Dana Desa dan Orkes Dangdut

0
3

Dalam rangka merespon niat baik Bank Dunia, disahkanlah program dana desa entah atas usul siapa. Tujuannya antara lain, memasang keramik di halaman-halaman pemukiman penduduk, memasang marmer di jalan-jalan desa, memasang PJU di kebon-kebon dan kuburan, menyokong “rapat rutin” para perangkat desa di warung kopi serta tujuan mulia mengurangi angka pengangguran para aktivis dengan diangkat sebagai pendamping.

Karena pentingnya program tersebut dan karena dijunjungnya demokrasi, kepala desa  mengumpulkan para tokoh desa sekalian beberapa “aktivis kampung” untuk bertukar pendapat. Cak Manap juga diundang karena ia dianggap pemegang hak veto segenap informasi di kampung. Warung kopi Cak Manap adalah kantor berita, maka kalau ia tidak diajak berembuk, dikhawatirkan malah memfasilitasi konspirasi kontraproyek.

Firman Murtadho jelas diundang karena rakyat yang satu ini multi talenta. Bukan siapa-siapa, tapi gagasan nyelenehnya bisa mengganggu stabilitas desa kalau ia tidak “dilibatkan”, minimal sebagai jangkep-jangkep. Mahluk ini memiliki bakat untuk menjadi motivator, tukang kipas bahkan kadang-kadang korlap barisan sakit hati. Kepala desa dan para perangkat mencurigainya memiliki tekanan mental setelah bertahun-tahun menjadi pekerja sosial dengan mencerdaskan bangsa namun belum begitu diurus oleh negara.

Ustadz Karimun juga diundang. Sebagai penasehat syariat dan diharap mencari alternatif hukum fikih enteng-entengan. Kepala desa bahkan telah siap “beramah tamah” agar Ustadz Karimun mencari fatwa tentang kehalalan rokok dan kopi yang dibeli dari dana desa.

Mas Bambang, meski sering menjadi figuran, harus diundang karena ia abdi negara. Barangkali nanti bisa memperkuat posisi kepala desa jika rembugan macet.

Ruang pertemuan balai desa telah ramai oleh para undangan. Kopi di ceret dituang pada gelas lalu segera di-ider kepada para undangan rapat. Setelah kepala desa memberi sambutan pendek-pendek dan sedikit kurang ilmiah, rapat resmi dibuka.

Pak Carik memaparkan beberapa program yang akan didanai dengan dana desa.

“Kami segenap perangkat sebelumnya telah berembuk, salah satu program yang akan kita lakukan adalah pavingisasi, pembangunan jalan dengan hot mix, pemasangan PJU, pembangunan selokan umum untuk menampung limbah air rumah tangga serta yang paling penting, adalah pengeboran sumur artesis agar masyarakat tak perlu memasang pompa air di rumah. Tapi ini sekedar rembugan kecil. Nah, bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian kami undang, adalah dalam rangka urun rembug pelaksanaan program-program tersebut.” Semua yang hadir mulai bisik-bisik.

“Ini sosialisasi apa rembugan, cak?” gerutu Cak Soleh. Cak Sulhan yang diajak ngerasani malah sibuk dengan jajan longgosari.

“Lha kalau sampeyan kurang sepakat, langsung interupsi sana” kata Firman Murtadho, mulai memprovokasi. Cak Soleh yang berkali-kali menjadi tim sukses saat pemilu langsung mekar.

“Semua programnya kok hanya membangun infrastruktur, ya? Peningkatan SDM, atau paling tidak meningkatkan taraf ekonomi rakyat, kok belum ada? Kalau rakyat sejahtera kan, insya Allah, anak-anak tidak perlu ngamen tiap malam.” Firman makin menjadi.

“Apalagi program pengeboran sumur artesis itu, air tanah dibuang percuma. Anak cucu kita bagaimana nanti?” Timpal Cak Sulhan setelah menggasak tiga potong jajan longgosari sekaligus. Cak Soleh makin terbakar. Maka sebelum Pak Carik menyelesaikan sosialisasinya, ia sudah mengacungkan tangan.

