Sugeng Rawuh Investor Cina: Monggo Masuk, Asal Ora Ruwet

12

“Santai, Cak. Insya Allah aman. Ini cuma smelter. Insya Allah cuma tempat pengolahan. Ya memang, pasti ada dampak lingkungan. Tapi kita tidak punya banyak pilihan. Secara fitrah kan, Allah menciptakan bahan tambang ya memang untuk ditambang, dimanfaatkan. Uangnya buat mensejahterakan rakyat, bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan kerjasama ekonomi antara negara kita dengan Cina.

Oleh : Abdur Rozaq

Mahmud Wicaksono mesam-mesem seraya men-scroll-scroll HP-nya. Wajahnya sedikit sumringah meski sejak pagi hanya beberapa pelanggan yang meminta dipangkas rambutnya.

“Ini baru keren, meski saya tak mungkin melamar kerja karena aturan usia, setidaknya pengangguran akan sedikit berkurang,” celotehnya.

“Ada berita apa, mas?” tanya Cak Paijo LSM kepo.

“Investor Cina masuk kota kita, cak. Bakal ada perusahaan baru,” jawabnya enteng.

“Perusahaan apa?” buru Cak Paijo LSM, terbukti kalau ia malas baca.

“Smelter aluminium berskala internasional,”

“Blaen! Bisa tambah rusak alam di kota kita ini. Penambang lokal saja sudah menyebabkan banjir, longsor dan berkurangnya air tanah. Kemarin saja Banyubiru sampai ambrol kena banjir bandang. Lha ini perusahaan tambang Cina skala internasional pula, apa tak semakin hancur? Jangan-jangan seperti investor-investor lain. Bahan bakunya mengeruk di alam kita, tenaga kerja murah penduduk lokal, limbahnya mencemari sungai, tambak, sawah. Mereka pulang hanya bawa uang dengan keuntungan berlipat-lipat,” cerocos Cak Paijo LSM.

“Ini smelter, cak,” jelas Mahmud Wicaksono.

“Smelter itu apa?” ujar Cak Paijo LSM.

“Kalau tidak salah, hanya pengolahan, bukan menambang di sini,” kata Cak Soleh Las ikut menjelaskan.

“Ya harus jelas!” Kata Cak Paijo LSM langsung ngegas. “Jangan-jangan menambangnya di sini. Jangan-jangan seluruh pekerjanya dari Cina, orang lokal hanya jadi centeng atau tukang parkir. Dan perlu di awasi, jangan-jangan dijadikan markas agen rahasia atau kantor judi online seperti di Kamboja. Kita harus waspada lho, jangan-jangan karena kamboja dibom sama Thailand dan banyak kantor judi online yang hancur, mereka pindah ke sini. Pura-pura investasi.”

“Sampeyan itu terlalu banyak nonton Youtube, cak. Pikiran sampeyan itu sing ndak-ndak,” tegur Mahmud Wicaksono.

“Lha kita harus wapada kan? Apalagi sudah sering orang Cina bikin perkara di negara kita. Kapan hari saya nonton di Youtube, ada pekerja Cina berani menyerang TNI.”

“Channel yang sampeyan tonton itu bisa dipercaya tidak? Kalau channel berita, kira-kira bukan antek George Soros tidak? Perang dagang antara Cina dan Barat, selalu disorot media antek Barat agar kita tidak bekerjasama dengan Cina. Sampeyan itu paranoid apa, makanya orang malas investasi di negara kita,” tegur Mahmud Wicaksono.

“Insya Allah, aman, kok. Kemarin saya sudah diceritani soal ini,” ujar Gus Karimun tiba-tiba.

“Pemerintah kita pasti takkan gegabah menerima investor. Apalagi, negara kita sekarang semakin disegani, jadi tak mudah negara lain macam-macam sama kita. Apalagi, para leluhur kita seperti Mbah Arif Segoropuro, Mbah Semendi dan Mbah Hamid pasti akan ikut ngontrol,” tegas Gus Karimun.

“Tapi yang namanya tambang gus, dampaknya sangat besar pada lingkungan,” ujar Cak Paijo LSM ngeyel.

“Lha yang kita punya memang tambang? Kita mau jual teknologi ya belum siap. Para insinyur kita malah belum bisa bersaing, mahasiswa dan pelajar kita belum siap. Bisa jadi, ini karena guru honorer dibayar 150 ribu perbulan, belum juga diangkat menjadi PPPK apalagi PNS, kalah sama nasib pegawai MBG, yang isunya mau diangkat menjadi tenaga PPPK.”

“Lha kok melebar kemana-mana, gus?” Protes Cak Paijo LSM.

“Katanya menganalisa?”

“Soal tambang, memang sangat riskan. Tapi kalau pemerintah bijak, bekas tambang bisa kita reboisasi atau setidaknya dijadikan danau buatan. Lumayan buat tempat wisata… he he he”

“Sampeyan malah guyon, gus.”

“Santai, Cak. Insya Allah aman. Ini cuma smelter. Insya Allah cuma tempat pengolahan. Ya memang, pasti ada dampak lingkungan. Tapi kita tidak punya banyak pilihan. Secara fitrah kan, Allah menciptakan bahan tambang ya memang untuk ditambang, dimanfaatkan. Uangnya buat mensejahterakan rakyat, bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan kerjasama ekonomi antara negara kita dengan Cina. Bahkan tanpa investasi ini, kita kan memang kurang disiplin kalau soal menjaga lingkungan. Sampah kita buang ke sungai, sampah plastik kita bakar atau kita buang ke sungai. Lha kalau ada investor begini kan, lingkungan memang terdampak, tapi keuntungannya kan jelas?”

“Tapi saya tetap waswas, gus. Kita selalu dirugikan kalau kerjasaman dengan negara lain. Mbok ya transfer teknologi atau gimana gitu,” protes Cak Paijo LSM lagi.

“Ya itu tadi, SDM kita belum siap. SDM kita belum terbiasa belajar dan bekerja serius. Kenapa? Bisa jadi karena guru atau dosen-dosen kita sudah loyo. Gaji mereka tidak menghargai profesi, kurikulum sering gonta-ganti, anak-anak ujian dapat nilai 25, di raport harus ditulis 75. Jika kita eman dengan kekayaan tambang dan kelestarian alam, ya kita harus menjual teknologi, pangan atau lainnya. Lha secara fundamental saja kita belum siap. Dunia pendidikan yang menjadi pondasi rapuh, ya kita bisanya jual bahan tambang dulu. Entah sampai kapan?”

“Ruwet ya?” keluh Cak Manap.

“Ya.” Jawab Gus Karimun singkat.

“Terus sebaiknya bagaimana, gus?” kata Cak Paijo LSM.

“Ya ndak apa-apa. Kita kawal saja investasi ini. Sampeyan sebagai anggota LSM, punya tugas tambahan yang lebih berat. Kita kawal investasi ini, dan terus kita kontrol dari jauh. Saya kebagian tugas untuk berdoa agar semuanya menjadi maslahat bagi umat.”

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.