Memeras Peluh, Menggali Rupiah di Batu Cadas

372
Menggali - Salah seorang penggali batu paras di Desa Sedarum, Kecamatan Nguling, Sabtu (12/5/2012))

Nguling (wartabromo) – Menyaksikan bagaimana kerja keras sekelompok penggali batu paras di Desa Sedarum, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan sungguh bertolak belakang dengan gaya gidup para pejabat yang glamor dan hedon. Memeras peluh di bawah sengatan terik matahari, mereka menggali batu cadas yang keras untuk mendapatkan balok demi balok batu paras.

Seperti tidak kenal lelah, pelan dan sabar para penggali menghunjamkan linggis dan menghentakkan skop ke batu cadas yang keras. Setiap hari, tidak kenal berhenti mereka bergelut dengan tanah, batu dan alat-alat sederhana mengumpulkan satu demi satu balok batu yang biasa digunakan sebagai pengganti batu bata.

Untuk menghasilkan sebuah batu paras yang siap jual, para penggali bisa menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sebuah batu paras dengan ukuran 50 x 30 cm dihargai para pembeli Rp 4 ribu. “Paling banyak sehari dapat 15 batu,” kata salah satu penggali paras asal Desa Sedarum, Sumarto, Sabtu (12/52012).

Jika mampu bekerja seharian penuh, para penggali bisa menghasilkan Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu. Meski dengan hasil yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang dihabiskan, Sumarto dan puluhan penggali lain mengaku terpaksa menekuni pekerjaan keras karena tidak ada pilihan lain.

“Uang segitu kadang cukup, kadang kurang. Mau kerja apa lagi,” ujar pria tamatan SD yang mengaku mewarisi pekerjaan dari orang tuanya sejak puluhan tahun lalu.

Sementara Miarsih, penggali paras yang mengaku sudah 30 tahun menggeluti kerasnya tebing cadas mengatakan himpitan ekonomi dan minimnya keahlian, membuat dirinya bertahan menjalani pekerjaannya. Ia mengaku pasrah jika sewaktu-waktu perusahaan pemilik lahan meminta mereka pergi. “Kalau disuruh pergi ya pergi, ini kan tanahnya orang,” kata pria yang sudah mendekati usia senja ini.

Selain digunakan sebagai bahan dasar bangunan pengganti batu bata, batu paras juga biasa digunakan sebagai bahan pondasi bangunan. Para penggali biasanya menjualnya ke para tengkulak untuk kemudian dipasarkan. (jr/jr)