Praktik “Plasi” Bikin Petani Bawang di Probolinggo Merugi

1151
Petani saat memanen bawang merah. Kini, di tengah harga bawang anjlok, petani dihadapkan adanya penerapan plasi sebesar 20%-40%.

Probolinggo (wartabromo.com) – Petani bawang merah di Kabupaten Probolinggo resah dengan plasi (potongan timbangan) yang diterapkan oleh pedagang. Plasi itu berkisar antara 20%-40% per kuintal, hingga mencekik petani di tengah murahnya harga bawang merah.

Menurut Muhamad, salah satu petani di Desa Sumber Kledung, Kecamatan Dringu, saat ini para pedagang atau pengepul bawang merah menerapkan plasi beragam, tergantung dari bawangnya.

Ia menyebutkan plasi diterapkan antara 20% sampai kisaran 40%. Artinya, dalam 1 kuintal (100 kilogram), bawang merah hasil panen petani dipotong sebesar 20–40 kilogram.

“Plasi ini merupakan potongan timbangan yang diterapkan pedagang. Plasi tidak hanya berlaku bagi petani yang menjual bawang di sentra pasar bawang Dringu, melainkan juga bagi petani yang menjual bawang merah di sawah,” tuturnya, Kamis (30/8/2018).

Di sisi lain, petani juga dipusingkan dengan harga bawang merah yang terus anjlok. Saat ini, harga bawang merah super ditingkat petani hanya sebesar Rp 12 ribu per kilogram. Sedangkan bawang merah kualitas biasa, harga jualnya tak melebihi Rp 10 ribu per kilogram. Harga itu tak sesuai dengan nilai produksi bawang merah.

Ia mengatakan, untuk 1 hektar lahan bawang merah, biaya produksinya diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Biaya itu meliputi sewa tanah, bibit, obat-obatan dan tenaga kerja. Sementara dalam 1 hektarnya, jika dalam kondisi bagus mampu menghasilkan sekitar 10 ton bawang merah. “Jika dihitung antara biaya produksi, kemudian dikalikan harga dan dipotong plasi, maka petani akan rugi puluhan juta,” terang ayah 2 anak itu.

Hal yang sama juga dikeluhakn oleh Sugianto, petani bawang asal Gending. Ia menuturkan petani bawang di sentra bawang (wilayah Kecamatan Gending, Tegalsiwalan, Banyuanyar, Dringu, dan Leces), sangat menderita dengan adanya plasi yang sangat tinggi itu. Sebab, tingginya plasi, menguntungkan pengepul, sementara petani buntung.

“Sangat dirasakan oleh petani, terutama jika harganya anjlok seperti saat ini. Mungkin jika harga bawang tinggi, tidak terlalu dirasakan dampaknya oleh petani. Karena itu, kami berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan,” kata Sugianto. (cho/saw)