“Bediding”, BMKG Ingatkan Warga Jatim Waspada Gangguan Kesehatan

0
1400
Hamparan tumbuhan di objek wisata Ranu Pani, di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang muncul es, Rabu (25/7/2018). Rendahnya suhu udara di malam hari menjadi salah satu sebab. Foto untuk ilustrasi.

Surabaya (wartabromo.com) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ingatkan suhu ekstrem di musim kemarau kali ini. Peristiwa yang biasa disebut ‘bediding” itu memicu gangguan kesehatan, karena cuaca panas (kering) pada siang hari, serta dingin pada malam hari.

Hal itu terungkap dalam rilis oleh BKMG Stasiun Meteorologi Klas I Juanda Surabaya, yang disebar secara tertulis, pada Jumat (3/8/2018).

‘Bediding” (suhu dingin saat musim kemarau terjadi), dijelaskan oleh BMKG, karena saat musim kemarau
langit cerah atau tidak ada tutupan awan.

“Radiasi sinar matahari yang diterima oleh bumi pada malam hari akan diteruskan kembali ke luar angkasa pada malam harinya,” ungkap BMKG.

Dilanjutkan, karena tidak adanya tutupan awan, dimungkinkan radiasi matahari akan diteruskan secara besar-besaran ke luar angkasa. Tentu saja, hal itu berakibat suhu di bumi menjadi dingin.

BMKG memastikan kondisi yang digambarkan itu normal, meskipun terdapat ‘prasyarat”, yakni jika suhu udara minimal tidak lebih rendah 3 °C dari kondisi normalnya.

BMKG Juanda memprakirakan secara umum, “bediding” masih dapat terjadi dalam periode waktu 3 hingga 7 hari kedepan.

“Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur, agar tetap menjaga kesehatan akibat dari perbedaan suhu pada siang dan malam hari, selalu waspada,’ tulis BMKG. (ono/ono)