Dendy Arifianto Berbagi Cerita Ketika Tiba-Tiba Hilang Penglihatan (2-Habis)

1749

Caranya gampang. Yakni, dengan memotret teks buku versi cetak yang ingin dibaca. Selanjutnya, hasil jepretan yang tertangkap oleh kamera smartphone tersebut akan terbaca oleh program. Jika pun ada syarat lain, adalah dukungan koneksi internet yang baik. Sebab, jika tidak, proses pembacaan teks oleh software akan memakan waktu yang relatif lama.

Dikatakan Dendy, hingga kini assistance technology for the blind itu terus berkembang. Harapannya dengan adanya teknologi tersebut bisa menjadikan tunanetra melewati segala keterbatasan visual yang dialaminya.

“Pada dasarnya, hakikat teknologi kan itu, memudahkan manusia untuk melangkah lebih efesien dan efektif dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Karena itu, melihat perkembangan teknologi yang semakin canggih, bukan tidak mungkin, dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, para difabel tidak akan merasa menjadi difabel. Sebab, sudah ada teknologi yang memudahkan mereka.

Baca Juga :   Bocah SD Asal Surabaya Tewas Tenggelam di Pemandian Alam Probolinggo

Meski begitu, diakui oleh Dendy, lingkungan yang belum mendukung acapkali justru menjadi kendala bagi para difabel untuk berkembang. Misalnya saja soal urusan pekerjaan. Tidak banyak penyedia kerja yang memberikan kuota khusus kepada kaum difabel. Padahal, melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pemerintah mewajibkan kuota 1 persen untuk swasta dan 2 persen untuk lembaga/intansi pemerintah, bagi kaum difabel ini.
Inilah yang menurut Dendy masih menjadi persoalan.

Secara umum, masyarakat masih melihat bahwa kaum difabel merupakan kelompok marjinal yang laik untuk dikasihani. Bukan pada wilayah bagaimana memberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

“Ini masih terus coba kami perjuangankan,” jelas Dendy.

Saat ini Dendy sedang fokus mencari beasiswa S2. Satu program beasiswa dari salah satu kementerian sudah lolos di lalui di tahap pertama. Sekarang Dendy masih menunggu proses selanjutnya.

Baca Juga :   Kisah Tuna Aksara : Anak Malu Punya Bapak Tak Bisa Membaca

Dendy sendiri bukanlah satu-satunya orang yang hilang penglihatan tiba-tiba. Berdasar informasi yang didapat WartaBromo dari berbagai sumber, kasus ablasio retina di Indonesia cukup tinggi. Dalam setahun, rata-rata kasus ablasio retina mencapai 150 ribu kasus. Setiap penderita biasanya akan merasakan banyak banyangan pada bidang penglihatan. Selain itu, cahaya yang masuk serasa berkedip-kedip. (*)