Departemen Potong Rambut

1723

IMG_20160113_072848Mengantar temannya ke tempat pangkas rambut, Arif jadi kembali optimis bahwa untuk ”mencari nafkah” itu tidak susah-susah amat. Tidak harus jual kehormatan, jual akidah, jual ideologi, atau jual bangsa ini kepada kapitalis transnasional. Kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan primer: beli sekilo beras, segelas kopi, sebungkus rokok murahan dan ditabung buat keperluan mendadak, profesi sebagi tukang pangkas rambut ia kira cukup prospek.

Sebenarnya ia cukup gemetar setiap kali orang bicara soal MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Lha bagaimana tidak gemetar wong belum apa-apa persaingan mencari nafkah sudah begitu kerasnya. Melamar jadi pegawai pabrik harus bayar, mau narik ojek, setiap orang sudah punya motor, mau jualan koran, koran sudah gulung tikar tergerus surat kabar online. Ini belum apa-apa sudah seperti itu kerasnya persaingan.

Lha nanti kalau pekerja dari Cina, Korea, Singapura, Jepang dan India menyerbu Indonesia? Apa yang mau ia andalkan untuk merebut peluang? Modal tidak ada, skil minim karena bangku sekolah dan perguruan tinggi tidak mengajarkan apa-apa. Sedangkan di lain sisi pemerintah terlalu sibuk merumuskan undang-undang atau eker-ekeran kepentingan seakan itulah tugas utama.

Nah, melihat tukang cukur di lapak dekat sungai yang selalu ramai pelanggan, Arif terinspirasi untuk membuka lapak potong rambut di kampungnya. Sepertinya profesi ini—untuk sementara—cukup prospek. Prospek, maksud Arif, profesi ini kurang ada kaitan secara langsung dengan dinamika serta fenomena perekonomian global. Meski krisis ekonomi atau inflasi macam apa pun terjadi dan MEA dilangsungkan, inysa Allah profesi ini akan ”aman”. Bukankah hukum alam memang mengatakan bahwa rumput selalu aman dari terpaan topan?

Manusia purba juga bisa bertahan hidup hanya dengan tombak kayu atau kapak batu. Kesimpulannya: kita tidak mudah mati oleh lapar perut, tapi kita mudah binasa oleh lapar jiwa. Lapar hati. ”Obsesi manusia sering lebih raksasa dari ukuran tubuhnya” kata Andrea Hirata.

Harus diakui, orang memang sering grasa-grusu dalam mencapai tujuan. Tak pernah telaten untuk memulai sesuatu dari titik paling awal. Jika suatu hari ingin mencapai atau memiliki sebuah hal, orang cenderung memulai dari titik paling dekat dengan ketercapaian keinginan tersebut.

Jika logika untuk menjadi kaya itu harus dimulai dari bermandi keringat, kita sering menggunakan jalan pintas. Bahkan tak peduli hingga nabrak-nabrak segala. Ingin jadi milyuner tapi tak mau berkeringat; korupsi, mendirikan LSM, NGO, yayasan, lembaga broker politik atau event organizer kerusuhan jalan keluarnya. Ingin menikmati ”sorga dunia” tanpa mau ribet dengan ”kontrak” ikatan pernikahan, gonta-ganti pasangan alternatifnya. Ingin masuk sorga tanpa ibadah, bikin aliran sesat dan mengaku jadi nabi solusinya.

Sunnatullah mewajibkan segala sesuatu melewati proses. Kun fa yakun itu hanya milik Allah. Abra kadabra hanya ada dalam dongeng. Dan hal-hal aneh pun cuma sebuah kebetulan yang intensitas terjadinya amat jarang atau bahkan ”mustahil”. Nenek moyang kita memang bukan Marcopolo, kaum Samurai atau Iskandar Zulkarnain. Mental juang bangsa kita juga buru-buru dibonsai oleh bangsa Belanda dengan slogan agung ”alon-alon sukur kelakon.” Dan pada masa orde pembangunan etos bonsai itu masih diternak menjadi “biar lambat asal selamat”.

Akhirnya, kata bijak bernada politis, provokatif dan bodohkatif tersebut mendarah daging dan mendarah sum-sum dalam mental bangsa kita. Celaka, bersamaan dengan itu kaum imperial zaman sekarang mengompori kita untuk menjadi masyarakat bergengsi tinggi sekaligus konsumtif. Maka kita sukses menjadi masyarakat yang: malu menjadi penjual nasi goreng tapi tidak malu menjadi penjual kehormatan. Ogah menjadi loper koran tapi oke menjadi pengasong ”obat penenang”. Tak puas menjadi ustadz kampung malah nyambi menjadi pengepul suara saat pemilu.

Kita sih, kurang yakin jika jadi bakul ayam goreng –asal ditekuni—akan ajaib hasilnya. Kalau tidak percaya tanyakan Mc. Donald! Kalau Nabi saja tak segan menjadi pengembala kambing, salesman hingga ”kuli” timba air demi beberapa butir kurma, kalau para Nabi saja sudi berprofesi sebagai pandai besi, penjahit atau tukang tenun, kenapa kita sok elit dan jual mahal?

Sudah saatnya kita mengkaji rasa malu serta gengsi yang rupanya masih salah tempat itu. Apalagi kata Ustadz Karim, tukang potong adalah profesi sekaligus jabatan paling tinggi di dunia. ”Hanya tukang potong yang berani memegang kepala presiden atau raja” kata beliau.