Ironi Warga Candiwates, Desa Sumber Air yang Justru Terancam Krisis

4330
Warga Candiwates, Prigen saat antri mendapatkan air bersih.
Memiliki sumber air melimpah, sebagian warga Desa Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan justru kekurangan air. Ekploitasi yang tak terkendali diduga sebagai penyebabnya.

Laporan M. Asad

APA boleh buat. Daripada bingung mencari air untuk kebutuhan memasak esok harinya, Sawal memutuskan menunda waktu istirahatnya. Malam itu, bersama warga yang lain, ia memilih menunggu kiriman air bersih itu datang. Beruntung, tak lama kemudian, truk tangki yang ditunggu itu akhirnya tiba.

Ya, sudah hampir sebulan ini Sawal yang warga RW 1 RT 2 Desa Candiwates, Kecamatan Prigen harus tidur lebih larut. Krisis air bersih yang terjadi belakangan membuatnya harus mengantre ketika kiriman air bersih itu tiba. “Sudah sebulan ini susah air,” kata pria 60 tahun itu.

Selain Sawal, hal yang sama dilakukan Iksan (58), dan juga Jono. Bagi mereka, kemarau saat ini adalah yang terparah dibanding musim-musim kemarau sebelumnya. Betapa tidak, untuk pertama kalinya, mereka harus antre mendapat air bersih dari mobil tangki yang dikirim pengusaha air curah di desanya.

Hanung, tokoh masyarakat setempat mengatakan, krisis air bersih yang melanda sebagian warganya adalah sebuah ironi. Sebab, selama ini, Desa Candiwates dikenal memiliki kekayaan air yang melimpah. Setiap hari, ada puluhan hingga ratusan truk tangki yang keluar masuk mengangkut air.

“Ini kan menjadi ironi bagi warga sini. Sumber air yang melimpah, tapi sebagian warganya justru kekurangan air bersih.,” terang Hanung. Eksploitasi air yang cenderung tanpa batas, dikatakannya menjadi penyebab krisis yang terjadi saat ini.

Menurut Hanung, saat ini, setidaknya terdapa 10 hingga 15 sumur artesis yang dikelola para pengusaha air curah. Oleh mereka, air curah itu dijual dengan menggunakan mobil tangki ke luar daerah. Seperti Surabaya, Sidoarjo hingga Gresik. Boleh jadi, karena praktik yang sudah berlangsung lama itu pula, debit air di sumur-sumur milik warga menjadi berkurang.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, pihak desa sejatinya memiliki jaringan pipa yang bersumber dari sumur artesis. Akan tetapi, belangan, air yang keluar juga byar-pet karena debit menurun. “Baru kali ini terjadi seperti ini,” terang Hanung.

Di sisi lain, krisis air yang terjadi di Desa Candiwates memantik perhatian dari pegiat lingkungan Yayasan Satu Daun, Satu Daun. Menurutnya, apa yang dialami warga Candiwates menjadi potret betapa krisis air ancaman nyata di depan mata. Lemahnya kontrol terhadap praktik ekspolitasi air dinilai sebagai penyebabnya.

“Kita sebenarnya sudah punya regulasi yang cukup baik, utamanya dalam hal tata kelola sumber daya air. Tetapi, pelaksanaan di lapangan, ini yang acapkali tidak berjalan maksimal,” jelas Sudiono. Karena itu, bagi Sudiono, harus ada upaya konkret dari para stakeholder agar kondisi seperti ini tidak terus berlanjut.

“Kita punya banyak tantangan. Penduduk semakin banyak, dengan ragam kebutuhannya, termasuk air. Jika tidak diatur, bukan tidak mungkin, generasi setelah ini akan lebih kesulitan lagi untuk mendapatkan air,” jelas Sudiono. (*)