Kurikulum Dunia Akhirat

730

Setelah ditolak mendaftar kesana- kemari, anak Mas Bambang terancam tak bisa masuk sekolah favorit. Padahal, anak priyayi alias pegawai pemerintah harusnya sekolah di lembaga favorit dengan biaya –masuknya saja—puluhan juta rupiah. Itu sudah tradisi lawas sejak zaman Belanda. Dan mesti kita lestarikan hingga H-3 kiamat karena bisa menaikkan prestise.

Jack Vodka anak Mas Bambang, terbilang kurang mujur –sepertinya kuwalat para gurunya—tak bisa diterima di sekolah-sekolah favorit. Beberapa sekolah menolak karena sudah kelebihan kuota. Meski Mas Bambang telah menawarkan “kesepakatan”, kepala sekolah memohon maaf dengan segenap kerendahan hati. Mas Bambang puyeng. Rencana matang yang sudah dirancang saat selamatan neloni Si Jack dulu, kandas.

Sejatinya Mas Bambang ingin memasukkan Si Jack di sekolah yang setelah lulus pasti menjadi kuli, eh pegawai. Ini dalam rangka mengantisipasi nasib kurang baik. Si Jack diharapkan bisa mencari nafkah sendiri setelah Mas Bambang pensiun. Mas Bambang yang selama hidup lebih banyak berdiam di zona aman, ingin mewariskan kejayaan kepada anak cucu. Salah satunya, adalah dengan menyekolahkan Jack Vodka di sekolah jurusan kuli, eh tenaga ahli.

Puyeng, Mas Bambang melarikan diri ke warung Cak Manap. Sudah kebiasaan memang, Mas Bambang melarikan diri dari kenyataan menuju warung kopi. Tiap hari, jika jenuh duduk bengong (sudah 24 tahun) di kantor, Mas Bambang akan melarikan diri ke warung kopi seakan tupoksi pegawai sepertinya adalah jandoman ngopi. Dan kebetulan, manusia aneh bernama Firman Murtadlo, juga telah berada di sana. Mungkin juga sedang melarikan diri dari sumpek memikirkan nasib umat dan rakyat Indonesia.

“Cak, kalau ada informasi sekolah favorit yang bisa menerima anak saya, dikabari ya?” katanya langsung pada inti masalah.
“Wah, ya telat, mas. Ini sudah aktif KBM.” Mas Bambang langsung pucat.
“Terus bagaimana, cak. Masa Si Jack harus mendaftar tahun depan?”
“Ya masukkan sekolah alternatif saja.”
“Maksudnya?”
“Masukkan madrasah!” Mas Bambang nampak sedikit tersinggung. Raut mukanya kentara betul.
“Saya serius, cak.” Kata Mas Bambang.
“Saya juga serius, mas.”
“Saya ingin memasukkan ke sekolah favorit, kok. Biar langsung bekerja setelah lulus.”
“Lho, di madrasah malah langsung jadi juragan setelah lulus.”
“Ya maaf, cak. Saya ingin Si Jack masuk ke sekolah yang berkualitas biar dia jadi orang setelah lulus.”
“Nah, kalau itu cita-cita sampeyan, masukkan pesantren saja!” ujar Firman Murtadlo mantap.
“Saya ingin Si Jack jadi orang kok?”
“Nah ini kesalahpahaman kita selama ini. Pesantren itu lembaga pendidikan tertua lho, mas. Dan kurikulum yang digunakan, adalah kumulasi kurikulum nasional yang kita gonta-ganti sesuai kepentingan proyek itu. Kurikulum KBK, KTSP, K 13 atau kurikulum apa lagi yang sedang kita godog dalam rangka kepentingan tender pelatihan atau pengadaan buku, telah, sedang dan akan terus diterapkan di pesantren secara terpadu.”
“Hanya mempelajari kitab kuning, umat takkan bisa bersaing dengan masyrakat global, cak.”
“Setahu saya, dipesantren itu diajarkan bukan hanya teori, malah langsung terjun praktek dan mengelola potensi masing-masing pelajarnya.”
“Wong sarungan terus begitu, apa bisa mengoperasikan komputer, bicara bahasa asing?”
“Hmm, coba kapan-kapan sampeyan main ke Sidogiri sana.”
“Kalau semua jadi kiai, siapa yang mengoperasikan mesin pabrik?”
“Kalau begitu coba main-main ke pesantren terpadu yang menyelenggarakan pendidikan formal dan pesantren sekaligus.”
“Apa lulusannya diterima di dunia kerja? Jangan-jangan ijazahnya ditolak perusahaan.”
“Coba teliti alumninya, sudah jadi apa saja.”
“Rata-rata jadi guru madrasah juga.”
“Itu yang kurang beruntung. Yang sukses, selain jaya secara finansial, budaya, politik, juga berjaya secara ruhani.”
“Nanti kolot pemikirannya, cak? Tidak bisa diajak maju”
“Gus Dur itu alumni madrasah lho, mas.”
“Apa bisa diterima di perusahaan bonafid?”
“Lha kalau sekolah hanya untuk jadi kuli, lebih baik langsung kerja, tak usah sekolah?”
“Ya maklum lah, cak. Anak satu-satunya, saya khawatir nanti bingung cari pekerjaan kalau sudah menikah.”
“Di pesantren, murid tidak hanya diajari cari kejayaan dunia, tapi juga kejayaan akhirat. Entah kalau kita sudah tidak percaya jika akhirat itu ada, dan kita berprinsip hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup?”