Awalnya Dicemooh, Ichwan Kini Kelola 32 Hektar Sawah (2)

7511
M Ichwan Kusuma menuai hasil memuaskan berkat keuletan dan kerja keras serta keberhasilan menerapkan sistem menejemen moderen. Ia mulai mengembangkan dan meluaskan lahan pertaniannya dengan cara menyewa dan sebagian kemudian dibelinya. Saat ini, sarjana pertanian yang awalnya diolok-olok saat ingin turun sawah ini total mengelola 32 hektar sawah. 20 hektar masih ia sewa, dan 12 hektar lainnya sudah dibelinya./WARTABROMO/Gesang Arif Subagyo

Kejayan (wartabromo) – M Ichwan Kusuma (33), petani asal Desa Sladi, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, menuai hasil memuaskan berkat keuletan dan kerja keras serta keberhasilan menerapkan sistem menejemen moderen. Ia mulai mengembangkan dan meluaskan lahan pertaniannya dengan cara menyewa dan sebagian kemudian dibelinya.

Saat ini, sarjana pertanian yang awalnya diolok-olok saat ingin turun sawah ini total mengelola 32 hektar sawah. 20 hektar masih ia sewa, dan 12 hektar lainnya sudah dibelinya.

Tidak perlu disebutkan berapa ratus juta rupiah uang yang ia punya sehingga bisa membeli dan menyewa lahan petanian seluas itu. Itu cukup dijawab dengan angka.

“Per hektar biaya produksi dari tanam sampai panen Rp 10 juta sampai Rp 12 juta. Rata-rata per hektar mendapat 8 ton padi, jika pas harga bagus bisa mendapatkan Rp 36 juta per hektar,” terang Ichwan. “Setahun tiga kali panen,” ia melanjutkan.

Dari angka yang dibeberkan Ichwan di atas dikalikan 32 hektar lahan sawah yang ia kelola saat ini, bisa dibayangkan betapa sukses sarjana petani ini. Sarjana petani yang awalnya tidak berani turun sawah karena ketakutan dicemooh warga kini menjadi orang dianggap sukses secara finansial.

“Sebagian besar sawah kan menyewa, nggak milik sendiri. Di sekitar sini rata-rata harga sewa lahan murah, Rp 10 juta per hektar per tahun,” terangnya.

Saat ini Ichwan sehari-hari hanya mengontrol sawahnya yang tersebar di Di Desa Ketangi, Patebon dan Sladi. Di bantu lima orang mandor, ia praktis punya banyak waktu luang. Lima mandor tersebut dipercaya sepenuhnya untuk mengurusi semua proses tanam, menjaga, merawat hingga saat panen.

Namun demikian, terkait menejemen, pemilihan pupuk, obat, dan model pemupukan dan penyemprotan, Ichwan tetap melakukannya sendiri. “Urusan cari orang untuk tanam, merawat, memupuk, saat panen saya serahkan pada mandor untuk mencarikannya. Demikian juga soal keamanan sawah, mereka yang bertanggung jawab,”terangnya.

Ichwan menerapkan sistem penggajian bagi hasil dengan para mandornya. Dengan sistem tersebut, kata dia, para mandor akan lebih memiliki tanggungjawab dalam bekerja karena semakin bagus hasil panen, semakin besar pulan yang mereka terima.

“Prosentasenya mereka mendapat 10 persen hasil panen. 10 persen itu bersih, karena lahan dan semua biaya produksi saya yang menanggung. Mereka juga tidak ikut menanggung jika gagal panen,” urai Ichwan.

Sistem tersebut dianggap sangat efektif. Selama ini, para mandor ini bekerja sangat baik. “Ada satu mandor yang saya gaji bulanan. Yang semacam orang kepercayaan, kalau saya ke luar kota dia yang mengurus semuanya,” katanya tanpa memberitahu nominal gaji yang dia berikan.

Dalam pembincangan santai di gubuk sawahnya yang sederhana, Ichwan mengakui tidak selamanya bertani itu mendapatkan hasil yang memuaskan. Karena faktor alam, seperti hama, merosotnya unsur hara menyebabkan hasil panen menurun bahkan gagal total.

”Masa panen yang lalu saya alami gagal panen. Saya rugi sampai Rp 600 juta,” kata Ichwan.

Secara umum pasokan air pertanian di wilayah Kejayan cukup. “Air bukan masalah di sini,” terangnya. Namun kadang-kadang di lokasi tertentu memang kesulitan air, kata dia. (Tabloid WartaBromo, Edisi September 2015)