Tak Berimbang dengan Biaya Produksi, Kentang Bromo Dihargai Rp 7 Ribu/Kg

1048

Probolinggo (wartabromo.com) – Harga kentang, hasil budidaya petani Bromo hanya dihargai Rp 7 ribu per kilogram. Harga itu tak seimbang dengan biaya tanam yang dikeluarkan petani, sebelum musim panen kentang kali ini.

Menurut Hasmar, petani Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, harga kentang sebesar Rp 7 ribu itu berlaku di tingkat petani, pada kentang dengan kualitas rata-rata. Sementara untuk kentang dengan kualitas bagus, bisa sampai Rp 10 ribu.

“Tapi itu bagi kentang yang besar-besar, karena memang sudah ada segmen tersendiri. Tapi rata-rata ya laku tujuh ribu itu. Minimal ya diatas sepuluh ribu, baru petani untung,” ujarnya, Kamis (15/3/2018).

Dengan harga rata-rata itu, petani dikatakan merugi. Sebab, saat ini harga bibit mencapai Rp 35 ribu per kilogram. Jika bibit itu, besar-besar maka 1 kilogram, cukup untuk 10 lubang tanam. Dalam 1 hektare ladang, setidaknya petani membutuhkan bibit hingga 1 ton. Bila hasil tanam bagus, petani mampu memanen hingga 10 ton. Tetapi acapkali, petani hanya mendapat hasil panen yang tak memuaskan, karena tanaman kentangnya rusak.

“Kalau bagus ya hasil, namun terkadang petani sering merugi karena hasil panennya tidak maksimal. Salah satu faktornya adalah harga obatan-obatan yang mahal dan curah hujan yang tinggi, membuat pertumbuhan kentang tidak maksimal,” terang Hasmar.

Tak hanya kendala mahalnya obat-obatan, petani juga cukup direpotkan dengan sulitnya mencari bibit yang berkualitas baik. Sebab, disaat musim tanam yang bersamaan, petani di Kecamatan Sukapura dan Sumber, harus berburu bibit kentang ke Kecamatan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.

Menurut Martam, petani kentang lainnya, bibit yang bagus salah satunya, bibit turunan pertama hingga keempat. Dengan bibit bermutu 1 bibit mampu menghasilkan 2 kilogram kentang siap panen. Sementara, jika bibit itu turunan kelima dan seterusnya, hasilnya tidak maksimal karena cenderung menurun.

“Kalau bibit baru, maka hasil panennya banyak. Tetapi yang ketika musim tanam tiba, bibit-bibit baru itu jarang didapat. Banyak petani yang harus mencarinya ke Nongkojajar, untuk mendapat bibit baru,” kata Martam. (saw/saw)