Membangun Kolaborasi Menyelamatkan Bumi

0
140
KOLABORASI: Petani melakukan perawatan dengan membuat sekat bakar di kawasan hutan Arjuno, Pasuruan. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi para pihak dalam pengelolaan hutan.

Ancaman dampak pemanasan global semakin nyata. Perubahan cuaca secara ekstrem, kenaikan muka laut, serta gangguan pertanian yang berpotensi mengancam sistem ketahanan pangan adalah indikasi paling konkret. Kolaborasi antar pihak mutlak dilakukan untuk menyelamatkan bumi.

 

Laporan: Mochammad Asad

ISTILAH pemanasan global sudah cukup sering disebut dalam kurun dua dasawarsa belakangan ini. Akan tetapi, harus diakui, istilah itu belum cukup populer di kalangan masyarakat awam. Karena itu, diperlukan pemahaman agar bisa dimengerti dalam bahasa sehari-hari.

Pemanasan global (global warming) merupakan fenomena meningkatnya suhu atmosfer dan permukaan bumi yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang dimaksud seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrooksida (N2O), sulfur heksafluorida (SF6), dan juga unsur-unsur kimiawi lainnya.

Sudiono, pegiat dari Yayasan Satu Daun mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan pemanasan global semakin meningkat. Diantaranya, kian menyempitnya kawasan hutan, pembakarkan sampah, meningkatnya emisi karbon dioksida dari kendaraan/industri, hingga peningkatan penggunaan pupuk kimia.

“Tentu juga adalah meningkatnya efek gas rumah kaca, yang pada akhirnya membuat lapisan atmosfer semakin panas, yang pada menyebabkan suhu di bumi juga semakin panas,” terang Dion, sapaan akrabnya.

Nah, dampak dari pemanasahan global itu yang ini banyak terjadi di sejumlah tempat. Diantaranya, berubahnya cuaca secara ekstrem dan sulit diprediksi, meningkatnya muka air laut yang ditandai dengan maraknya banjir rob di sejumlah titik, terjangan angin puting beliung yang semakin intens, hingga menurunnya produktivitas pertanian. Jika dirunut, kata Dion, hal itu merupakan dampak dari pemanasan global yang sedang terjadi.

Untuk memperbaikinya, jelas bukan pekerjaan mudah. Butuh sinergi dan kolaborasi antar pihak agar bumi yang dipijak tidak semakin rusak. Dan, hal itu pula yang sedang kami lakukan saat ini. Membangun kolaborasi dengan multi pihak. Mulali swasta (perusahaan), pemerintah, akademisi, aktivis dan juga kelompok-kelompok tani, terangnya.

Kolaborasi dikatakan Dion menjadi salah satu kunci guna mewujudkan tata kelola lingkungan yang labih baik. Dengan menjalin kolaborasi, masing-masing pihak mendapat peran sesuai kapasitas yang dimilikinya masing-masing. Seperti yang dilakukannya selama ini.
Menurut Dion, ada banyak program dan kegiatan yang telah dilakukan dengan melibatkan multi sektor tersebut. Mulai dari konservasi hutan, pelaksanaan hutan asuh, hingga penguatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi kelompok-kelompok tani di masyarakat. Semua berjalan berkelindan.

Konsepsi hutan asuh adalah salah satu program yang menjadi andalan Satu Daun. Melalui program ini, usaha konservasi dilakukan dengan melibatkan sektor swasta (perusahaan) sebagai penjamin pembiayaan. Menariknya, tanggung jawab itu bukan hanya terbatas pada penyediaan bibit, tapi juga kebutuhan ekonomi para petani sekitar hutan.

Menurut Dion, ada uda tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan program ini. Pertama, menjamin kepastian bahwa konservasi yang dilakukan berjalan maksimal. Sebab, dalam banyak kasus, proses konservasi yang berjalan hanya sebatas pada konsep tanam-tinggal. Artinya, tidak ada pemantauan apakah pohon yang ditanam tumbuh sesuai harapan atau sebaliknya, malah mati.
Berangkat dari sanalah konsep hutan asuh itu ditawarkan. Kehadiran swasta (perusahaan) semata untuk menjamin pertumbuhan bibit yang ditanam melalui petani asuh. Terutama, mereka yang memang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Seperti menjadi pesanggem atau pembuat arang.

Karena petani asuh dipilih dari mereka yang menggantungkan hidupnya dari hutan, bisa dikatakan, konsepsi hutan asuh ini sekaligus menjadi pekerjaan pengganti bagi para petani. Para petani mendapat penghasilan pengganti dari aktivitasnya merawat hutan. Yang biaya, ditanggung oleh swasta tersebut.

