Catwalk Idul Fitri

508
Foto ilustrasi: Gesang A Subagyo

Hmm, ahirnya lebaran juga. Firman Murtadlo duduk di teras rumahnya seraya mengamati lalu lalang orang ngelencer yang tak ada habisnya. Pelat nomor kendaraan luar kota berkali-kali melintas di jalan kampung itu. Siapa bilang rakyat kita melarat?, wong hampir semua kendaraan kinyis-kinyis, meski insya Allah sebagian besar hasil kredit.

Mobil-mobil mewah –entah punya rental entah milik pribadi—membuat ciut orang-orang semacam Firman Murtadlo yang mencari beras sekilo saja harus bermandi peluh. Alangkah kaya Tuhan yang mengkaruniakan bertriliun karunia kepada setiap manusia.

Hingga hari ini Firman Murtadlo masih belum menemukan jawaban, bagaimana seorang anak manusia yang ketika lahir tak membawa sehelai benang pun, bisa mengumpulkan karunia sebanyak itu. Seorang anak manusia saja bisa memiliki beberapa rumah mewah, berhektar tanah, beberapa mobil dan berlusin motor. Belum lagi karunia berupa deposito di berbagai bank, emas, intan, permata, hingga kadang, seseorang kebingungan bagaimana cara membelanjakan kekayaan yang terus bertambah dengan mudahnya.

Seseorang kadang begitu kebingungan untuk menghabiskan uang, sehingga harus membeli hal-hal yang sangat tidak ia perlukan. Saking bingungnya, mereka kadang masuk ke rumah makan yang harga menunya bisa dimakan sekeluarga Firman Murtadlo selama sebulan, hanya untuk dicicipi beberapa sendok lalu ditampung ke tempat sampah.

Kadang, seseorang menghabiskan uangnya hanya untuk membeli selembar sarung seharga beberapa gram emas. Kadang orang membeli sebotol parfum seharga beberapa ton beras, alangkah aneh selera manusia, seorang mahluk yang bahan bakunya berbau kurang sedap.

Idul Fitri adalah catwalk musiman untuk memperlihatkan karunia yang telah diraih oleh seorang anak manusia. Yang telah mampu mengkredit sepeda motor baru mengendarainya dengan penuh cita. Dipacu sekencangnya, dimodifikasi, diberi knalpon grunk agar jalanan makin semarak. Yang mampu mengkredit motor mahal mengendarainya dengan harga diri terangkat tinggi, bahwa dengan sekali blayer saja lawan jenis bisa jatuh hati.

Perempuan yang dikaruniai kecantikan ragawi, akan memamerkan nikmat Tuhan dengan maksimal. Bahwa tak semua orang berbadan indah. Dibalut dengan kain transparan atau tertutup namun jelas terlihat lekuk-likunya dalam rangka memberi sinyal syahwati. Corak, bahan serta model busana, bahasa tubuh serta inner beauty, diekspose habis-habisan karena ini hari pesta mahapora.

Seseorang yang telah berhasil mengumpulkan karunia Tuhan, juga memperagakan kecanggihan gadget mahalnya. Bahwa sebuah gadget, bukanlah sekedar alat komunikasi melainkan juga bahasa selera serta gaya hidup. Tak cukup jika ia hanya berisi aplikasi jadul, tapi juga harus dilengkapi dengan dongkrak, payung hingga kulkas.

Asesoris mahal harus dikenakan. Gelang emas berkilogram dikenakan karena lebaran adalah ajang memperlihatkan kenikmatan Tuhan. Bumi kita amat kaya akan tambang emas permata, untuk apa jika tidak dikeruk tuntas lalu dikenakan di berbagai bagian tubuh dalam rangka memperlihatkan nikmat Tuhan?

Sandang mewah yang telah murah tak seperti zaman Jepang, buat apa tak diborong habis dalam rangka memperlihatkan kemakmuran para hamba Tuhan? Lebaran berlangsung selama sebulan, tiap hari harus ngelencer dan kurang santun jika hanya mengenakan yang itu-itu saja. Maka baju baru lebaran, harus dipersiapkan beberapa setel dengan bahan, corak serta harga paling mewah, karena ini adalah hari baik untuk memperlihatkan nikmat Tuhan.

Cerita keberhasilan usaha juga perlu diperdengarkan kepada sanak suadara handai taulan. Bahwa Tuhan tidak pelit, Tuhan Maha Kaya untuk memberikan kesuksesan tanpa bisa ditakar serta dinalar akal waras. Sekali mendapat proyek telah cukup untuk membeli pulau pribadi. Sekali mendapat order sudah cukup untuk menafkahi tujuh turunan.

Maka, orang-orang kecil seperti Firman Murtadlo, sudah menderta pening sejak hari pertama lebaran.

“Selamat hari raya, mohon maaf jika pesta kami membuat Anda merasa kerdil dan dihianati nasib.”

Penulis: Abdur Rozaq