Mahasiswa UWK Tewas, Keamanan Air Terjun Madakaripura Dievaluasi

356
Foto: Patung Mahapatih Gajah Mada berdiri kokoh di pintu masuk Air Terjun Madakaripura. Konon di air terjun ini, mantan panglima pasukan elit pengawal para raja, Bhayangkara, bertapa hingga moksa. Kepercayaan tersebut menjadi salah satu daya tarik air terjun ini./ Gesang Arif Subagyo/wartabromo.com

Probolinggo (wartabromo) – Pasca tewasnya mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma (UWK), di wisata air terjun Madakaripura Lumbang, Pemkab Probolinggo langsung  bersikap. Yakni mengevaluasi sektor keamanan di areal wisata tersebut. Sementara itu, biaya akomadasi dan perawatan selama proses evakuasi Reza Gilang Bastian, korban yang tewas, ditanggung pemkab.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Anung Widiarto, kepada arek media. Menurutnya pesona alam Madakaripura yang masih perawan dan alami memang memukau, sehingga banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Agar, kunjungan tersebut tetap tinggi dan tewasnya Reza Gilang Bastian tidak terulang kembali, pihaknya akan berkoordinasi dengan Perhutani.

Anung, mengatakan peristiwa tewasnya mahasiswa UWK tersebut tak lepas dari faktor alam. “Kami segera mengambil langkah penting agar tewasnya pengunjung tidak terulang kembali. Namun, langkah tersebut karus dikoordinasikan dengan Perhutani sebagai pemangku areal hutan disana. Misalnya dengan memperkuat tebing dengan cara menanami pohon. Hal itu dimaksudkan agar, akar pohon mampu mengcengkram bebatuan tebing,” tutur Anung saat dihubungi wartabromo.com, (10/09/2015).

Mantan Kadispendukcapil ini menuturkan, Pemkab Probolinggo akan menanggung biaya evakuasi korban. Semisal biaya obat-obatan dan akomodasi yang dibutuhkan untuk evakuasi jenasah korban dari TKP ke RSUD Tongas.

Ia menambahkan, selama ini pemandu wisata pun diminta ikut mengingatkan wisatawan agar tidak nekat mendekati jeram air terjun karena berpotensi tertimpa batu dan kayu dari atas. Pertimbangannya, air terjun dan tebingnya berpotensi membawa material batu dan potongan kayu. Jika batu dan kayu itu yang jatuh dari ketinggian sekitar 200 meter itu menimpa wisatawan tentu berakibat fatal.

Untuk menuju Air Terjun Madakaripura, sebelum sampai di air terjun utama, wisatawan harus berjalan kaki di pinggir dan badan Kali Laweyan sejauh 1 kilometer (km). Mobil dan sepeda motor hanya bisa sampai di tempat parkir di pintu gerbang wanawisata itu. Pemkab Probolinggo sebenarnya telah membangun jalan beton cor setapak, bahkan sebuah jembatan kecil di tebing sungai. Faktor alam membuat wisatawan harus bersusah payah untuk menjangkau Madakaripura. (saw/fyd)