Mak Yati, Pemulung yang Berkurban di Idul Adha Lalu Dapat ‘Hadiah’ Rumah

206
Rumah Mak Yati - Aparat desa dan warga membuat pagar di rumah Mak Yati, Senin (18/02/2013). Foto: M Athuf

Purwosari (wartabromo) – Mutiara terpendam. Bagi penulis kalimat itu layak disematkan pada diri Mak Yati. Meski hidup dalam keterbatasan dan (maaf) setiap hari bergelut dengan sampah, keelokan hatinya tidak lantas pudar. ‘Sekolah kehidupan’ menempah hati pemulung tua ini semakin bercahaya, semakin gemilang.

Khalayak mulai mengenal Mak Yati, yang kini berusia 65 tahun, sejak Idul Adha 26 Oktober 2012 lalu. Perempuan asli Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan yang sudah merantau ke Jakarta selama lebih 25 tahun menyita perhatian publik setelah ‘mata’ jurnalis menemukannya.

Semua orang lantas mengenal Mak Yati sebagai orang yang budiman, pemulung berhati mutiara. Ia mendadak tenar. Tidak terbayangkan sebelumnya seorang pemulung yang hidup dalam keterbatasan bisa berkurban. Apalagi dua ekor kambing sekaligus.

Dalam pengakuannya ke sejumlah awak media ibu kota, Mak Yati dan suaminya mengumpulkan dana untuk membeli kambing sejak 3 tahun silam dari hasil mengumpulkan botol bekas dan barang lainnya. Kisah Mak Yati lantas membuat haru para pengurus masjid di wilayah Tebet, dan menarik simpati Mensos.

Sebagai wujud simpati, Kementerian Sosial lantas membuatkan rumah untuk Mak Yati di kampung halamannya, Dusun Gunungsari, Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari. Rumah sederhana itu dibangun di atas lahan seluas 6 X 12 berukuran 4 X 6. Terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur serta satu kamar mandi.

Rumah bercat putih dan hijau itu sudah siap ditempati dan ‘menunggu’ kedatangan sang empunya. Ya, ‘si hati mutiara’ sudah memutuskan untuk pulang kampung dan menghabiskan sisa hayatnya di Pasuruan. Perempuan yang punya nama gadis ‘Romlah’ saat ini sedang dalam perjalanan kereta. Rombongan Mak Yati berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat pukul 17.00 WIB, dan dijadwalkan  tiba di Pasuruan pukul 10.00 WIB, Selasa (19/02/2013) besok.

“Dia sudah tidak punya saudara di sini. Menurut warga, orang tuanya juga pemulung. Kami ikut bahagia,” ujar salah seorang warga Dusun Gunugsari, berbincang dengan wartawan, Senin (18/02/2013).

Mak Yati hidup sebatang kara karena orang tuanya meninggal dunia. Saat itu ia hidup menumpang di rumah para tetangganya hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. “Dia memang suka membantu dari dulu,” timpal warga yang lain.

Sementara itu, Kepala Desa Kertosari Waluyo Utomo mengatakan warganya sangat senang menerima kabar Mak Yati segera pulang. Banyak warga yang ikut membantu membersihkan rumahnya. Pihak desa bahkan sudah menyiapkan pekerjaan untuknya.