Batik Dewi Rengganis, Romantisme Kejayaan Majapahit di Probolinggo

2518

Probolinggo (wartabromo.com) – Pengrajin batik di Kabupaten Probolinggo terus berkembang. Saat ini setidaknya sudah ada 13 pengrajipn tersebar se-Kabupaten Probolinggo. Namun, satu-satunya pengrajin batik dengan menonjolkan nuansa Majapahit bermotif Dewi Rengganis adalah Rusyami, warga RT 03, RW 03, Dusun Kuripan, Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan.

Ide pembuatan batik motif itu, terinsparasi dari legenda Dewi Rengganis yang dikatakan pernah bersentuhan dengan masyarakat Probolinggo,

Dijelaskan, ia merupakan salah seorang putri dari Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, yang lahir dari salah satu selirnya. Konon Putri ini, pernah tinggal di antara Kecamatan Krucil, Tiris dan Krejengan.

Dewi Rengganis digambarkan sebagai seorang perempuan yang sangat cantik jelita. Setelah dewasa, ia mendirikan kerajaan di Pegunungan Argopuro. “Motif yang kami buat sekaligus melestarikan legenda yang selama ini dipercaya masyarakat Kabupaten Probolinggo,” ujar penyandang gelar sarjana agama ini.

Ada berbagai varian motif batik diciptakan untuk menggambarkan, diantaranya Rengganis Kasmaran, Rengganis Kelayu, Pengasihan Dewi Rengganis, Wijaya Kusuma dan Sayap Ratu.

Pengasihan Dewi Rengganis misalnya, digambarkan dalam bentuk mahkota sang Dewi. Warna biru sebagai warna latar menandakan dalamnya kasih Dewi Rengganis. Kemudian daun dan sulur menandakan sebuah kekuatan yang akan menyatu dalam sebuah kasih sayang.

Dalam motif Rengganis Kelayu, sang putri tengah melarikan diri ke suatu tempat. Ia dikelilingi oleh pohon bambu yang sangat lebat, sehingga orang lain kesulitan untuk menemukan dirinya. Ia pergi dari istana menuju hutan karena menenangkan hatinya, setelah cinta kepada pujaan hati bertepuk sebelah tangan.

Sementara dalam motif Rengganis Kasmaran, warna merah bata sangat dominan. Terlihat sang dewi tengah merenung di suatu sore hari. Raut mukanya penuh kerinduan akan hadirnya sang pujaan hati. “Digambarkan sosok yang cantik, jadi kami buat batik yang motifnya adalah seorang perempuan,” urai wanita yang secara otodidak belajar batik ini.

Untuk satu helai batik dengan panjang 225 sentimeter dan lebar 115 sentimeter, dilepas dalam rentang harga Rp. 200 ribu hingga Rp. 2 juta . Dengan karyawan mencapai 48 orang, kini omsetnya mencapai Rp. 95 juta. Omset itu, bisa kurang atau bahkan lebih, tergantung dari motif dan harga batik yang terjual.

Karya-karya Rusyani, mendapat apresiasi dari Bupati Probolinggo Puput. Tantriana Sari. Ia berharap agar keberhasilan ini, bisa menginspirasi insan pengusaha kecil lainnya dalam menekuni sebuah usaha.

“Hajah Rusyami ini latar belakang pendidikannya tidak ada kaitannya sama sekali dengan urusan tekstil apalagi batik. Namun kecintaannya pada budaya dan warisan leluhur serta motivasi belajar yang kuat telah mampu membawanya sejauh ini,” ungkap Tantri. (saw/saw)