Mengenal Yadnya Kasada Suku Tengger

635
Foto : Dokumen

Pasuruan (wartabromo) – Gunung Bromo selain memiliki panorama pemandangan alam yang indah terutama saat sunrise tiba,  juga memiliki daya tarik budaya yang beragam. Keberadaan suku tengger sebagai salah satu suku yang hingga kini masih bertahan di kawasan gunung bromo menyimpan segudang keanekaragaman budaya yang hingga kini masih bertahan.

Salah satu budaya yang kerap menarik perhatian masyarakat indonesia dan dunia pariwisata adalah tradisi upacara Yadnya Kasada yang dilakukan oleh suku hindu tengger bromo.

Tradisi tersebut dilaksanakan setiap bulan kasada ke-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu tengger yang merupakan upacara sesembahan atau sesajen umat hindu tengger untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur yakni Roro Anteng dan Joko seger.

Baca Juga :   Jurnalis WartaBromo Masuk Nomine Lomba BNPT

Dua pasang kekasih yang dipercaya sebagai nenek moyang suku tengger di kawasan pengunungan Bromo. Roro anteng adalah putri Raja majapahit sementara Joko seger merupakan putra seorang Brahmana.

Keduanya menikah dan memutuskan tinggal serta menjadi penguasa di kawasan Tengger karena saat itu kerajaan Majapahit mengalami masa kemerosotan akibat munculnya pengaruh Islam di Pulau Jawa.

Setelah sekian lama hidup berdua sebagai suami istri, kedunya merasa sedih karena belum juga dikaruniai anak. untuk itu, mereka pun bersemedi di puncak Gunung Bromo hingga akhirnya mendapatkan petunjuk bahwa permintaannya akan dikabulkan dengan syarat anak bungsunya setelah lahir harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Alhasil, konon setelah dikaruniai 25 orang anak, tiba saatnya pasangan ini harus mengorbankan si bungsu, namun karena tidak tega melakukannya, dewa pun marah dan membawa anak bungsunya masuk ke dalam kawah Bromo. Dari situlah kemudian muncul suara dari anaknya si bungsu agar orang tua mereka hidup tenang beserta saudara-saudaranya, agar menghormati pengorbanan tersebut.

Baca Juga :   Dana Bagi Hasil Cukai Tak Terpakai, Pemkab Pasuruan Surati Presiden

Maka, mulailah, setiap tahun dilakukan upacara sesaji ke Kawah Bromo dan terus berlangsung secara turun menurun hingga saat ini.

Dalam upacara Yadnya Kasada yang jatuh tepat pada bulan kasada ke-14 suku Tengger akan beramai-ramai membawa sesajen berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten dan menunggu hingga tengah malam saat dukun ditasbihkan tetua adat.

Berikutnya, sesajen yang disiapkan dibawa ke atas kawah gunung untuk dilemparkan ke kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyangnya. (yog/berbagai sumber)