Manuk Glatik Cucuke Ireng, Mari Dilantik Ojo Meneng

13

“Ganok bedane. Jalan-jalan masih berlubang, bansos masih belum tepat sasaran, hukum masih tebang pilih, hampir semua pemimpin yang setahun lalu dilantik serentak itu, lebih sibuk ngonten dan tebar pesona di medsos daripada membuat program-program inovatif,”

Oleh: Abdurrozaq

Bagi “muallaf” seperti Mahmud Wicaksono, bulan Ramadan begini adalah bulan aji mumpung. Mumpung semua umat Kanjeng Nabi diperlakukan sebagai “orang dalam”, Mahmud Wicaksono ingin me-reset, upgrade sekaligus tune up diri, hati dan imannya. Memangnya dosa apalagi yang belum dilakukan tukang cukur itu selama setahun terakhir? Dosa-dosa mahal seperti nyabu, menyewa LC, judol atau rental cewek, memang tak pernah ia lakukan karena tak punya modal. Tapi dosa-dosa besar seperti ngersulo, ngerasani hingga maiduh pemerintah, hampir tiap saat ia lakukan. Bukankah kata Wak Mudin, ngerasani itu 36 kali lebih besar dosanya daripada rental cewek di aplikasi kencan?

Maka, seperti kata Cak Paijo LSM suatu kali, Ramadan adalah moment alim sebulan di antara tambeng setahun. Mahmud Wicaksono sang mantan santri pun, sekali lagi memanfaatkan moment tahunan ini untuk berlaku seperti belasan tahun lalu, saat ia menjadi santri. Ia mulai belajar sholat lagi, mushaf yang berdebu di rumahnya, kembali dibaca meski terbata-bata. Ia kembali ke surau setiap kali adzan terdengar. Dan yang paling radikal, ia berjuang untuk tidak ngerasani sebulan ini. Namun, tentu saja itu tak mudah. Setan memang sedang dibelenggu, namun bagi Mahmud Wicaksono yang sudah terlatih, tak perlu tutorial untuk membatalkan pahala puasanya dengan ngerasani, misalnya. Apalagi, setan jenis manusia—termasuk dirinya sendiri—kan masih bebas berkeliaran?

Setiap hari, Mahmud Wicaksono membuka lapak cukur rambutnya dengan perjuangan berat. Ia mencoba menghapus memori tentang harumnya kopi Cak Sueb saat berpadu dengan asap rokok eceran. Apalagi, secara formal warung Cak Sueb memang tutup, tapi bagi para musafir, atau katakanlah Cak Paijo LSM yang selalu bepergian mengawasi berbagai proyek pemerintah agar tak diselewengkan, mokel di warung Cak Sueb bisa saja terjadi. Soal mokel, mungkin bukan godaan terbesar karena hampir sepanjang tahun Mahmud Wicaksono terbiasa setengah puasa. Kalau lapak cukurnya sepi dan istrinya tak punya beras, ia setengah berpuasa. Kalau lapak cukurnya sedikit ramai dan harus bayar cicilan, Mahmud Wicaksono pun hanya berani beli rokok eceran atau ngampung rokok kawan-kawannya. Nah, yang paling berat adalah, godaan agar tak ngerasani.

“Tanggal 20 Pebruari ini, genap setahun sudah para kepala daerah kita dilantik. Tapi, apa hasilnya?” celetuk Cak Paijo LSM cari perkara. Wajahnya nampak segar, mulutnya basah dan kata-katanya terus nyerocos. Wallahu a’lam, entah Cak Paijo LSM sudah mokel atau poso beduk.

“Ganok bedane. Jalan-jalan masih berlubang, bansos masih belum tepat sasaran, hukum masih tebang pilih, hampir semua pemimpin yang setahun lalu dilantik serentak itu, lebih sibuk ngonten dan tebar pesona di medsos daripada membuat program-program inovatif,” lanjut Cak Paijo LSM. Mahmud Wicaksono sudah gatal ingin ikut rasan-rasan, tapi takut pahala puasanya habis.

“Kemarin di media sosial viral masalah sampah, masalah menyusutnya debit air pegunungan yang dikuras perusahaan air minum, masalah dana hibah dan kriminalisasi korban kejahatan. Tapi belum ada aksi nyata dari pemimpin daerah kita. Jadi ingat pantun manuk glatik cucuke ireng, mari dilantik langsung meneng,” celoteh Cak Paijo LSM.

Mahmud Wicaksono hampir gagal menahan keinginannya untuk ikut rasan-rasan. Sebab menurutnya, ia menjadi sarjana tapi miskin, punya banyak skill namun tak terpakai, pernah menjadi guru puluhan tahun tapi tak punya NIP tapi pegawai MBG hendak diberi NIP, memang kesalahan para penguasa. Tapi mau ikut rasan-rasan ia sedang berpuasa. Tepatnya belajar berpuasa.

“Kok dengaren tidak ikut bersuara, mas?” goda Wak Takrip.

“Takut ngerasani, wak,” ujar Mahmud Wicaksono.

“Kata Wak Mudin dulu, ngerasani hal yang sudah umum itu tidak apa-apa, mas. Kan memang para pejabat yang dilantik setahun lalu itu memang belum berbuat banyak?”

“Ah, masa ngerasani ada pengecualian, wak?” protes Mahmud Wicaksono.

“Bahkan menurut Gus Karimun, ngerasani itu boleh kalau untuk mendidik. Misalnya kita rasani pemerintah di HP, lama-lama kalau sudah terkenal, eh viral ta apa itu, kan akhirnya ditangani?”

“Iya juga sih, saya pernah dengar begitu. Tapi takutnya kebablasan, ngerasaninya yang bukan-bukan,” kata Mahmud Wicaksono.

“No viral no justice, mas…” Kata Cak Paijo LSM. “Kita rasani saja. Kalau bisa sampeyan tulis, sempeyan bikin konten kalau mereka yang sudah setahun dilantik itu belum berbuat banyak. Apa masih sibuk menata anggaran nyaur utang saat nyalon dulu?”

“Ya kita husnudhan dulu lah, barangkali beliau-beliau itu sebenarnya sudah bekerja sangat keras demi rakyat, namun belum terekspose juga,” lerai Mahmud Wicaksono.

“Lha, wong sekarang zaman medsos kok. Jangankan para pejabat itu melakukan hal penting, meresmikan kandang kucing saja sudah dibuat konten sama tim medosnya. Adipati kita saja selalu FYP videonya. Bahkan video tumbuh jerawat saja diunggah di berbagai platform medsos resminya. Sedangkan saat rakyat men-tag keluhan jalan rusak, melaporkan kades nakal atau masalah lain yang sangat urgent, jarang kok direspon. Saya sudah berkali-kali mention akun medsosnya untuk melapor jalan desa yang seperti sirkuit offroad ini, tapi nihil. Tidak gati seperti dulu saat mau nyalon,”

“Intinya, ya manuk glatik cucuke ireng itu. Setelah dilantik ya meneng,” timpal Wak Takrip.

“Kita husnudhan saja. Bisa jadi mereka yang sudah dilantik setahun lalu itu, bekerja dengan senyap sehingga belum kita rasakan juga hasilnya,” ujar Gus Karimun seraya tersenyum penuh arti.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.