IKAPMII Pasuruan dan Idealisme Pergerakan

656
Foto ilustrasi: Aksi puluhan mahasiswa PMII di depan pendopo bupati berlangsung ricuh, Selasa (8/1/2013). Kericuhan terjadi karena keinginan mahasiswa menemui Bupati Dade Angga untuk menyampaikan aspirasi dihalangi petugas. Dok. WARTABROMO/Gesang A Subagyo

Tanggal 7 Agustus 2016 agaknya layak dijadikan titik awal sejarah dan gerakan baru PMII Pasuruan. Mengapa demikian? Sebelum-sebelumnya, PMII hanya berada di batas pintu masuk Pendopo, sekarang menduduki Pendopo Kabupaten Pasuruan. Lebih dari itu, Silaturrahmi Akbar Kader dan Alumni PMII Pasuruan tersebut, membuktikan bahwa Alumni PMII menyebar dalam berbagai profesi. Mulai dari bupati, ketua dewan, anggota dewan, akademisi, sastrawan, staf ahli, konsultan, anggota LSM, ormas, kyai, pengusaha, pendidik, penulis, wartawan, dan masih banyak lagi.

Ada yang bilang, beberapa Sahabat PMII melakukan Zina Muhshon Ibu Pertiwi (baca: Idealisme dan Zina Muhshon Ibu Pertiwi, wartabromo.com edisi 7 Agustus 2016). Hemat penulis, bisa jadi memang begitu dan tidak, serta seharusnya lebih dari sekedar itu. Nah, kembali kepada titik awal gerakan baru PMII Pasuruan, menjadi sangat menarik ketika keberagaman profesi alumni PMII di Pasuruan digerakkan menjadi amunisi dalam membangun Pasuruan yang lebih baik, atau bahasa Bupati Pasuruan adalah Pasuruan Maslahat.

Desain gerakan seperti itu, bukan menjadi sekedar ide, melainkan akan benar-benar dilakukan oleh IKAPMII Pasuruan 2016-2021. Apa buktinya? Tema Silaturrahmi Akbar tersebut adalah “Kolaborasi Intelektualitas dan Kearifan Budaya Menuju Pasuruan Baru”, yang memberikan kesan dan keyakinan bahwa IKAPMII Pasuruan masih dan tetap memperjuangkan idealisme pergerakan. “Berbeda dengan IKAPMII-IKAPMII didaerah lain, dengan Tema yang diusung, menunjukkan IKAPMII Pasuruan masih memperjuangkan idealisme.” Ujar Mujahid Anshori selaku Ketua Umum IKAPMII Jawa Timur dalam sambutannya diacara tersebut.

Maka, apa yang menjadi dilema, refleksi, dan harapan (baca: Idealisme dan Zina Muhshon Ibu Pertiwi) sepatutnya layak untuk diperjuangkan mati-matian. Oleh sebab itulah, penulis teringat sebuah gagasan besar Kaderisasi PMII. Seperti yang penulis pernah tulis, “Engkau adalah Kader PMII, maka jadilah apa yang kalian mampu dan apa yang kalian suka dengan tetap mempunyai dan menjiwai paradigma pergerakan PMII.

Bila engkau menjadi pendidik, jadilah Pendidik yang Kritis Transformatif. Bila engkau jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang ber-NDP (Nilai Dasar Pergerakan). Bila engkau jadi Politisi, jadilah politisi yang ber-Manhaj al-Fikr Aswaja, dan seterusnya. Dengan begitu, hidup kita akan benar-benar sebagai hamba Allah dan Khalifah di Bumi.” (Berproses di PMII, Selamanya Menjadi PMII-Buku Kado Ultah ke 56 Tahun PMII 2016).

Menyadari akan hal itu, benar bahwa tugas besar IKAPMII Pasuruan 2016-2021 adalah merajut intelektualitas Alumni sebagai Gerakan Baru menuju Pasuruan Maslahat. Apakah PMII sudah tidak idealis saat bergerak bersama dengan pemerintah? Tentu saja tidak.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, beberapa Alumni PMII mengemban tugas itu. Kalau memang yang dilakukan itu benar, harus dikawal dan bela. Sebab gerakan perubahan yang dikawal hanya melalui trotroar jalan, menjadi sebuah keangkuhan dan kesombongan saja, di kala kita hanya melakukan gerakan trotoar jalan tanpa melakukan gerakan-gerakan yang lain.

Karena itu, Alumni PMII yang sudah tersebar tersebut harus dirajut dan diingatkan kembali, bahwa kita Kader dan Alumni PMII harus tetap dan terus memperjuangkan idelaisme dan membangun Pasuruan dan Indonesia menjadi lebih baik. Baik melalui Pemerintahan, Partai politik, Organisasi Masyarakat (Ormas), LSM/NGO, OKP, Ekonomi, dan lain sebagainya. Sekali lagi, penulis selalu yakin bahwa, “Berproses di PMII, Selamanya Menjadi PMII. Selama itu pula idealis. Tangan terkepal dan maju kemuka. Salam pergerakan.”

Penulis: Makhfud Syawaludin, kader PMII Pasuruan