Yuk, Berwisata ke Museum: Catatan di Hari Museum Nasional

0
421

Oleh: Widya Andriana

Momentum itu terjadi pada Mei 2015 silam. Ratusan pengelola museum dari seluruh Indonesia menggelar pertemuan di Kota Malang. Hasil pertemuan itu pun cukup monumental; sepakat menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Museum Indonesia.

Penetapan tanggal 12 Oktober itu merujuk pada gelaran Musyawarah Museum se Indonesia (MMI) 12 Oktober 1962 di Yogyakarta. Itu adalah kali pertama para pengelola musem menggelar temu akbar se-nusantara.
Separo abad lebih pertemuan itu telah berlangsung. Kini, museum di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hingga saat ini tercatat lebih dari 350 museum yang telah terdaftar di Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Dengan ragam keunikannya.

Salah satu museum yang layak untuk dikunjungi karena keunikan koleksinya adalah museum Etnografi atau lazim oleh orang kebanyakan disebut dengan Museum Kematian. Museum Etnografi ini terletak di Universitas Airlangga (kampus B) di Jalan Darmawangsa Dalam, Surabaya. Lokasi museum tepat di depan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan bernaung di bawah Departemen Antropologi.

Kehadiran museum itu seolah ingin mendekontruksi arti kematian. Sebab, bagi sebagian orang, membicarakan tentang kematian dirasa menakutkan. Karena kematian berhubungan dengan kesedihan, perpisahan, rasa kehilangan, atau hal yang tak kasat mata seperti hantu sehingga tabu untuk dibicarakan.

Kematian menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Kematian bisa menceritakan tentang sosial budaya suatu masyarakat yang tercermin dari ritual-ritual yang dilakukan dalam prosesi kematian.
Di Museum Kematian Universitas Airlangga ini, kita dapat menyaksikan bahwa kematian hadir dalam beragam makna. Begitu kita memasuki pintu masuk museum suasana “kematian” begitu kental. Bukan saja oleh aroma dupa yang dibakar, tapi juga ornamen replika berupa tengkorak dan kerangka manusia bergaluntungan di langit ruangan.

Meskipun begitu, suasana dalam museum didesain sedemikian rupa supaya tidak nampak menyeramkan, cozzy dan sejuk. Tidak ada tiket masuk ke museum karena memang museum ini dibuka gratis untuk siapa saja yang ingin berkunjung. Ada 2 petugas museum yang akan menyambut kita dengan ramah, membantu dan mengantarkan kita berkeliling museum.

Sebagai Pusat Kajian Etnografi di bawah Departemem Antropologi FISIP Unair, membantu pengunjung untuk memahami kematian dalam siklus hidup manusia. Disini, pengunjung yang datang bisa mengerti berbagai macam koleksi alat-alat saat prosesi, replika mumi dari berbagai macam suku di Indonesia, replika makam dari Trunyan, replika mumi dari Toraja. Bahkan, juga disediakan sebagai foto booth bagi pengunjung museum, tengkorak dan rangka asli manusia, replika tengkorak manusia jaman purba.

Dan, yang tak kalah menarik adalah tampilan Infografis colourfull yang berhubungan dengan kematian. Semuanya ditujukan untuk pembelajaran mengenai kematian dan bagaimana raga manusia setelah kematian terjadi. Koleksi-koleksi ini diperoleh dari hibah beberapa tokoh yang konsern terhadap antropologi juga hibah kepolisian.

Ide pendirian Museum ini berasal dari dua orang sahabat yang sama-sama menukuni ilmu antropologi. Adalah Dr.drg.A.Adi Sukada ahli antropologi budaya dan Prof. Dr. Habil Josef Glinka,SVD ahli antropologi ragawi yang ingin menyatukan konsep itu kedalam suatu pusat kajian (museum). Disepakati lah perpaduan antara antropolgi budaya dan antropologi ragawi, suatu tema tentang kematian.

Dalam sebuah kematian, unsur sosial budaya akan tampak pada saat proses pemakaman, misalnya jumlah hewan yang akan disembelih pada saat prosesi (suku Toraja) atau megah-nya suatu upacara (ngaben di Bali), menunjukkan status sosial di masyarakat. Antropologi ragawi akan menjelaskan apa yang terjadi pada raga saat kematian terjadi.

Antropologi forensik dan paleoantropologi juga menjadi salah satu sudut yang menarik di museum ini. Dr. Toetik Koesbardiati yang saat ini menjadi kepala Museum Etnografi menerangkan, dari antropologi forensik ini sangat membantu ketika ada kasus-kasus ditemukan mayat atau kerangka manusia. “Dari rangka manusia bisa direkontruksi untuk menentukan ras, usia, tinggi badan, jenis kelamin juga penyebab kematian. Paleoantropologi berperan untuk menentukan kematian ini disebabkan oleh kekerasan atau penyakit apa, bahkan apakah penyakit itu diobati atau tidak saat masih hidup, bisa jadi akan tampak saat rekonstruksi,” papar Toetik yang menempuh pendidikan doktornya di Hamburg Universitaet di Jerman.

Meski sudah dua kali pernah menyabet juara nasional sebagai museum “unik”, Museum etnografi ini masih berencana untuk memperluas ruangan guna menampung koleksi koleksi lain yang tidak dapat di-display saat ini.

Museum ini juga menyediakan buku-buku yang berkaitan dengan antropologi, manusia pra sejarah, suku dan adat istiadat di Nusantara yang berkaitan dengan kematian dan proses pemakaman. Pengunjung di persilahkan untuk membaca di tempat koleksi buku Museum Antropologi ini.

Museum ini sangat cocok untuk kalangan dan segala usia dan lapisan mayarakat, terlebih untuk mahasiswa yang sedang melakukan riset yang berhubungan dengan antropologi.

Berkunjung ke tempat wisata tentu kurang lengkap apabila tidak membawa oleh-oleh dan souvenir. Di museum etnografi juga disediakan sudut souvenir yang menjual T-shirt dan tote-bag untuk pengunjung.

Penasaran? Pengunjung bisa datang kapan saja selama jam buka. Yakni, dari hari Senin-Jumat pukul 09.00-16.00 WIB. (*)