“Interupsi, Pak Carik!”

Monggo!” jawab Pak Carik seraya ketap-ketip.

“Kami para warga, khususnya saya, kurang setuju dengan kebanyakan program yang panjenengan paparkan tadi.” Kepala Desa langsung mbrabak abang, wajahnya merah padam.

“Apa alasan sampeyan, cak?” kata kepala desa meski sesi tanya jawab belum dibuka secara resmi.

“Karena hampir semua program tadi malah akan menimbulkan efek samping, pak.”

“Maksud sampeyan?” kata kepala desa.

“Pavingisasi memang sangat bagus karena membuat jalan tidak becek. Tapi saya khawatir kalau hujan akan menyebabkan banjir karena air hujan tidak menyerap ke dalam tanah. Nah kalau air hujan menggenang, nyamuk banyak, bisa menyebabkan demam berdarah, chikungunya dan zika. Lagi pula akan memperparah pemanasan global karena kalau dipaving, halaman tidak bisa ditanami pepohonan. Pavingisasi berdampak domino bahkan terhadap ketahanan pangan karena masyarakat tak bisa menanam lombok, terong, pohon kelor, pohon manga, pohon rambutan, blimbing wuluh. Itu juga bisa meningkatkan jumlah perceraian karena masyarakat akan semakin konsumtif karena semua keperluan harus membeli. Dan kalau para suami kurang kreatif dalam meningkatkan penghasilan, angka perceraian akan –semakin—meningkat.”

“Ah, sampeyan ini ada-ada saja.” Timpal kepala desa seraya tersenyum untuk mencairkan suasana. “Kok jauh benar hubungan pavingisasi dengan perceraian segala.” Tambahnya.

Tapi Cak Soleh belum selesai. “Bahkan, program-program yang diutarakan pak carik tadi dikhawatirkan membuat keadaan lebih gawat. Contohnya, program pengaspalan jalan dengan hot mix, saya khawatir akan menambah angka kecelakaan lalu lintas di kampung kita.”

“Program ini justru untuk mengurangi kecelakaan karena jalan berlubang, cak.” Jawab kepala desa.

“Korban kecelakaan lalu lintas karena karena jalan berlubang tak seberapa besar, pak. Justru kalau jalan desa kita hot mix, korban akan makin banyak.”

“Kok bisa?”

“Karena balap liar akan makin marak dan mobilitas saudara-saudara begal akan makin lancar.” Pak kepala desa saling pandang denga pak carik.

“Usul saya sebagai masyarakat, kalau bisa dana desa kita gunakan bukan hanya untuk membangun infrastruktur karena bisa mubaddzir. Sebaiknya tidak untuk memasang jaringan wi-fi gratis agar anak-anak tak semakin rajin men-down load film-film berlendir. Sebaiknya tidak membangun poskamling agar anak-anak cangkrukan di surau. Sebaiknya juga bukan membangun pagar sepanjang jalan desa biar anggaran tidak semakin membengkak, karena tiap bulan harus mengecat kembali setelah diorat-oret grafiti. Apalagi memasang lampu PJU, tiap bulan kita akan mengganti bohlam karena selalu ada yang “mengamankannya”. Apalagi membangun plengsengan sungai, itu akan membuat masyarakat berpikir bahwa sungai adalah bak sampah raksasa”

“Bagaimana kalau membangun sarana nonfisik seperti perpustakaan, balai latihan kerja atau pinjaman modal bagi UKM?” tawar pak carik.

“Jangan, pak. Kalau kita bikin perpustakaan, buku-bukunya bisa habis dimakan rayap. Dilatih skil dan diberi peralatan kerja, masyarakat belum punya jiwa interpreneur. Diberikan pinjaman modal malah bisa-bisa dibelikan tv buat nonton sinetron atau beli hp agar bisa terus berselancar di dunia maya.”

“Lantas untuk apa dana desa yang ratusan juta ini?” pak kepala desa mulai sedikit pening.

“Buat nanggap orkes setiap tujuh belasan, agar masyarakat terhibur dan melupakan penyakit pening yang tak pernah sembuh itu.”

(Penulis: Abdur Rozaq)