Demo Urunan Mbangun Dewe Jalan Rusak

47

Karena sudah banyak jatuh korban, sudah banyak kendaraan warga yang rusak bahkan anak-anak sekolah sering cedera karena terjatuh di jalan wingit itu, warga murka. Apakah warga membuat video sindiran memancing di genangan air di jalan? Tidak. Atau, warga menanami padi dan pisang di sepanjang jalan? Juga tidak. Warga rembugan di warung Cak Sueb,

Oleh: Abdur Rozaq

Karena sudah putus asa, percuma mengeluh, sudah diviralkan tapi jalan di depan warung Cak Sueb masih saja dibiarkan, akhrinya warga mengambil tindakan. Berpuluh tahun jalan desa itu tetap begitu-begitu saja. Seakan kampung Cak Manap masih berada di abad kegelapan. Di zaman Majapahit, jalan itu masih jalan setapak, tapi sudah diberi batu bata merah ditata seperti paving. Di zaman penjajah Belanda, jalan itu diperluas, ditanami pohon asam di kanan-kirinya, meski belum diaspal. Herannya, di era kemerdekaan, di era Dana Desa, di era pembangunan infrastruktur gila-gilaan, jalan itu malah seperti jalan di sebuah desa di Ukraina. Bahkan pohon asam raksasa di kanan-kirinya ditebang, dicairkan—konon uangnya dimasukkan kas desa. Konon sih begitu.

Memang masih tersisa bekas aspal, tepatnya batu makadam lancip seperti jebakan tank. Namun di beberapa bagian, banyak cekungan-cekungan seperti bekas jatuhan meteor. Jika musim hujan, jalan desa itu, di tahun 2026 ini, masih seperti arena offroad motor trail. Kemana Dana Desa? Wallahu a’lam bis shawab. Kemana para pejabat desa? Pasti beliau-beliau sangat sibuk mengurus hajat rakyat. Bisa jadi ini jalan kabupaten, jadi bukan wewenang para aparat desa untuk memperbaikinya. Dana Desa tidak diperuntukkan membangun jalan desa, Dana Desa hanya boleh untuk bongkar pasang paving, pavingisasi jalan jin, membangun plengsengan sungai yang airnya sudah mengering, untuk pengeboran sumur artesis agar air tanah cepat habis, atau renovasi bangunan-bangunan milik desa, mirip pelaku pesugihan kandang bubrah. Terus direnovasi sepanjang tahun. Bangunan yang sudah bagus dirusak dan direnovasi lagi agar demit pesugihan tidak ngamuk.

Karena sudah banyak jatuh korban, sudah banyak kendaraan warga yang rusak bahkan anak-anak sekolah sering cedera karena terjatuh di jalan wingit itu, warga murka. Apakah warga membuat video sindiran memancing di genangan air di jalan? Tidak. Atau, warga menanami padi dan pisang di sepanjang jalan? Juga tidak. Warga rembugan di warung Cak Sueb, tapi malah saling paiduh dan ada yang punya ide membakar balai desa. Untungnya, Gus Karimun bisa meredam mereka. Bukan hanya meredam, Gus Karimun malah mengeluarkan gepokan uang dari saku baju takwa lusuhnya.

“Ini, saya urun 30 juta,” kata Gus Karimun mengagetkan semua orang. Bergepok-gepok uang pecahan seratus ribuan tergeletak di meja warung. Semua orang ternganga, dari mana Gus Karimun punya uang sebanyak itu. Mahmud Wicaksono sampai menetes-neteskan air liurnya karena kemecer melihat kertas berwarna merah yang bisa membeli segala hal itu.

“Saya urun 200 ratus ribu,” ujar Cak Sueb.

“Saya urun buat proposal saja. Akan saya mintai para pemilik tambang yang truknya setiap hari lewat sini,” sambung Cak Paijo LSM.

“Saya dua puluh ribu saja ya,” sambung Kaji Dopir, salah satu orang terkaya di desa Cak Manap.

Setelah beberapa saat, hampir semua pelanggan warung memberikan sumbangannya. Berbagai pecahan uang menumpuk di meja warung, namun hanya seorang yang belum mengeluarkan uang sumbangan sepersepun. Dia Mahmud Wicaksono. Penulis, tukang cukur rambut, sarjana, Youtuber, kadang dipanggil menerapi refleksi, kadang dipanggil nyuwuk orang kesurupan. Bukan ia medit, tapi ekonominya memang belum stabil. Ia belum bisa menjadi donatur, malah sebaliknya, ia salah satu mustahiq zakat. Gus Karimun yang waskito, tiba-tiba mengambil kopyah hitamnya. Dirogoh-rogoh sebentar, lalu seperti Dimas Kanjeng, keluar beberapa lembar uang seratus ribuan.

“Itungen Mas Mahmud,” ujar Gus Karimun. Mahmud Wicaksono lalu menghitungnya, ternyata ada satu juta. “Sampeyan kumpulkan di meja,” sambung Gus Karimun.

“Nah, ini Mas Mahmud Wicaksono urunan satu juta,” ujar Gus Karimun mengumukan kepada semua orang.

“Lho, tapi, gus?” ujar Mahmud Wicaksono bingung.

“Lha kan sampeyan yang menaruh di meja? Berarti itu urunan sampeyan,” kata Gus Karimun. Semua orang memaklumi, tapi Mahmud Wicaksono hampir menangis karena haru, tentu saja sekaligus malu.

****

Esok harinya, setelah memberi pemberitahuan kepada kepala desa dan para perangkatnya, dikomando Gus Karimun, warga gotong royong memperbaiki jalan desa itu. Para perangkat desa juga diminta ikut serta, tapi sepertinya kurang nyaman. Mungkin malu, mungkin sungkan. Para warga tumplek blek gotong royong. Mahmud Wicaksono yang seumur hidup hanya memegang cangkul beberapa kali, nampak begitu bersemangat mengaduk semen, mengusung pasir dan batu seakan ia kuli bangunan profesional. Gus Karimun juga tak kalah. Kiai muda itu menanggalkan sarungnya dan mengenakan celana komprang. Bejibaku dengan adukan semen dan segala hal. Sementara Kepala Desa, beberapa perangkat desa, bersama ibu-ibu dan para remaja putri sibuk membuat video untuk diunggah di media sosial masing-masing.

Dalam hati, Cak Paijo LSM misuh-misuh melihat job deskription Kepala Desa dan beberapa perangkatnya. Angan-angan liarnya malah berkhayal kemana sirnanya Dana Desa itu. Apakah dihabiskan buat judi online, menyewa LC, membeli tas dan skincare istri para perangkat desa, tertipu investasi bodong atau membeli kripto?.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.