Coba Penuhi Pasar, Petani Mangga di Rembang Upayakan Percepatan Produksi

2260
Mangga – Seorang petani di Rembang Kabupaten Pasuruan menunjukkan buah mangga, hasil teknologi pembungaan awal, Selasa (24/7/2018).

Rembang (wartabromo.com) – Petani mangga Klonal 21 di Desa Oro-Oro Ombo Wetan dan Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, ‘nekad’ panen lebih awal. Tingginya permintaan pasar plus harga menggiurkan, jadi alasan petani lakukan percepatan produksi.

Meski beresiko tinggi, sebagian Petani Mangga Klonal 21 di Desa Oro-Oro Ombo Wetan dan Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan berani melakukan panen lebih awal.
Bukan tanpa alasan, para petani tersebut ‘memaksa’ pohon-pohon mangga miliknya untuk bisa berbuah. Petani sukses memanfaatkan teknologi pertanian pem-bunga-an awal atau disebut Early Flowering Technology (EFT).

Santoso (58), salah satu petani mangga klonal 21 asal Dusun Berran, Desa Oro-Oro Ombo Wetan mengungkapkan, permintaan pasar akan mangga klonal 21 sudah membumbung tinggi. Ditambah dengan harga mangga yang terbilang menggiurkan, yakni Rp 35 ribu-Rp 38 ribu per kilogram.

Baca Juga :   Satu Lagi, Pelaku Begal Motor di Rejoso Ditangkap

“Banyak pelanggan yang sudah memesan, mulai dari pengepul sampai pemborong dari Surabaya, Malang, Bogor dan Jakarta yang mau membeli mangga klonal 21 dengan harga Rp 38 ribu per 1 kg,” ungkap Santoso di kebun mangga miliknya, Selasa (24/07/2018)

Kondisi pasar yang menguntungkan, membuatnya berpikir keras agar pohon-pohon mangga miliknya cepat berbuah, hingga mengetahui ada teknologi yang dapat membantunya, agar dapat segera merebutnya.

Itulah kemudian, ia manfaatkan Teknologi EFT. Dalam prakteknya, cara itu dilakukan dengan menggunakan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dengan bahan aktif paclobutrazol. Hal utama juga dalam budidayanya adalah bagaimana selanjutnya dapat mengendalikan hama penyakit.

“Tapi resikonya memang tinggi, kalau sampai terlalu banyak dalam menggunakannya, maka pertumbuhan bunga atau buah akan tidak maksimal, bahkan bisa menyebabkan pohon mati karena kebanyakan,” tegasnya.

Baca Juga :   3 Pemuda yang Diamankan di Pesona Candi Dapat Sabu dari Bandar Dalam Kota

Santoso lantas mencontohkan, penggunaan paclobutrazol cukup 10 mililiter untuk satu pohon. Selain itu, penggunaan pupuk organic dan anorganik juga harus berimbang, yakni 12 kilogram pupuk kandang dan 2 kg pupuk ZA serta 3 kg pupuk ponska. Seluruh pupuk tersebut digunakan sekali saja dalam wkatu satu musim.

“Kalau lagi musim hujan harus sering diawasi, karena takutnya bunganya banyak yang rontok. Kalau dibiarkan begitu saja, takutnya ada lalat buah yang mengganggu berkembangnya buah. Kita semprot 2 hari sekali. 1 tangki berisi 20 liter semprot buah untuk 5 pohon,” jelas dia sembari menunjukkan buah mangga kepunyaannya.

Santoso mengaku memiliki 3 hektar kebun mangga. Tiap hektar berisi rata-rata 100-110 pohon, dan 1 pohon bisa berbuah antara 50 kg sampai 2 kwintal. Untuk saat ini, dirinya belum bisa memenuhi permintaan pasar yang begitu tinggi, lantaran memang belum memasuki panen raya mangga, yang ia sebut nanti pada bulan September hingga Desember mendatang

Baca Juga :   Melirik Bidadari di Genangan Banjir Kraton Pasuruan

“Setiap hari selalu ada permintaan mangga, dan karena memang belum banyak, jadi kami tidak bisa memenuhinya. Sudah kami jelaskan bahwa tidak banyak yang bisa kita panen, karena menunggu satu setengah bulan lagi,” urainya. (mil/ono)