15:11 - Minggu, 23 November 1434
Sabtu, 8 April 2017 | 14:17

Ujian Nasional Simsalabim

Ada baiknya juga MK tidak mengabulkan gugatan penghapusan UN. Sebab menghadapi orang Indonesia ini repot. Kalau UN dihapus dan kelulusan siswa diserahkan sepenuhnya pada sekolah, nanti makin banyak berita wali murid njotosi guru karena tidak meluluskan anaknya sekaligus  dinilai ndak profesional. Atau sebaliknya, sekolah makin rajin menggunakan mantera simsalabim untuk merubah nilai ujian, merubah absensi siswa serta membikin SKHU ajaib. Kalau masih ada UN kan, kelulusan siswa bejo-bejoan.

Tergantung dari belas kasihan scanner LJK di Jakarta sana. Guru tinggal mengajak para siswa mengadakan istighotsah bersama dan rutinan balap liar, lembur di warung ber-wifi, ngeloni gadget, pacaran di semak-semak atau mbolos bisa tetap jalan.

Cak Manap sudah lama ribut sama Hendri, anaknya. Cak Manap heran karena sampai mepet UN, anaknya tetap rutin keluar malam entah “majlisan” di mana. Anak-anak sekarang kan metuwek, masih bau bawang sudah doyan ngopi sambil misuh-misuh main game online. Di pikiran Cak Manap yang kuno bin kolot, jelang ujian ahir kelulusan itu ya, mestinya belajar mati-matian. Sebab Cak Manap ndak tahu kalau perjuangan keras mencapai kelulusan, sepenuhnya sudah dipikul oleh guru.

unas-online-pasuruan

Tapi bukan memberi jam tambahan belajar atau intens mendalami materi khusus. Guru harus lincah mencari  “kunci T ” jawaban soal UN agar anak didiknya lulus 100% dan pada saat pengumuman kelulusan mereka bisa konvoi seraya corat-coret seragam. Kelulusan siswa adalah tanggung jawab sekolah dan guru, karena nama baik sekolah mempengaruhi jumlah pendaftar saat ajaran baru. Jadi, menjelang dan saat UN, guru bekerja ekstra keras sementara siswa tetap bisa rutin balap liar, majlisan wi-fi, kenduren pil untuk kucing, kencan di kebun pisang atau misuh-misuh main game.

“Ndak usah khawatir, cak. Pasti lulus, kok” tegur Firman Murtado.

“Mau lulus bagaimana wong ndak pernah pegang buku?” semprot Cak Manap.

“Sudah, terima beres saja. Wong cuma ujian pre memori, kok. Ndak serius. Mau dihapus ya eman proyek cetak soalnya” sambung Firman Murtado.

“Masa begitu?”

“Iya. Sudah lama begitu.”

“Lha kalau begitu apa ndak lebih baik dihapus saja, ndak pakai UN?” timpal Gus Hafidz.

“Ya terlalu mencolok, gus. Kalau masih ada teaterikal UN kan terlihat agak alami? Makanya jangan heran kalau setelah lulus anak-anak hanya punya keahlian nggregetno ati.”

“Katanya sudah gonta-ganti kurikulum, menghabiskan triliyunan rupiah juga, kenapa kok masih begitu?” heran Gus Hafidz.

“Ya karena semuanya pihak kompak, belum mau dunia pendidikan kita lebih maju. Para guru pusing karena budrek mikir segala hal. Yang swasta malah budrek mikir profesi sampingan agar tetap bisa nempur beras. Yang militan mau mendidik dengan serius, takut dipolisikan wali murid kalau menjewer siswa. Yang idealis kepingin menggunakan berbagai metode pembelajaran modern, siswanya kurang nyambung. Entah karena pelajar di Indonesia ini kurang gizi, atau memang syaraf otak pelajar kita putus oleh pil kucing? Zaman sekarang, pintar itu aib, gus. Bisa dianggap sebagai siswa sok suci atau sok tahu. Siswa kutu buku bisa menjadi bahan gunjingan karena dicurigai bukan orang Indonesia asli. Siswa yang ndak pernah balapan, over dosis atau aborsi, dicurigai ndak nasionalis.” Firman Murtado tahu banyak karena ia memang bekerja di PT. Masa Depan Suram.

