Pencak Mancilan: Bertabur Prestasi, Terabai di Kampung Sendiri

1290
Salah satu jurus Pencak Kuntu Mancilan diperagakan.

Pasuruan (wartabromo) – Meski banyak berprestasi dan mengangkat nama Pasuruan, Pencak Silat Kuntu Mancilan tidak mendapat perhatian semestinya dari pemerintah. “Kalau sudah menang pemerintah ikut mengakui,” pimpinan Pencak Silat Kuntu Mancilan, Khotib, beberapa waktu lalu.

Pria yang juga Ketua IPSI Pasuruan ini mengatakan selain datang saat pesilatnya memperoleh prestasi, tidak ada lagi yang dilakukan pemerintah. Tidak ada upaya untuk melakukan pembinaan, tidak ada upaya untuk ikut membangun pedepokan atau memberikan perhatian selayaknya.

(Pria Tua Ini Berjuang Menjaga Budaya Pencak Kuntu Mancilan)

“Padahal Silat Kuntu selalu mengangkat nama Pasuruan,” ujar pria yang juga anggota Majelis Pendekar Nasional ini.

Saat wartabromo berkunjung ke rumah sekaligus padepokannya, Khotib tengah berbaring lemas di dipan karena tengah sakit. Meski dalam keadaan sakit, ia tetap antusias berbincang mengenai Silat Kuntu.

Menurut pria yang sudah 20 tahun menjadi Ketua IPSI Pasuruan, selama ini untuk kebutuhan latihan, kegiatan dan keperluan padepokan dibiayai secara swadaya oleh murid-murid silat. Semua keperluan logistik latihan didapat secara patungan. Bahkan saat membangun padepokan pun, tidak seperserpun dana dia terima dari pemerintah.

“Padepokan ini baru dibangun. Dulunya tidak seperti ini. Alhamdulillah selalu ada jalan,” tuturnya.

Khotib yang sudah berlatih Silat Kuntu sejak usia 6 tahun ini mengisahkan ‘keajaiban’ saat pembangunan padepokannya. “Keajaiban’ itu dirasakan saat ia sangat ingin membangun padepokan yang lebih representatif namun tidak memiliki dana. Beberapa hari kemudian datang banjir bandang yang membawa endapan pasir melimpah di Sungai Gembong. Dengan pasir tersebut, ia mendapat material untuk membangun padepokan.

“Bangunan ini ya dari banjir bandang itu, pasirnya ambil di kali Gembong. Kerja bakti sama adik-adik (panggilan Khotib untuk para muridnya),” katanya.

Banjir bandang yang dimaksud Khotib adalah banjir bandang yang terjadi Jumat 3 April 2015 yang merusak puluhan rumah di Desa Rejosalam Kecamatan Pasrepan dan di Desa Klinter Kecamatan Kejayan. Banjir bandang tersebut juga menyebabkan sungai Petung dan Gembong yang melintasi Kota Pasuruan meluapkan dan membawa material pasir.

Dalam kesempatan itu, Khotib mengutarakan kekecewaannya pada pemerintah yang abai pada Pencak Silat Kuntu Mancilan. Padahal dalam setiap kejuaraan pencak silat, para pesilat Kuntu yang dikirim untuk bertanding.

Karena kekecewaan itu, mereka berencana memberikan ‘kado’ pada pemerintah kota. “Adik-adik berencana merekam semua kegiatan dalam bentuk video. Kalau jadi nanti dikasihkan ke sana (pemkot) habis lebaran. Biar tahu, iniloh Pak Wali aset sampeyan,” tandasnya.

Dalam bahasa lain, ia seakan ingin menunjukkan bahwa Pencak Silat Kuntu Mancilan adalah mutiara yang seharusnya terus dipoles dan dirawat agar terus bercahaya dan semakin indah. Bukan diabaikan dan dibiarkan kusam dan meredup hingga kehilangan keindahannya.

“Jangan salah, Silat Kuntu ini sudah menyebar ke Kalimantan, Jawa Tengah, Cirebon dan Jakarta. Di Malang juga ada. Yang bawa yang orang Pasuruan, pesilat-pesilat dari padepokan ini,” kata Khotib.

Khotib sendiri sudah mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya demi Pencak Silat Kuntu Mancilan. Selain melatih, ia tidak memiliki kegiatan lain. Meski menjadi Ketua IPSI selama puluhan tahun dan menjadi anggota Majelis Pendekar Nasional, ia mengaku tidak mendapat materi dari organisasi tersebut. “Tapi Alhamdulillah selama ini selalu ada rejeki,” kata dia.

Khotib mendapat penghasilan dari melatih silat. Para pesilat kadang patungan secara sukarela untuk diberikan padanya sebagai ucapan terima kasih. (fyd/fyd)