Jemaat Gereja Merah Rajut Perbedaan di Momen Kemerdekaan

924
Jemaat Gereja Merah, menyimak khutbah misa, Minggu (19/8/2018).

Probolinggo (wartabromo.com) – Ada yang beda dari penampilan umat Kristiani Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel jalan Suroyo, Kelurahan Tisno Negaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Saat menghadiri misa peribadatan pada Minggu (19/8/2018) siang, ratusan jamaah gereja, memakai busana adat.

Ada yang memakai baju adat Jawa, Bali, Batak, Sumatra, Madura, Kalimantan maupun Ambon, terlihat penuh warna, memenuhi ruangan gereja, yang kondang dengan sebutan Gereja Merah itu.

Geaully Iskandar (22), salah satu umat Kristiani, mengatakan, ia berpakaian adat dengan tujuan untuk menunjukkan Indonesia itu beragam suku bangsa dan budaya. Namun tetap satu jua yaitu Indonesia.

Gereja Merah Probolinggo.

“Saya sangat bangga menjadi orang Indonesia, untuk menyambut hari kemerdekaan kami buktikan bahwa meski Indonesia berbeda suku dan budaya namun tetap rukun dan bersatu, itulah Indonesia,” katanya.

Menurut pendeta Gereja Merah, Rifka Yuneri Atalaka, selain untuk menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73, peribadatan bernuansa unik itu juga untuk merayakan hari jadi gereja. Diungkapkan, Gereja Merah telah berusia 156 tahun, semenjak dibangun pada 1862 maseh,i semasa jaman kolonial Belanda. Iapun menegaskan sudah sepantasnya, umat kristiani saling menjaga dan menghormati, meski berbeda budaya dan adat istiadat.

“Kami berbusana adat masing-masing ini untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu, diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda namun tetap satu jua. Beragam budaya yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia begitu kaya, dan kami tetap bersatu. Karena NKRI harga mati, kami berdo’a supaya Indonesia tetap aman dan damai,” tutur Pendeta asal NTT tersebut. (fng/saw)