Kelirumologi Pasuruan Maslahat

4239

pasuruan maslahatPasuruan (wartabromo) – Sejak mula ingin menulis, saya menelepon Gus Taufik. “Gus, apa bisa jelaskan apa makna maslahat ?”. Bukan tanpa sebab, saya menelepon untuk konfirmasi. Sepatah kata bahasa arab itu disisipkan beliau dalam visi misi Bupati Irsyad Yusuf, dulu menjelang Pilkada 2013. Maka, saya tak boleh bertanya pada kamus. Tetapi harus tanya langsung, alasan kata itu dijadikan kata sakti. Takdir Sang Maha Kuasa kemudian berpihak pada kemenangan pasangan nomer 4,  Gus Irsyad dan Mas Gagah melenggang menang jadi pemimpin Kabupaten Pasuruan. Maka sebiji kata maslahat itu layak ditanya ulang.

Harapan dapat jawaban manis seketika buyar. Dari seberang sana, di ujung telepon, Gus Taufik menjawab sekenanya. “Kata maslahat itu terinspirasi dari nama tetanggaku yang bernama Maslahah. Dia seorang penjual kue weci dan tempe menjes”. Sejurus saya menolak jawaban itu. “Lho, jawabannya kok gitu Gus ?”. Tapi sekretaris NU ini menggebu menjawab serba yakin. “Lho iya, Yuk Maslahah itu berjualan gorengan di dekat pondok. Dengan upaya itu dia dapat menghidupi keluarga serta menyekolahkan anak-anaknya”. Sambil menyudahi teleponnya, Gus Taufik mengatakan nanti lain waktu kita diskusi lagi katanya.

Baca Juga :   Pengadilan Perintahkan Jaksa Buka Blokir Rekening PT PaMi

Agak aneh memang. Saya serius bertanya pada si pencetus kata Maslahat  mewujud konsep cita-cita Bupati Pasuruan sebelum menjabat. Dapatnya jawaban yang aneh. Apakah kiranya, kini dia tak lagi peduli, kata itu sudah menyebar jadi slogan langganan pejabat, pada setiap perhelatan kedinasan di Kabupaten Pasuruan. Agaknya kini segala hal terasa kurang adhol tanpa menyertakan simbol maslahat dalam setiap kegiatan.

Mulanya sederhana. Usai Bupati dilantik, RPJMD dirumuskan. Tim Ahli dari akademis bersama Bappeda mengawinkan pola pembangunan dengan visi misi Kepala Daerah terpilih yang sudah disuarakan lewat janji kampanye. Jadilah kemudian setangkai cita-cita elegan : Menuju Kabupaten Pasuruan Yang Sejahtera Dan Maslahat. Uniknya, sebagai slogan baru merk Pak Bupati, seketika ditiru dalam banyak ucapan oleh sekian banyak pegawai. Para Kepala Dinas merasa lengkap sebagai manajer SKPD jika selalu menyebut maslahat dalam setiap laporan pidatonya. Bahkan tak jarang para pejabat berpuisi dan kidungan menyitir kata maslahat sebagai kata unggulan di depan Bupati.

Baca Juga :   Arena Sabung Ayam yang Digerebek Dikenal Luas Kalangan Penjudi

Tak cukup di situ, setiap semboyan yang muncul di spanduk dan poster, nyaris tak lupa mengikutkan maslahat dalam rombongan kalimatnya. Tak urung maslahat beredar di mana-mana. Pertanian yang maslahat. Tenaga kerja yang maslahat. Pendidikan yang maslahat. Koperasi dan UKM yang maslahat. Kesehatan yang maslahat. Perijinan yang maslahat. Kesatuan Bangsa yang Maslahat, bahkan hingga Satpol PP yang maslahat pula. Maslahat kayak kata Syariah, menjadi ungkapan untuk memperjelas nilai-nilai agama dalam satu lembaga atau kegiatan. Bank Syariah. Pengadaian Syariah. Laundry, bahkan jika perlu perceraian Syariah diramaikan pula.

Jika mengintip secara harfiah, pemaknaan maslahat sebagai upaya yang berfaedah dan membawa nilai kebaikan. Meski pun saya merasakan getaran ogah, pegawai agak malas menggunakan semboyan ini. Karena dirasa terlau berbau santri, namun terpaksa digunakan karena perintah Bupati. Hingga kemudian, muncullah akronim Maslahat (Maju, Aman, Sehat Lahir-batin, Adil dan Bermartabat). Pokoknya segera saja kemudian maslahat jadi merk baru gerakan setor muka kinerja pejabat pada Bupati secara tersirat menjadi pemilik sah merk ini.

Baca Juga :   Siapkan Rekom, Gerindra Pasuruan Hadirkan Empat Kandidat Sampaikan Visi Misi

bupati pasuruan irsyad

Hanya saja niscaya, cita-cita akan maslahat itu sudah terpenuhi, atau hanya muncul sebagai kata pelengkap penderita. Jika merujuk pada maklumat awal alangkah hebatnya. Maslahat menandai harapan tata kelola pemerintahan profesional, transprasan dan responsif. Maslahat mendorong SDM cerdas dan berdaya saing. Maslahat mengisyaratkan peningkatan kualitas pendidikan formal dan pondok pesantren. Maslahat mengajukan mimpi layanan kesehatan bermutu dan murah. Maslahat menegaskan sejahtera ekonomi rakyat. Hingga akhirnya maslahat menjamin rasa aman kehidupan sosial. Karena kunci maslahat sudah membuka pintu perubahan. Segala gaya lama yang monoton dihapuskan. Berubah semangat baru penuh gempita meraih hal baru pula.