Pasuruan ‘Kota Egoisme’

1627

Stasiun-pasuruan-1934

Pasuruan (wartabromo) – Perdagangan yang tumbuh pesat pada saat itu, menunjukkan Kota Pasuruan memiliki pemerintahan dengan administrasi yang luar biasa. Bahkan karena Pasuruan menjadi daerah yang strategis dan penting itu, membuat Pasuruan sebagai daerah hunian ekslusif untuk para penggede, termasuk Sinyo dan Noni-noni  Belanda.

Lantaran para penggede, sinyo dan noni-noni Belanda merasa menjadi warga yang elit, Penjajah Belanda akhirnya memutuskan berdirinya Kota Pasuruan sebagai kota penting untuk melakukan pencatatan kependudukan dan lainnya, dalam Staats Gemente Van Pasuruan pada 1 Juli 1916.

“Orang-orang Belanda tidak ingin masalah kependudukan diurusi oleh warga pribumi yang disebutnya Inlander. Karena ego dan merasa dirinya besar itu, akhirnya Pasuruan ditetapkan sebagai kota penting yang di bawahi langsung oleh warga Belanda,” kata Isnoto.

Dengan penetapan Kota Pasuruan sebagai daerah penting untuk Belanda,  menjadikan Pasuruan sebagai kota yang sangat asyik dan makin tertata rapi. Gemah ripah loh jinawi dengan kesejahteraan yang tinggi bagi warganya yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang dan pelayanan jasa, tidak dapat dipungkiri.

Hunian dengan infrastruktur jalan, baik akses jalan besar maupun jalam pemukiman warga, di perkotaan tertata rapi. Seperti saat ini yang masih nampak di Jl Pahlawan dan Balai Kota, JL Soekarno-Hatta dan Jl Hasanudin, JL Niaga dan Nusantara yang menjadi JL KH Wahid Hasyim hingga jalan di seputaran Alun-alun.  Semuanya terus ditata menjadi kawasan yang nyaman.

Dengan perdagangan dan jasa serta industri yang maju, otomatis berimbas pada cepatnya perputaran modal dan finansial warga. Untuk mengatur masalah finansial (keuangan) warga, Penjajah Belanda juga mendirikan lembaga perbankan di Kota Pasuruan, yakni Bank of Java Van Pasuruan (termasuk salah satu bank embrio berdirinya Bank Indonesia).

“Lokasinya di Jl Balai Kota yang sekarang menjadi bangunan Yon Zipur, di belakang bangunan itu, dulu masih ada bekas tempat berlabuh kapal yang membawa uang hasil transaksi. Kalau di depannya, sekarang menjadi Gedung DPRD, dulu menjadi gedung pusat pemerintahan kota praja,” ujar Gatot Santuso.

Dengan penghuninya yang terkemuka sebagai penggede maupun warga yang memiliki strata sosial lebih tinggi dibanding masyarakat kebanyakan, kebutuhan dasar lainnya seperti air juga terpenuhi. Itu nampak hingga saat ini dengan keberadaan Water Tower yang dikenal dengan Pet ledeng yang berada di Jalan Alun-alun Utara.

Water tower menjadi tandon air untuk memenuhi kebutuhan pemukiman warga Belanda dan juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lainnya di Kota Pasuruan. Air dari Sumber Air Umbulan yang berjarak sekitar 20 kilometer, ditarik dengan menggunakan pompa dan dinaikkan ke tandon water tower itu.

“Saat saya masih gadis, kakek saya pernah bercerita tentang pembangunan water tower ini. Dikerjakan oleh banyak orang dan membutuhkan waktu cukup lama. Bahkan pembangunannya menewaskan pekerja yang terjatuh dari atap tandon air itu,” kata Betty, pemilik warung di dekat lokasi Pet ledeng.

Bukan hanya pemenuhan kebutuhan dasar. Sebagai kota elit yang dipenuhi warga Belanda, Kota Pasuruan juga memiliki semacam panggung seni. Yakni Taman Kota yang berada di Jalan Pahlawan.

Sambil menikmati kerindangan serta keasrian tumbuhan di taman, warga dapat menikmati alunan musik maupun hiburan lainnya. Suasana di Kota Pasuruan diciptakan sebagaimana kota-kota di Eropa oleh Pemerintah Penjajah Belanda saat itu.

“Bukan hanya itu, untuk kelas yang lebih tinggi, para sinyo dan noni-noni Belanda juga memiliki tempat sendiri. Semacam kafe dan tempat untuk dansa di gedung yang bersebelahan dengan Gedung Harmoni (sekarang menjadi Untung Suropati). Orang-orang tua dulu menyebutnya sebagai tempat dansa-densi,” ungkap Isnoto. | Titik Temu Edisi 7