“Langgar Tradisi” Puluhan Tahun, Kopi Kaspandi Mulai Dikemas Modern (habis)

905
Foto: Gesang Arif Subagyo (wartabromo)

Pasuruan (wartabromo) – Setelah puas melihat proses produksi kopi, Anisah mengajak wartabromo duduk-duduk santai di ruang dia biasa menerima pembeli. Beberapa saat kemudian muncul seorang perempuan berusia 35-an membawa dua cangkir kopi.

Dalam jarak yang relatif jauh, aroma kopi sudah menggeniti hidung, menggugah selera. “Silakan….” kata perempuan itu mempersilakan wartabromo mencicipi kopi. “Ini yang kualitas super. Ayo dicicipi,” timpal Anisah.

Aroma kopi yang disuguhkan memang sangat menggoda. Tak mau berlama-lama, wartabromo langsung menikmati kopi tersebut. “Slruuuupppp….” Rasanya memang benar-benar mantab. Rasa kopi robustanya khas.

Rasanya lebih enak dari Kopi Sepoor Kaspandi yang biasa wartabromo rasakan di warung-warung kopi. Maklum, rata-rata warung-warung kopi menggunakan produk dengan gambar kemasan ‘Piala’ atau paling banter gambar ‘Sepor’ yang harganya jauh lebih murah dari kualitas super yang dibungkus dalam kemasan modern.

Kemasan modern tersebut ia mulai sejak 2014. Bersama anaknya Burhanuddin (40), ia mencoba membuat kemasan baru yang lebih cantik seperti produk dari pabrik besar. Kata Anisah, kemasan tersebut untuk memenuhi permintaan konsumen luar daerah dan luar negeri. Juga, sebagai oleh-oleh, kemasan tersebut lebih menarik. Selain produk paten ukuran 250 kg, Anisah juga tengah mengujicoba kemasan saset. “Tapi kemasan dari kertas akan tetap saya pertahankan. Itu jadi ciri kita,” jelasnya.

Mempercantik kemasan, kata dia, sangat dibutuhkan demi persaingan bisnis, terutama pangsa pasar baru yang cenderung lebih tertarik dengan kemasan. “Pasar kan lebih melihat kemasan. Mau nggak mau saya harus mempercantik kemasan. Tapi kualitas tetap nomor satu,” kata dia berpromosi.

Anisah dan anaknya juga ingin mengembangkan usaha dengan meningkatkan produksi. Sebelum itu ia akan membangun jaringan penjualan online dengan merintis situs penjualan.
Ia juga semakin gencar membangun jaringan lewat berbagai pameran baik tingkat lokal, provinsi maupun nasional.

Seringnya mengikuti pameran dirasakan sangat membantu penjulan. Banyak pelanggan baru yang didapat dari pameran.
Banyak manajer perusahaan yang datang ke pameran tergoda mencicipi kopinya. Beberapa minggu kemudian, petinggi-petinggi perusahaan yang berasal dari negara-negara Eropa ini memesan kopi kepadanya.“Ada yang dari Inggris, Perancis, Belanda, Amerika. Dari Malaysia, Singapura dan Hongkong juga memesan. Kata mereka puas dengan rasa kopi saya,” ujarnya bangga.

Berdasarkan itu, Anisah dan anaknya terpacu mengembangkan dan memperlebar jaringan usahanya. “Kalau untuk jadi pabrik masih terlalu jauh, target dekat ini produksi bisa ditingkatkan,” kata dia.

Di akhir pembicaran, wartabromo terusik untuk mencari tahu kenapa memilih ‘Sepoor’ sebagai merek dagang. Sambil tersenyum, Anisah menjawab bahwa merek tersebut tidak ada makna atau maksud yang istimewa. “Bapak (Kaspadi) kan rumahnya sejak awal di sini. Karena dekat dengan stasiun, sering melihat kereta api, jadi dinamai aja Kopi Sepor Kaspandi,” pungkasnya. (fyd/fyd)