Kasus Pawai Kemerdekaan di Kota Probolinggo Dinyatakan Klir

915

Probolinggo (wartabromo.com) – Kapolres Probolinggo Kota AKBP. Alfian Nurrizal menyatakan kasus pawai anak bercadar dan bergaya tenteng senjata sudah klir. Ia meminta publik, utamanya nitizen, tak lagi menyorotinya.

Kepada wartabromo.com, AKBP Alfian mengatakan, pihaknya sudah menutup kasus itu pasca pihak-pihak yang terlibat di dalamnya melakukan klarifikasi. Bahkan, penjelasan juga telah disampaikan ke Mendikbud Republik Indonesia Muhadjir Effendy. Sehingga tak perlu diperpanjang ke ranah hukum. “Sudah kami tutup seiring dengan klarifikasi dari berbagai pihak, seperti kepala sekolah, panitia, dan dinas pendidikan. Kasus ini kami nyatakan klir,” ujarnya, Senin (8/20/2018) sore.

Ia menjelaskan, penyelidikan yang dimaksud sebelumnya adalah menelusuri seperti apa kebenaran video atau foto yang diunggah ke media sosial itu. Apakah fakta sebenarnya sesuai dengan yang diributkan oleh nitizen. Sebab pawai itu sendiri mengusung tema ‘Bersama perjuangan Rasulullah, kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT’. “Nyatanya unggah video berdurasi 14 detik itu, tak sesai dengan fakta di lapangan, karena video itu tidak utuh,” kata Alfian.

Baca Juga :   Heboh, Pasangan Ini Menghabiskan Triliunan Rupiah untuk Pernikahannya

Dalam video yang lebih panjang dengan durasi 1 menit 34 detik, milik nitizen lainya, ternyata berbeda. Pada video yang lebih komplit itu, peserta paling depan adalag pembawa papan nama TK Kartika. Kemudian diikuti siswa yang membawa bendera Indonesia, lalu ada miniatur Ka’bah, Raja “Salman’ dan ratu dalam kereta kencana. Setelah itu ada pasukan bersorban naik kuda dan onta. Baru setelah itu, ada pasukan tertutup berwarna hitam dengan cadar serta membawa replika senjata laras panjang. Pasukan wanita ini dimaksudkan, sebagai tentara Kerajaan Saudi Arabia.

Namun oleh warganet, fakta tersebut tidak dimunculkan secara utuh. Sehingga menimbulkan stigma negatif di masyarakat maupun warganet. Hal itupun menimbulkan kegaduhan massal, terkait pawai anak-anak dengan kostum menyerupai militan kaum radikal. “Jadi tidak ada unsur kesengajaan atau indikasi penanaman paham radikalisme sejak usia dini di sini. Itu tidak benar. Kami tegaskan kalau ancaman itu tidak benar,” tegas perwira asal Sumenep Madura itu.

Baca Juga :   Untuk Percepatan Pembangunan Pasuruan, Ini Resep Guru Besar UMM

Sejumlah pihak, seperti Kepala TK Kartika V-69, Hartatik; Ketua pelaksana pawai budaya TK dan PAUD, Supini; Kadisdikpora Muhammad Maskur; dan Dandim 0820 Probolinggo, Kolonel (Kav) Depri Rio Saransi telah mengklarifikasi kasus itu. Mereka juga minta maaf karena hal itu bukan sebuah kesengajaan untuk menanamkan radikalisme. Namun, hanya memanfaatkan properti milik sekolah demi menghemat anggaran.