Usaha Warga Kedawung Kulon Kurangi Banjir Musiman (habis)

837

warga kedawung perbaiki sungaiGrati (wartabromo) – Berbekal rutinitas menghadapi bencana banjir sejak 2003, warga Desa Kedawung Kulon berupaya untuk menelusuri dan membedah penyebab banjir tersebut. Satu persatu penyebabnya dipilah, dipelajari dan selanjutnya diusulkan pemecahannya dengan memperbaiki tanggul Sungai Rejoso maupun menormalisasi sejumlah saluran sekunder dan tersier.

Dengan adanya pembangunan dan perbaikan tersebut, diharapkan saat musim penghujan mulai datang di penghujung 2015 dan tahun-tahun berikutnya, banjir akan  berkurang.

“Paling tidak banjir sedikit terkurang. Sehingga warga bisa jauh lebih tenang untuk melakukan aktivitas dan kegiatan perekonomiannya,” kata Kades Kedawung Kulon, Sugiharto, beberapa waktu lalu.

(Desa Tangguh Bencana, Kedawung Kulon)

Di Sungai Rejoso masih belum dilakukan normalisasi sungai untuk mengangkat endapan lumpur yang membuat sungai menjadi dangkal. Sehingga saat musim penghujan, daya tampung aliran sungai justru menjadi susut atau berkurang dan mengakibatkan luapan yang memenuhi pemukiman warga.

Meski demikian, telah dilakukan perbaikan tanggul Sungai Rejoso, terutama tanggul yang jebol dengan total panjang 150 meter. Pengerjaan tanggul sungai dilakukan dengan pembuatan parafet berupa batu yang digeronjong atau ditahan dengan kawat. Sehingga tidak mudah ambrol tergerus aliran sungai yang deras saat musim penghujan.

(Relawan Desa Kedawung Kulon Sigap Bencana)

Sedangkan untuk saluran sekunder dan tersier, telah dilakukan normalisasi. Sehingga aliran air dari saluran sekunder maupun tersier setelah dari areal persawahan menuju sungai induk, yakni Sungai Rejoso menjadi lancar.

“Dengan pembangunan serta normalisasi saluran sekunder dan tersier tersebut, membuat saluran pembuangan ke sungai makin lancar. Kami berharap, pembangunan dan perbaikan diteruskan di tahun mendatang. Sehingga banjir yang berkurang sedikit demi sedikit, pada akhirnya tidak terjadi lagi,” harap Sugiharto.

Selain mengurangi banjir atau bahkan meniadakan banjir, dengan pembangunan dan perbaikan serta normalisasi saluran sekunder maupun tersier, dalam tempo yang relatif cepat dampaknya juga dirasakan warga. Terutama para petani.

Normalisasi saluran sekunder dan tersier yang menuju ke areal persawahan, membuat tanaman padi para petani tidak kekurangan air. Sehingga hasilnya melimpah dengan tingkat produktif lumayan tinggi. Setiap petak sawah berukuran 400 are, menghasilkan uang total sekitar Rp 10 juta.

“Dampak paling cepat, panenan padi menjadi jauh lebih bagus. Setiap hari truk pengangkut padi yang baru dipanen, bersliweran depan rumah saya,” pungkas Bagong Susianto. (Harjo Suwon/tabloid WARTABROMO)