Dua TKI Probolinggo Meninggal, Salah Satunya Ditembak Polisi Malaysia

330
Dua TKI asal Kabupaten Probolinggo dilaporkan meninggal, saltu di Afrika yang lain di Malaysia. Disnakertrans akan segera mengirim surat tembusan pada P4TKI untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Dok. WARTABROMO

Wonoasih (wartabromo) – Dua TKI dari Kabupaten Probolinggo dilaporkan meninggal di negara tempatnya bekerja. TKI tersebut diketahui bernama Abdul Malik yang bekerja di salah satu negara di Afrika dan Asmudi yang bekerja di Malaysia. Asmudi disebut meninggal karena ditembak polisi Malaysia.

Dari informasi yang berhasil dihimpun wartabromo.com, Abdul Halik merupakan warga Kecamatan Kotaanyar sedangkan Asmadi Atmari warga Desa Pakuniran Kecamatan Pakuniran.

Abdul Halik ini meninggal di Afrika atas informasi dari keluarga yang melaporkan kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Probolinggo. Hanya saja sampai sekarang masih dalam proses pengecekan ke P4TKI.

“Yang Abdul Halik itu memang ada laporan dari keluarga yang meninggal di Afrika, nah meninggalnya di mana juga masih belum jelas, hanya sebatas datanya. Tapi kami tetap melaporkan kepada P4TKI untuk dilakukan penelusuran,” ujar Kabid Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Probolinggo Usman Ali, Rabu (27/07/2016).

Sementara Asmadi, lanjut Usman, berdasarkan keterangan dari KBRI Malaysia meninggal karena ditembak polisi Malaysia di bagian dada pada 23 Juni lalu. Jasadnya saat ini berada di Hospital Raja Permaisuri Bainun, Perak, Malaysia.

“Dia target operasi polisi Malaysia karena merupakan pelaku kriminal,” sebut Usman.

Untuk Asmadi Atmari, Usman mengaku mendapat tembusan dari KBRI kepada Disnakertrans Kabupaten Probolinggo. Hanya saja saat dikroscek ke tingkat kecamatan dan desa, nama tersebut belum ditemukan keluarganya.

“Nah, dokumennya memang tidak lengkap, jadi ketika dikroscek kadang seperti ini, biasanya hal seperti ini mereka berangkat melalui tikong atau ilegal,” katanya.

Disnakertrans akan segera mengirim surat tembusan pada P4TKI, untuk memastikan jika orang yang dimaksud berasal dari Kabupaten Probolinggo. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, ada yang beralamat di Probolinggo tapi orang luar. Begitu sebaliknya, tahun lalu ada TKI yang bekerja di Malaysia meninggal dengan alamat Bangkalan, tapi ternyata orang Probolinggo.

“Hal itu terjadi karena berangkatnya yang tak resmi, sehingga dokumennya lengkap dan asal buat. Ini biasanya ulah tekong atau calo yang memberangkatkan mereka, apapun cara dilakukan agar bisa segera berangkat,” ungkapnya. (saw/fyd)