Perkuat Peran Wartawan Dalam Pembangunan, PWI Pasuruan Gelar Seminar

701
Irsyad Yusuf sedang mengisi seminar PWI Pasuruan dengan tema "Peran Media Dalam Transparansi Pembangunan" di Hotel Tretes Raya, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Senin (10/9/2018). Foto : Willy Abraham.

Prigen (wartabromo.com) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Pasuruan gelar seminar di Hotel Tretes Raya, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Senin (10/9/2018). Seminar berisikan tentang peran pewarta dan transparansi dalam pembangunan daerah.

Wartawan Pasuruan tergabung dalam PWI Pasuruan menggelar seminar dengan mengambil tema “”Peran Media dalam Transparansi Pembangunan”.

Ahmad Munir, Ketua PWI Jatim memberikan materi dalam Seminar Peran Media dalam Transparansi Pembangunan.

Acara dimulai pukul 10.00 WIB dihadiri Pj Bupati Pasuruan, Abdul Hamid; Wakil Wali Kota Pasuruan, Raharto Teno Prasetyo, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota/Kabupaten Pasuruan, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan, perwakilan Kepala Desa hingga Camat.

Wakil Walikota Pasuruan, Raharto Teno memberikan pandangan tentang pentingnya peran wartawan dalam proses pembangunan dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Pj Bupati Pasuruan, Abdul Hamid turut menambahkan, wartawan memiliki peran untuk menyebarluaskan informasi tentang capaian daerah.

Ratusan peserta menyimak paparan Ahmad Munir, Ketua PWI Jatim dalam Seminar Peran Media dalam Transparansi Pembangunan.

Seminar yang diketuai oleh Muhajir Arifin itu menghadirkan pembicara Imam Wahyudi (Dewan Pers Jakarta), Akhmad Munir (Ketua PWI Jawa Timur), Suko Widodo (Akademisi Unair) dan Irsyad Yusuf (Tokoh Masyarakat).

Imam Wahyudi, Dewan Pers, lebih banyak mengulas tentang kemerdekaan pers, dimana wartawan berhak mendapatkan informasi dari narasumber karena sebagai pemberi kabar dan informasi kepada masyarakat.

Ketua PWI Jawa Timur, Akhmad Munir menjelaskan, transparansi pembangunan kerap disalahgunakan oleh oknum wartawan. Menurutnya, ada perbedaan yang mencolok wartawan ‘abal-abal’ dengan yang mereka yang benar-benar bekerja selaras dengan kaidah atau etika jurnalistik.

“Ada dua perbedaan, wartawan yang benar institusional memenuhi standar pers dan karya jurnalistiknya adalah taat kepada kode etik jurnalistik. Sedangkan wartawan abal-abal orientasinya uang,” ujarnya.

Irsyad Yusuf yang hadir sebagai tokoh masyarakat mengaku, selama pengalamannya memimpin Kabupaten Pasuruanm merasakan, kehadiran media dalam pembangunan cukup vital, terutama untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

“Kita sama-sama memahami peran media sangat penting. Kedepan, tidak ada kata lain, kami akan terbuka seluas-luasnya untuk berproses dan mengawasi jalannya pembangunan,” tutup Irsyad, Bupati Pasuruan terpilih periode 2018-2023. (wil/**)