BBM Naik, Nelayan di Pelabuhan Pasuruan Ogah Melaut

638
Anak-anak bermain di tumpukan jaring nelayan di Pelabuhan Pasuruan/M Athuf al-Fayyadh Fth/wartabromo.com

Pasuruan (wartabromo) – Banyak nelayan Pasuruan memilih tak melaut karena biaya operasional tinggi akibat kenaikan harga BBM. Para nelayan yang tak melaut kebanyakan mereka yang menggunakan kapal motor berkapasitas 20-26 orang.

Biasanya kapal ini menghabiskan biaya operasional paling tinggi Rp 1.5 juta, namun setelah solar naik biayanya bengkak hingga Rp 2 juta. Biaya sebesar itu ditanggung secara berkelompok 20-26 nelayan.

“Banyak yang tak melaut karena ongkosnya terlalu tinggi,” kata Ruslan (42), salah seorang nelayan di Pelabuhan Kota Pasuruan, Kamis (20/11/2014).

Pria asal Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo ini, mengatakan biaya-biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan solar penggerak diesel sebanyak 60-100 liter serta bensi untuk genset lampu yang mencapai 30 liter. Selan itu, juga untuk rokok dan makanan.

“Yang membuat kami malas melaut karena hasil tangkapan ikan tak bisa dipastikan. Seringkali tak bisa menutup biaya,” ujar Ruslan.

Jika ingin membawa pulang uang, setidaknya para nelayan kapal motor yang biasa disebut Korsin itu mendapatkan leebih dari satu ton ikan. Namun, untuk tangkapan beberapa waktu terakhir, hasilnya hanya pada kisaran tiga atau empat keranjang saja.

Namun demikian, mash ada beberapa nelayan yang tetap melaut untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Sing penting mlaku (yang penting bekerja), kalau tidak mau makan apa anak istri saya,” kata As’ad (57), nelayan lain saat berbincang di sebuah warung kopi pelabuhan.

As’ad menuturkan, hasil tangkapan nelayan dibagi dengan pemilik perahu dan sisanya dibagi rata 20 orang. “Sekitar 40 persen untuk pemilik perahu,” jelasnya. (fyd/fyd)