Ichwan Kusuma, Sarjana Pertanian yang Kelola Sawah Ala Pabrik (1)

0
419
Mochammad Ichwan Kusuma (33) tengah memeriksa tanaman padi di salah satu lahan pertaniannya di Desa Sladi, Kecamatan Kejayan. Dengan menejemen a la pabrik yang ia terapkan, rata-rata ia mampu memanen padi sebanyak 8 ton per hektar. Jika harga tinggi, ia bisa mengantongi uang Rp 36 juta per hektar sekali panen./WARTABROMO/Gesang A Subagyo

Kejayan (wartabromo) – Terjun langsung ke sawah, belepotan tanah, menanam padi dan merawatnya sendiri, bukan perkara mudah bagi Mochammad Ichwan Kusuma (33), warga Kejayan, Pasuruan. Sarjana Pertanian dari Universitas Brawijaya ini merasakan tekanan luar biasa besar saat memutuskan menggarap sendiri sawah keluarga. Semua warga memandang sinis, meremehkan dan merendahkannya. Bukan hanya dengan gesture, sikap dan pola, hinaan dan celaan juga diterimanya secara verbal.

“Luar biasa tekanannya. Semua orang meremehkan saya, ‘sarjana kok ke sawah’, ‘sekolah adoh-adoh akhire nang sawah’, ‘lah wong nang sawah ae kok sekolah adoh-adoh gak biyen-biyen’ dan banyak lagi hinaan yang saya terima,” kata Ichwan berbincang dengan wartabromo di sawahnya yang berada di Desa Sladi, Kecamatan Kejayan.

Ya. Dalam pandangan masyarakat awam desa, seorang sarjana seharusnya bekerja kantoran. Paling jelek, dia seharusnya jadi pegawai negeri sipil.  Seorang sarjana, meskipun Sarjana Pertanian, yang menjadi petani tidak bisa diterima nalar. Tentu saja, tidak semua warga desanya berpikiran seperti itu, “tapi sebagian besar meremehkan saya,” ujar Ichwan mengenang awal-awal ‘kembali’ ke sawah dengan nada getir.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya angkatan 1999 ini sebenarnya, sudah merintis karir di dunia percetakan setahun sebelum lulus. Usaha tersebut semakin ia seriusi setelah lulus. Pria tinggi besar ini menempuh pendidikan strata satu-nya selama enam tahun. Masa kuliahnya molor, karena dia memang sibuk merintis percetakan.

Pria tinggi besar ini memang memiliki gen pekerja keras. Secara ekonomi, dia lahir dari keluarga berada sehingga kalaupun tidak segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus, hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun karena memang ingin membuktikan bahwa ia mampu keluar dari bayang-bayang orang tua secara finansial, ia merintis sebuah percetakan.

Usaha yang digeluti selama kurun waktu kurang lebih tiga tahun itu terus berkembang. Dalam pandangan Ichwan, termasuk sukses. “Berkembang, termasuk sukses menurut saya,” kata Ichwan.

Namun demikian, sukses dalam usaha percetakan tidak membuat hatinya tenang. Sebagai sarjana pertanian batinnya bergolak. Hasrat untuk mengembangkan pertanian keluarganya semakin kuat karena meskipun orang tuanya memiliki seluas 4 hektar sawah, tidak mendapatkan hasil yang maksimal karena bagi dia salah pengelolaan.

Karena itu pula ia pada 2007 ia memutuskan menyudahi bisnis percetakannya begitu saja tanpa ada niatan untuk mewariskannya pada siapapaun. Percetakan tutup, dan semua peralatan di-uang-kan.

Meski ‘menganggur’ ia tidak serta merta terjun ke sawah karena secara mental  ia belum siap. “Belum siap dengan omongan orang.  Saya tahu orang akan memandang sinis jika saya menggarap sawah,” ungkapnya.

Di tengah kegamangan itu, ia kembali merintis sebuah perusahaan outsourcing bersama temannya. Ia merekrut tanaga cleening service, driver dan tenaga keamanan yang disalurkan ke perusahaan. Perusahaan tersebut juga berkembang dan sudah menyalurkan banyak tenaga kerja ke perusahaan-perusahaan.

Di sela-sela kesibukannya di perusahaan outsourcing, Ichwan memberanikan diri untuk memulai menggarap sawah dengan diawali menanam cabe.  Dari mengolah tanah, menanam bibit, merawat hingga memanen ia lakukan sendiri, meski hatinya tersu dihantui sinisme dari warga.

“Panen pertama waktu itu berhasil, cuman harganya pas anjlok, jadi rugi besar. Sempat putus asa… ternyata jadi petani itu berat,” kata Ichwan.

Hari mulai sore, matahari juga mulai berkemas bersiap pulang ke paraduan. Hembusan angin menyentuh lembut hamparan hijau sawah. Ichwan mengajak berkeliling melihat tanaman padi menyusuri pematang kecil. Sesekali ia masuk ke lumpur mengecek setangka tanaman yang masih berusia sekitar sebulan. Ia juga antusias menunjukan hamparan tanaman padi di patak lainnya yang siap panen.

“Orang tua saya meminta saya fokus ke pertanian. Mungkin beliau berharap, ilmu saya bisa berguna untuk mengembangkan pertanian keluarga,” kata Ichwan.