fenomena sound horeg ini jangan-jangan melatih kita agar sedikit terbiasa kalau tak lama lagi ada kebisingan dari perut bumi, dari lautan, dari udara dan dari gunung. Atau kebisingan oleh ledakan rudal balistik. Guncangan sound horeg, bisa jadi merupakan alarm datangnya horeg-horeg lainnya yang akan menghoregkan bumi Nusantara, terutama di Jawa
Oleh : Abdurrozaq
Gus Karimun kembali membikin kontroversi. Padahal sudah lama kiai zuhud itu tidak melakukannya. Bagaimana tidak kontrvoversi, wong ia tiba-tiba mengajak Mahmud Wicaksono menonton, eh mendengarkan pagelaran akbar sound horeg. Apalagi, momentnya pas setelah pemilik sound horeg melontarkan kata mutiara kepada ketua MUI dalam sebuah acara televisi. Celaka, Mahmud Wicaksono yang bencinya setengah mati pada kebisingan, diajak ikut. Menolak segan, ikut tersiksa. Tapi akhirnya terjadi juga. Gus Karimun sukses membikin Mahmud Wicaksono ikut nonton sound horeg.
Tentu saja Gus Karimun berada di kerumunan penuh kebisingan itu bersama Mahmud Wicaksono. Ya ada dancer bohainya, ada pesta mirasnya, ada tawurannya. Ada tembok rontok dan kaca pecahnya. Pas tak kurang satu apapun. Ratusan orang penonton bahkan sempat salim dan mencium tangan Gus Karimun saat tiba di lokasi. Panitia bahkan sempat menghentikan alunan musik geredek-geredek itu demi menyambut Gus Karimun.
Mahmud Wicaksono gemetar. Jangan-jangan ini nanti di-framming seakan Gus Karimun mendukung sound horeg seperti mendiang KH. Abdurrahman Wahid yang dulu “membela” Inul Daratista. Sudah dapat dipastikan, akan ada ribuan postingan di media sosial paling norak dan paling barbar berlogo huruf F dan T. Celaka, ini bisa memberi kesan seakan Gus Karimun beseberangan dengan MUI, ulama, ormas Islam, pemerintah dan sebagian “orang waras” yang menolak sound horeg. Apalagi, Gus Karimun datang dengan pakaian paling formal. Pakai sarung, baju koko putih, songkok nasional, bahkan berkalung sorban hijau. Ini gawat.
Andai yang mengajak Cak Manap apalagi Cak Paijo LSM, pasti Mahmud Wicaksono sudah jotosan dengan keduanya. Sebab Mahmud Wicaksono adalah penganut keheningan. Ia suka musik, tapi musik rock, khususnya Metallica dan Guns N Roses. Kalau musik ndak jelas seperti itu, ia muak. Jangankan DJ geredek-geredek hasil generate AI khas sound horeg, dangdut koplo saja ia tak suka. Merusak pakem dangdut asli menurutnya. Dengan penuh siksaan, Mahmud Wicaksono menemani Gus Karimun menonton pagelaran sound horeg hingga dini hari.
Besoknya, kampung heboh. Para ustad kampung, kubu SDM tinggi dan siapa pun yang pernah merasa dirugikan pagelaran sound horeg, bisik-bisik ngerasani Gus Karimun.
“Katanya wali, kok nonton sound horeg?” Kata entah siapa.
Di warung Cak Sueb, ketika Gus Karimun belum datang, Mahmud Wicaksono diinterogasi oleh banyak orang. Kubu pro sound horeg yang dikomandani Cak Paijo LSM, sampai membelikan Mahmud Wicaksono dua pak rokok, mentraktrik kopi dan mie rebus. Sedangkan kubu yang kontra sound horeg seperti Cak Manap, terangan-terangan mencecar Mahmud Wicaksono seperti drama penyidik kepada koruptor.
“Di sana Gus Karimun lapo, mas?”
“Duduk-duduk di warung kopi,” jawab Mahmud Wicaksono.
“Ada dancer bohainya?”
“Iya. Malah Gus Karimun sempat merangsek ke depan panggung tempat para dancer.”
“Apa sih maksudnya Gus Karimun ini?” Gerutu Cak Manap.
“Itu tanda kalau Gus Karimun merestui sound horeg, cak,” cerocos Cak Paijo LSM tanpa diminta.
