Ya’juj- Ma’juj Made in Indonesia

1661

Misteri Ya’juj dan Ma’jujJika pada dasawarsa ini anak-anak TK di jazirah Arab ditanyakan bagaimana bentuk harimau, yang tak pernah berkunjung ke kebun binatang atau tak pernah melihat gambar harimau, pasti kesulitan membayangkannya. Sebab sejak beberapa abad terakhir binatang itu telah lenyap seakan ditelan gurun. Kalau onta atau kadal Mesir, insya Allah tidak asing. Kita juga sulit membayangkan jika harimau, rusa, bahkan gajah pernah hidup di sekitar jazirah Arab. Tapi bukti sejarah telah memperkuat halimun kenangan tentang mereka, paling tidak, dalam bahasa Arab kosa kata yang menyebutkan binatang-binatang tersebut ada.

Abad ke-6 masehi, gajah masih berlimpah di jazirah Arab. Buktinya raja Abrahah tak kesulitan mengumpulkan ribuan gajah untuk dijadikan armada perangnya, yang kemudian diabadikan dalam surat Al Fiil. Surat yang menerangkan bagaimana tentara raja Abrohah diluluhlantakkan oleh skuadron Ababil yang membombardir dengan “rudal” dari neraka Sijjil. Dan seakan tak bisa dipercaya akal waras, pada masa nabi Nuh, jazirah Arab kurang lebih sepadan dengan wilayah Papua atau Amazon dalam hal kelebatan hutan dan kelengkapan ekosistemnya. Terbukti saat itu, beliau membangun bahteranya dari kayu di hutan sekitar dan berpasang-pasang spesies binatang yang beliau angkut, adalah bukti jika jazirah Arab kala itu gemah ripah loh jinawi. Apalagi jazirah Arab kaya akan minyak. Bukti ilmiah jika di atas gurun gersang kerontang itu pernah ada keseimbangan ekosistem yang harmonis, tak terbantahkan lagi.

Namun, kaum ‘Ad dan kaum Tsamud bikin perkara. Bangsa yang kehebatan teknologi arsitekturnya dipuji Al Qur’an itu –perintis arsitektur dengan tiang menjulang dan rumah susun—ternyata tidak memiliki kearifan untuk melestarian lingkungan. Semangat pembangunan mereka tidak melibatkan perencanaan pelestarian alam demi anak cucu. Sehingga, seperti yang kita lihat, jazirah Arab menjadi setandus ini. Menjadi gurun tanpa batas.

Orang Indonesia, jika ditelisik secara jujur memeliki banyak kemiripan dengan kaum ‘Ad dan kaum Tsamud. Terutama dalam keisengannya merusak ekosistem. Hanya saja jika kaum ‘Ad dan kaum Tsamud memanfaatkan kekayaan alamnya untuk keperluan serta kesejahteraan bangsa mereka sendiri, kita orang Indonesia begitu dermawan terhadap bangsa lain. Jahlun murakkab!. Kebodohan kuadrat!. Kita ikhlas, rela, ridlo Paman Sam yang sejahtera, tambang emas kita yang dikeruk. Orang asing yang kipas-kipas uang, ribuan hektar tambak masyarakat desa Jarangan, Pade’an, Bintingan dan Tapaan yang terkontaminasi limbah. Puluhan warga desa di kecamatan Rejoso, Gondangwetan dan Winongan yang menderita gangguan pernafasan oleh bau busuk bertahun-tahun.

Okelah, kalau kita tidak berdaya melawan kedzaliman ekosistem semacam itu karena pemerintah sudah pelo, tak bisa ngomong karena terlalu banyak disuapi. Paling tidak kita harus memulai dari diri sendiri. Pertama, kita harus sekolah tinggi-tinggi karena pendidikan sangat besar pengaruhnya pada pola pikir, kesadaran dan kearifan dalam menyikapi segala hal. Cak Manap memang “hanya” penjual kopi, tapi ia sarjana.

