Masyaallah, Ada Balita Tanpa Hidung di Pasuruan

389

Lekok (wartabromo) – Salah satu alat pernafasan manusia adalah Hidung. Namun bagaimana jika manusia hidup tanpa Hidung?. Ari Dava Alif Mauluda adalah sosok balita yang dilahirkan tanpa hidung oleh tuhan. Bocah yang masih berusia 3 tahun tersebut mengawali hidupnya tanpa mendapatkan alat penciuman berupa hidung. Bagaimanakah kesehariannya?.

Putra pertama pasangan Ari Puspita (22) dan Akhmad Fuad (26) warga Dusun Rowo Desa Rowogempol Kecamatan Lekok, Pasuruan tersebut terlihat ceria menyambut kedatangan sejumlah wartawan yang ingin menengok kesehariannya.

Alif, panggilan akrabnya, tampak tak merasa terganggu saat sejumlah wartawan mengambil gambarnya. Bocah tersebut bahkan beberapa kali bergaya ketika disorot oleh kamera wartawan.

“Lho di foto,” ujarnya penuh dengan keluguan.

Meski tak memiliki hidung, namun Alif kini sudah bisa menghirup udara bebas meski beberapa kali kerap terengah-engah. Ibunya, Ari Puspita (22) menjelaskan, putranya menjalani operasi bedah di Rumah sakit Dr. soetomo Surabaya saat ia masih berusia 3 bulan silam.

“Ia sudah pernah dioperasi mas,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, jika nafas anaknya tersebut didapatkan dengan membedah langit-langit mulut bagian atas oleh dokter spesialis bedah asal australia.

“Kami orang miskin, beruntung waktu itu kami menggunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu, red),” tambahnya.

Saat wartabromo mengajak Alif berbincang , dengan lugas balita tersebut menceritakan kesehariannya yang kini sudah ikut bersekolah di PAUD di desanya. Ia mengaku, bercita-cita menjadi polisi jika sudah besar nanti.

Meski sudah berhasil menjalani operasi. Namun, orang tua Alif masih diwajibkan untuk melakukan kontrol pengobatan secara berkala setiap enam bulan sekali ke Surabaya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kondisi anaknya tetap membaik dan bisa bernafas dengan mudah.

“Total sudah 12 kali kami ke surabaya,” ujar ayah Alif, Akhmad Fuad.

Pria yang kini bekerja sebagai karyawan pabrik di wilayah Beji tersebut berharap agar anaknya bisa hidup secara normal seperti anak kebanyakan.  Ia pun terus berupaya untuk mendapatkan Jamkesmas dan Jamkemasda susulan untuk bisa mendapatkan bantuan pengobatan gratis bagi anaknya tersebut.

“Kami ingin ia bisa hidup seperti yang lain. Saat ini, hanya Australia yang bisa melakukannya,” ujarnya. (yog/yog)