“Kalau gurunya sejahtera mungkin bisa lebih baik, mas?” tanya Gus Hafidz.

“Belum tentu, gus. Yang sudah punya NIP saja masih sering meninggalkan kelas. Para siswa diberi tugas karena sang guru sedang meeting di kantin. Rapat membahas masa depan para janda atau ngerasani kepala sekolah.”

“Apa karena pelajar sekarang kebanyakan ndlurung, mas?” terka Gus Hafidz.

“Betul. Itu salah satu alasan kenapa guru makin aras-arasen mengajar dengan profesional. Anak manusia zaman sekarang  naudzu billah. Seakan para guru dibayar untuk menjadi bulan-bulanan para siswa atau jadi samsak wali murid. Biang keroknya ya undang-undang HAM-burger itu.”

“Jadi guru sekarang harus kedot, gus. Harus bisa jaga diri karena keselamatannya terancam. Mau ndak dihukum nakalnya bukan  main, kalau dihukum orang sekarang suka wadul LSM. Jadi kalau menjewer siswa bisa dipenjara, enakan dipalu sekalian. Jadi meski dipenjara kan lego? Daripada menjewer dipenjara, kan lebih baik mesisan dipalu, biar impas.”

“Waduh, makan hati ya jadi guru?”

“Bisa mati ngadek, gus. Sibuknya bukan main, upahnya hanya cukup buat beli sabun. Pemerintah juga selalu ngeriwuki dengan tuntutan admimistrasi. Guru sekarang, tiap malam harusnya utek-utek laptop bikin dokumen macam-macam. Dan yang paling makan hati, adalah tabiat murid sekarang yang naudzu billah itu. Nakal sih boleh asal berprestasi. Lha kebanyakan anak sekarang, nakalnya bukan main, prestasinya hanya di bidang ilmu biologi dan fisika. Keahliannya hanya praktek mencampur sel telur dan sel sperma, mengukur kecepatan rotasi ban motor di aspal atau praktek reaksi kimia alkohol atau zat terlarang.  Apalagi yang sudah terlanjur suka nyemil pil buat kucing, masya Allah, dibina dan dididik bagaimana pun takkan berhasil. Lha wong syarafnya sudah pedot.”

“Kalau murid perempuan mungkin lebih bisa dikendalikan, ya mas?” terka Gus Hafidz.

“Brutalnya ndak, tapi hormon testosteronnya lebih gawat. Anak gadis sekarang malah jauh lebih “dermawan” daripada anak laki-laki, kok. Kehormatannya bisa diinfakkan buat siapa saja.”

“Kira-kira bagaimana agar bisa sedikit dibenahi?” tanya Gus Hafidz.

“Kita sebagai orang tua yang harus tirakat. Stop uang riba. Stop memberi makan mereka dengan uang ndak jelas. Kalau sunnah rasul malam Jum’at baca bismillah biar anak kita ndak blasteran sama genetika setan. Khusus bagi orang tua posesif yang suka lapor polisi hanya karena anaknya dijewer, saya sarankan bikin sekolah sendiri atau sekali-kali jadi guru.”

“Masya Allah tragis ya dunia pendidikan kita?” heran Gus Hafiz.

“Sudah lama, terutama setelah anak-anak nakal dilindungi undang-undang HAM-burger, gus.”

“Terus bagaimanaa dengan UN tadi?” sela Cak Manap.

“Pasti lulus, cak. Meski soal UN direkayasa agar tak dibobol, meski soal dikawal polisi dan ujian diawasi, pasti lulus karena dokumen paling rahasia pun, di Indonesia Raya ini pasti ada duplikatnya.”

Penulis : Abdur Rozaq / wartabromo

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Sang Jeragan Layangan Langit

Almarhum Pasar Manuk Kebonagung