Makanya ia kritis, suka ngecepret mengurusi dan mengkritisi apa saja seperti mahasiswa yang belum pernah menjadi anggota DPR. Kegeraman Cak Manap kepada Mbak Endang yang membuang popok bayi, botol bekas minuman energi hingga kasur ke sungai, adalah bukti jika orang yang pernah sekolah itu lebih kritis dan ilmiah dari orang yang tak tuntas sekolah.

Kedua, kita harus suka membaca dan pandai memilih channeltelevisi yang cerdas agar kita tahu jika di pojok alam bagian yang lain sana, ada gerombolan bernama Green Peace. Semacam jamaah tahlilan yang –bahkan rela berkorban nyawa—melindungi kelestarian alam. Mereka bisa merasa sangat berduka atas terbunuhnya seekor walang sangit. Belalang yang kencingnya bisa merusak bulir padi, polong kedelai atau sulur-sulur kacang panjang. Tapi mereka tidak misuhi petani yang menyemprot walang sangit dengan pestisida. Dengan ikhlas mereka patungan membiayai penelitian penanggulangan walang sangitramah lingkungan. Bagaimana pun walang sangit berhak hidup di atas bumi, tapi bagaimana caranya agar mereka bersikap ramah terhadap petani yang tak pernah diperhatikan pemerintah itu?. Nah, kalau kita banyak baca dan meninggalkan channel televisi Indonesia yang tiap jam menayangkan sinetron tidak bermutu itu, insya Allah akan mikir-mikir ketika hendak mengokang senapan angin untuk membantai berbagai spesies burung, bajing, garangan, luwak dan biawak yang diciptakan Allah dengan tanpa kesia-siaan itu. Penyeimbang ekosistem dan memiliki fungsi entah untuk apa itu.

Kita ini, memang suka ketinggalan jika ada perkembangan hal-hal positif di dunia. Di luar sana orang sudah menyayangi tokek, tikus dan ular melebihi menyayangi anak karena binatang-binatang itu dikhawatirkan punah. Kita malah menembaki burung prenjak, menjaring derkuku, meracun dan membondet ikan. Malah kalau dulu hanya anak-anak muda pengangguran yang suka meracun ikan di sungai, kini ibu-ibu juga rajin melakukan pembantaian. Sampah dan limbah rumah tangga, comberan rumah tangga dan perusahaan, semua di buang ke sungai. Di Saudi orang menyuling air laut untuk air minum, di Surabaya orang mendaur ulang air comberan untuk air minum, di Winongan, Gondangwetan dan Pasrepan orang mengebor sumur artesis untuk langsung dialirkan ke comberan. Hanya dibutuhkan sedikit untuk mengisi kolam lele, namun dibiarkan mengalir terus-menerus, siang-malam, selama bertahun-tahun.

Ketiga, agar stroke, diabetes, asam urat dan penyakit-penyakit “bonafid” lain tak mudah menyerang, kita tidak perlu terlalu manja. Menggali bak penampungan sampah di belakang rumah bisa menyebabkan peredaran darah lebih lancar dan keringat –juga racun tubuh—keluar daripada membuang sampah ke sungai. Mencuci popok bayi dari plastik atau kain juga jauh lebih ekonomis daripada membeli popok pabrik. Lebih bernilai ibadah daripada melihat sinetron atau rasan-rasantetangga. Dan sungai tidak mudah banjir oleh sumbatan popok yang kita buang ke sana.

Lagi pula, kalau kita membeli kulkas hanya untuk mengawetkan sepotong tempe, telur berkatan hasil kenduri dan mengawetkan ikan tongkol sisa seminggu lalu, kiranya itu terlalu naïf dibanding dengan mudlaratfreon yang melubangi ozon.

Biarlah pemerintah dan pengusaha menggunduli hutan-hutan Tosari, Kronto dan Wonokitri. Biarlah mereka mengeruk pasir di Pasrepan, Ranu dan Kejayan, asal kita tidak ikut-ikut menjadi Ya’juj-Ma’juj. Kecuali jika kita sepakat kiamat dipercepat. Penulis : Abdur Rozaq