Dari Sedekah Menuju Destinasi: Eco Enzyme Jadi Harapan Baru Selamatkan Danau Ranu

56

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah kulit buah selama sekitar 100 hari. Bahannya sederhana, yakni molase atau tetes tebu, limbah kulit buah, dan air dengan perbandingan 1:3:10. Cairan ini diyakini mampu membantu mengurai amoniak, menjernihkan air, serta memperbaiki keseimbangan ekosistem perairan.

Oleh : Makhfud Syawaludin*

Suasana tenang Jumat pagi di tepian Danau Ranu dimanfaatkan Abu Amar Bustomi untuk merendam kaki sambil menikmati riak air yang perlahan bergerak. Di sela kegiatan Sedekah Eco Enzyme, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan itu menyampaikan gagasan strategis: menjadikan Danau Ranu sebagai destinasi wisata terapi berbasis eco enzyme.

“Setelah terapi, eco enzyme dibuang ke Danau Ranu. Jadi orang bisa berwisata, berterapi, sekaligus ikut menjaga danau dari pencemaran,” ujarnya, Jumat (13/02/2026).

Menurutnya, gagasan tersebut selaras dengan visi UNU Pasuruan dalam mengembangkan teknologi inklusif, yakni teknologi yang sederhana, murah, dan mudah diterapkan masyarakat.

“Teknologi inklusif itu manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Eco enzyme salah satu contohnya,” kata doktor bidang ilmu sosial tersebut.


Danau yang Kehilangan Kejernihannya

Danau Ranu di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, selama ini menjadi sumber kehidupan warga sekitar. Namun beberapa tahun terakhir kondisinya kian memprihatinkan. Air danau kerap berubah keruh kehijauan, bahkan kematian ikan hampir selalu terjadi saat awal musim hujan.

Kondisi ini mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNU Pasuruan bersama warga menggelar kegiatan Sedekah Eco Enzyme. Cairan hasil fermentasi limbah organik itu dituangkan ke danau sebagai upaya sederhana memulihkan ekosistem perairan.

Bagi Kiswanto, warga Desa Ranu Klindungan, kegiatan tersebut menghadirkan harapan agar Danau Ranu kembali sehat, termasuk bagi ikan lempuk yang merupakan spesies endemik danau.

“Kami berharap kegiatan ini bisa rutin. Tidak hanya mahasiswa, tapi juga warga dan pemerintah desa ikut terlibat, misalnya sebulan sekali,” ujarnya kepada WartaBromo, Ahad (15/02/2026).

Ia menegaskan, Danau Ranu bukan sekadar objek wisata, melainkan penopang ekonomi dan kehidupan masyarakat setempat.


Menjawab Kegelisahan Warga Lewat Aksi dan Riset Kampus

Ketua Kelompok KKN, Abu Hasan, menjelaskan ide sedekah eco enzyme lahir dari kegelisahan warga yang semakin sering menyaksikan kematian ikan serta menurunnya kualitas air danau.

“Eco enzyme dipilih karena murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan,” katanya.

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah kulit buah selama sekitar 100 hari. Bahannya sederhana, yakni molase atau tetes tebu, limbah kulit buah, dan air dengan perbandingan 1:3:10. Cairan ini diyakini mampu membantu mengurai amoniak, menjernihkan air, serta memperbaiki keseimbangan ekosistem perairan.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UNU Pasuruan, M. Solkhan, menilai gerakan ini tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga membuka peluang riset akademik.

“Eco enzyme sudah diuji mampu mengurangi bau amis dan membantu menjernihkan air. Ke depan bisa dikembangkan menjadi penelitian atau skripsi mahasiswa,” jelas dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian tersebut.

Menurutnya, teknologi eco enzyme sangat mudah direplikasi masyarakat. Bahkan, jika ditemukan inovasi baru dalam prosesnya, bukan tidak mungkin dapat dipatenkan.

Kegiatan Sedekah Eco Enzyme ini turut dihadiri jajaran pimpinan UNU Pasuruan, mulai Wakil Rektor I Suadi, Wakil Rektor II M. Yusuf, Direktur Akmal M. Khoirul Lutfi, perwakilan Indonesia Power, hingga anggota Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).

*Dosen UNU Pasuruan

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.