“Katanya sedang topo ngerame, cak. Melatih keheningan di tengah hingar bingar,” ujar Mahmud Wicaksono.
Untungnya, Gus Karimun tiba-tiba muncul di warung kopi. Seakan tahu ia harus segera mengkonfirmasi.
“Soal saya nonton sound horeg ya?” Tanya Gus Karimun kepada semua orang.
“Iya, gus. Gus Karimun merestui sound horeg, kan?” Cerocos Cak Paijo LSM.
“Merestui bagaimana, lha wong saya bukan siapa-siapa. Kenapa harus meminta restu saya?”
:Kalau sampeyan ikut nonton, berarti sampeyan menolak fatwa keharaman sound horeg dan menolak perda secara halus, gus,” ujar Cak Manap.
“Gini lho,…” ujar Gus Karimun seraya menyeruput kopi Mahmud Wicaksono dan melolos sebatang rokok Mahmud yang ditraktir Cak Paijo LSM.
“Saya ini bukan siapa-siapa, jadi saya bebas to? Saya nonton sound horeg ini murni karena saya ingin melatih konsentrasi. Masih bisa nggak, dzikiran sambil mendengarkan dentuman sound horeg?” Semua orang mulai diam menyimak.
“Ingat ya, saya bukan menghalalkan atau mengharamkan sound horeg. Saya tidak menghujat dan tidak mendukungnya. Bahkan saat nonton sound horeg tadi malam, saya mendoakan kita semua agar polemik ini segera mendapatkan titik temu. Dan itu win-win solution. Saya memohon kepada Allah dan syafaat Rasulullah, semoga pengusaha sound horeg tetap laris, UMKM tetap berjalan, dancer segera mendapat jodoh, sekaligus masyarakat yang kontra kembali mendapat ketentraman mereka.”
“Ndak bisa, gus,” protes Cak Manap. “Sound horeg dan ketenteraman masyarakat itu hitam dan putih. Tak mungkin bisa ada titik temu. Masyarakat akan kembali tenteram jika sound horeg dilarang!”
“Gini lho, cak. Sound horeg ini sebenarnya pelarian masyarakat dari depresi dan putus asa massal. Melihat geopoltik yang membuat ekonomi seret, menyaksikan sirkus politisi kita, mendengar maling uang negara tak ada kapoknya, melihat oligarki mengatur negara, kejahatan jalanan, berbagai masalah sosial dan pertengkaran kita di media sosial, masyarakat muak dan membutuhkan pelepasan. Salah satunya ya sound horeg ini.”
“Demo tidak didengar, istri selalu cemberut karena uang belanja kurang, anak-anak makin tidak nurut akibat diberi makan syubhat, pasangan semakin gemar judol atau selingkuh. Daripada terkena stroke atau kendat, masyarakat entah bagaimana mulanya, melampiaskan semaunya dengan hura-hura sesaat sambil joget-joget saat ada sound horeg.”
“Tapi itu sangat menggaggu orang yang tak suka kebisingan, gus,”
“Knalpot grong, konvoi pesilat, pengajian menutup jalan, suara toa tempat ibadah di luar waktu ibadah, orang hajatan bahkan kampanye politik juga bising lho, cak. Kalau mau adil-adilan, ya harus ditertibkan semuanya,” ujar Gus Karimun.
“Dan firasat saya, fenomena sound horeg ini jangan-jangan melatih kita agar sedikit terbiasa kalau tak lama lagi ada kebisingan dari perut bumi, dari lautan, dari udara dan dari gunung. Atau kebisingan oleh ledakan rudal balistik. Guncangan sound horeg, bisa jadi merupakan alarm datangnya horeg-horeg lainnya yang akan menghoregkan bumi Nusantara, terutama di Jawa. Ibaratnya gladi bersih menghadapi megatrust atau perang nuklir yang jauh lebih horeg.”
“Ya jangan lah, gus.”
“Makanya mari iling lan waspada. Ada asap ada api. Ada pagelaran sund horeg karena ada yang menonton. Ada penguasa korupsi karena ada rakyat yang mau disogok saat pemilu. Kita perlu melakukan ruwatan massal, terutama meruwat ruh kita masing-masing.”






