SR-CSR Manager, PT Tirta Investama Pasuruan, Fafit Rahmat Aji mengatakan, konservasi hutan melalui konsep hutan asuh akan memberikan garansi terhadap perkembangan pohon yang ditanam. Selama empat tahun berjalan, total 40 hektare lahan ditanami pohon dengan skema hutan asuh.

Menurut Aji, dari angka itu, 30 hektare di kawasan hutan lindung Blumbang Watu, Perhutani. Termasuk Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Sedangkan sisanya, 10 hektare di kawasan hutan lindung Tungwulung, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen dengan rata-rata ketinggian 1100 Mdpl.

Menurut Aji, sapaan Fafit Rahmat Aji, selain hutan asuh, program penanaman reguler juga terus berjalan. Jika dihitung, rata-rata per tahun, ada sekitar 40 ribu bibit yang ditanam di kawasan hutan. Dimulai dari hutan di kawasan lereng Gunung Arjuno, hingga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang mencapai 17 hektare.

Aji menjelaskan, usaha untuk membantu pengurangan dampak global warming bukan hanya melalui konservasi lahan hutan. Sebab, usaha yang sama juga dilakukan di lingkungan pabrik. Yang paling nyata, adalah langkah penghematan listrik guna mengurangi penggunaan bahan bakar berbahan fosil.
Dikatakan Aji, pada 2012 lalu misalnya, pihaknya mampu menghemat penggunaan listrik sebesar 871,53 Mwh; 2013 l sebesa 5.217,79 Mwh; 2015 sebesar 1.912,83 Mwh. Lalu pada 2016 sebesar 884,67 Mwh.

Nah, usaha tersebut diyakini cukup berhasil. Paling tidak, berdasar perhitungannya langkah efisiensi itu mampu menekan gas emisi karbon (CO2) hingga ribuan ton. Misalnya, pada 2012, sebanyak 428, 73 ton; 2013 sebesar 3.716,5 Ton; 6.48 pada 2015, dan 2016, sebesar 1.416,38 ton. Data ini merujuk pada hasil kajian yang dilakukan Universitas Yudharta, Pasuruan, salah satu perguruan tinggi yang dilibatkan dalam program ini.

Artinya, sekecil apapun usaha yang kita lakukan, sebenarnya mampu berdampak pada pengurangan emisi karbon itu sendiri. Bayangkan kalau misalnya itu juga dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita, jelas Aji.
Pegiat lingkungan dari Yayasan Satu Daun Sudiono mengungkapkan, selain Universitas Yudharta, beberapa kampus lain juga digandeng. Diantaranya, Universitas Brawijaya (UB) Malang, dan juga Universitas Merdeka, Pasuruan. Ketiganya bertugas memasok data-data penelitian terkait kondisi terkini hutan dan juga impact dari apa yang sudah dilakukan, jelas Dion.

Koordinator Program dari LPPM Universitas Yudharta Pasuruan, Amang Fatkhurrohman mengatakan, fenomena pemanasan global saat ini telah memberikan dampak yang luar biasa. Bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Karena itu, butuh komitmen semua elemen untuk mewujud tata lingkungan ke arah yang lebih baik.
Dampak yang paling nyata adalah iklim atau cuaca yang kerap berubah secara ekstrem. Bencana juga terjadi dimana-mana, dan intensitasnya juga semakin tinggi, terang Amang saat dihubungi melalui sambungan seluler.

Dikatakan Amang, pada 2009 silam, pemerintah memang telah manergetkan pengurangan efek gas rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020 mendatang. Akan tetapi melihat kondisi saat ini, ia pesimistis target itu dicapai. Apalagi, dalam waktu yang sama, kegiatan alih fungsi lahan terus terjadi. Sekitar 0,4 hektare per tahun pada 2011, dan meningkat 0, 84 per tahun pada 2012.

Karena itu, Amang pun menegaskan, peran para pihak sangat diperlukan dalam upaya mewujudkan tata kelola lingkungan yang lebih baik. Termasuk pula, membangun kesadaran yang searah kepada publik akan dampak rusaknya hutan dan juga efek rumah kaca. Dengan begitu, mereka juga bisa melakukan kerja-kerja mandiri agar dampak dari perubahan iklim itu tidak semakin parah.

Pegiat Yayasan Satu Daun, Sudiono menambahkan, salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah dengan menggalakkan kembali hutan rakyat melalui gerakan sengonisasi (penanaman pohon sengon, Red). Selain efektif mengurangi peningkatkan karbon (CO2), hal itu juga bermaafaat dari sisi ekonomi mengingat pasar dan permintaan kayu sengon juga cukup besar. Dan ini tidak hanya dilakukan wilayah dataran tinggi. Tapi, di lahan-lahan masyarakat di dataran rendah juga bisa dilakukan, jelas Sudiono. (*)