Keberagaman Majapahit Menyatu Dipawai Budaya

3297
Sekelompok putri cantik mengenakan pakaian khas Kerajaan Blambangan dalam pawai Budaya Majapahit di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (17/9/2015).

Pandaan (wartabromo) – Bhinneka Tunggal Ika, semboyan dalam Kitab Negara Kretagama karangan Mpu Tantular, yang menunjukkan keragaman suku dan budaya terikat dalam kesatuan dan persatuan saat era Kerajaan Majapahit, diangkat dalam pawai budaya di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (17/9/2015) sore.

Keberagaman Majapahit dalam pawai budaya ini diusung komunitas kebugaran Pan Indo Hash (PIH) Indonesia, sebagai bentuk perhatian mereka agar persatuan dan kesatuan Indonesia tetap terjaga. Bahkan diharapkan pawai budaya itu juga dijadikan sebagai agenda tahunan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan, untuk masuk dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke 1.086.

Komunitas PIH beranggotakan masyarakat di seantero Indonesia. Setiap perwakilan PIH di daerah dalam pawai budaya tersebut, menampilkan kebudayaan masing-masing daerahnya.

Baca Juga :   Misbakhun Kutuk Aksi Premanisme di Pasuruan

“Budaya yang beraneka ragam harus dijunjung tinggi. Karena kebesaran Indonesia justru dari keaneka ragaman budaya dengan sikapnya yang santun,” kata Tedjo Kristanto, Wakil Ketua Panitia.

Keragaman budaya benar-benar ditampilkan dalam pawai itu, Banywangi dengan budaya gandrung, Ponorogo dengan Barongsai serta wushu. Ponorogo dengan kesenian reog, Malang dengan bantengannya  serta Pasuruan dengan terbang laro dan lainnya, nampak menyatu dalam pawai budaya.

“Nuansa persatuan jaman kerajaan akan nampak terlihat dengan tampilan kereta kencana yang dinaiki Raja Ken Arok dan ratunya, Kendedes. Kami sengaja menampilkan Ken Arok dan Kendedes, karena dari pasangan raja-ratu ini, berkelanjutan hingga Kerajaaan Majapahit yang menguasai Nusantara,” imbuh Sobari, Seksi kesenian PIH Indonesia. (hrj/hrj).