Demam Sepak Bola, Kampung di Gerongan Pasang Ratusan Bendera Peserta Piala Dunia 2018

1619

Kampung bola : Antusiasme terlihat dari ratusan bendera peserta Piala Dunia berkibar di depan rumah warga Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
*)Oleh : Willy Abraham

Pasuruan (wartabromo.com) – Kurang dua pekan Piala Dunia 2018 bergulir, gaungnya sudah dirasakan di berbagai daerah, tak terkecuali di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Antusiasme terlihat dari ratusan bendera peserta Piala Dunia berkibar di depan rumah warga.

Warna warni yang dihasilkan dari ratusan bendera menambah meriah suasana desa yang memiliki empat dusun tersebut. Letak Desa Gerongan yang panas karena berada di pesisir laut seperti tak ada beda dengan dinginnya Rusia, tempat diselenggarakannya ajang empat tahunan tersebut.

Tampak bambu yang bediri tegak dengan berbagai ukuran dari yang kecil hingga raksasa tepat berada di depan rumah. Masing-masing rumah, memasang bendera jagoan favoritnya.

Ukuran bendera di setiap rumah bervariasi, ada yang 4 X 5 meter hingga 10 X 20 meter. Untuk tiangnya sendiri, warga menggunakan tiang dari bambu dengan berbagai ketinggan yaitu, 10 hingga 30 meter.

Menariknya, mereka melakukan pemasangan bendera tersebut secara sukarela tanpa paksaan. Mulai dari mencari bambu sampai menjahit sendiri bendera negara favorit setiap rumah.

Hal semacam itu, bisa dikatakan sudah menjadi tradisi bagi warga desa Gerongan setiap menyambut Piala Dunia. Tradisi tersebut bermula pada tahun 1998, warga desa Gerongan dikenal sebaga penggemar sepak bola dan mereka sering mengadakan nonton bareng. Warga mengeluarkan televisinya di depan rumah. Tak peduli usiaz baik anak kecil hingga orang tua. Tradisi tersebut dilestarikan hingga sekarang.

“Sejak Piala Dunia 1998 ini, nontonnya di televisi warga, ditaruh luar terus nobar ramai-ramai,” ujar Sueb Ahmad salah seorang warga mengaku pendukung timnas Arab Saudi.

Setiap negara yang kalah, otomatis bendera tersebut harus turun. Kalaupun pemilik bendera tersebut lupa tidak menurunkan, maka warga yang menurunkan secara paksa.

“Pokoknya yang kalah harus turun, yang berkibar hanya untuk tim-tim yang main,” ujar Sueb sambil berkelakar.

Dipastikan, antusiasme warga yang begitu besar terhadap sepak bola tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif seperti taruhan, maupun judi.

Mereka hanya menggunakan uang iuran seikhlasnya untuk membeli makanan, yang disantap beramai-ramai setelah pertandingan.

“Tidak ada taruhanz di sini adanya mayoran (makan bersama). Iuran seikhlasnya saja ada yang Rp5-10 ribu, dikumpulkan buat beli makan, pertandingannya selesai terus mayoran,” pungkas Sueb.(*)