik gitar. Sebelumnya, posisi Syech ditempati oleh kakak kandungnya sendiri, Zainal Abidin Al-Jufri. Suara Syech dapat didengar melalui salah satu lagu keramat AKA, Badai Bulan Desember (1973). Ketika AKA bubar, berubah menjadi grup SAS, akronim dari Syech Abidin, Arthur, dan Soenata Tanjung. Di grup ini, lagu kesukaan saya saat SD berjudul Sirkuit.

Godbless dan SAS adalah ilmu muqoddima saya untuk kemudian mengenal rocker-rocker dunia sekelas Metallica, GNR, Megadeth, Sepultura, Nirvana, Queen, Helloween, dan lain-lain.

Sebenarnya banyak para habaib dan syarifah estetik yang telah memeras jasa untuk pembangunan rumah-rumah kebudayaan dalam bingkai kebangsaan, yang tidak sok alim tapi berjasa pada dunia seni. Mereka tampil dengan wajah manusia biasa, tidak menjelma layaknya para habaib dalam dunia taklim dan majelis pengajian.

* Penulis adalah advokat dan Aktivis NU

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.