Apa Kabar Batik Khas Mendalan?

1088
Vranie, perajin batik asal Mendalan, menunjukkan batik motif Sukun, Selasa (2/9/2018). Foto: Ardiana Putri.
“Sebuah warisan budaya harusnya diapresiasi dan dijunjung tinggi nilai kearifan lokalnya. Semoga Batik Mendalan ke depannya lebih diterima di hati masyarakat Pasuruan”

Laporan: Ardiana Putri

BATIK merupakan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni tingkat tinggi sehingga patut dilestarikan. Hal ini juga yang dilakukan beberapa warga Dusun Sukun, Desa Mendalan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.

Sudah satu dekade ini para perajin batik Mendalan, berusaha terus merawat tradisi di tengah-tengah kondisinya yang makin tertatih.

Beberapa tahun lalu, terdapat beberapa kelompok perajin batik di Desa Mendalan. Tapi kini hanya ada satu-satunya kelompok yang konsisten membatik.

Fitria (36), ketua kelompok perajin batik Mendalan bersama 4 perempuan tetangganya tetap sabar menekuni pembuatan batik khas di Pasuruan ini. Mereka juga terus berusaha meningkatkan kualitas batik agar dapat memenuhi tuntutan pasar, meskipun pesanan yang datang tidak terlalu banyak.

“Dulu yang mbatik sampai 10 orang tapi karena pesanan semakin sepi, jadi hanya 4 orang ini saja,” keluh Fitria.

Menurutnya, apresiasi dari masyarakat lokal maupun pemerintah daerah sangatlah kurang. Justru orang asinglah yang sangat mencari produknya, ketika bertandang ke Winongan.

Ia memang mengakui, saat ini kesulitan dalam hal pemasaran. Tidak ada bantuan dari Dinas Koperasi dan UMKM dalam hal ini. Tapi Dinas terkait tersebut hanya pernah memberi bantuan satu kali, berupa sokongan bahan-bahan batik.

Selama ini Batik Mendalan hanya coba dipasarkan melalui mulut ke mulut dan juga memanfaatkan media sosial. Itupun responnya tak terlalu bagus.

“Mungkin pemerintah daerah bisa membuat kebijakan semacam mewajibkan para pegawai dinas untuk memakai batik lokal, biar para pembatik seperti kita ini sedikit sejahtera,” ungkap Fitiria.

Batik Mendalan yang dijual dengan harga mulai dari 195 ribu ini, memiliki motif khas daun sukun. Ini sesuai filosofi daerah asal batik ini. Warna-warnanya pun cerah dan dibuat lebih ngepop.

Bermula dari mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan sebuah program CSR salah satu perusahaan, Fitria akhirnya bertekad untuk terus menjadi perajin batik. Bukan hanya finansial yang ia dan kawan-kawannya kejar, tapi sebuah warisan budaya yang harusnya memang terus dilestarikan, agar anak-cucu nanti bisa tetap mengenal budayanya.

Fitria dkk juga selalu menerima tamu-tamu, yang berminat untuk berlajar membatik. Setiap hari Sabtu maupun Minggu, biasanya ada beberapa pelajar, datang ke kediamannya untuk hanya sekedar mengenal dan membatik.

Para perajin batik lokal ini berharap adanya apresiasi yang lebih terutama dari masyarakat lokal untuk menghargai potensi daerahnya sendiri. “Kalau banyak pesanan, kan kita bisa memberdayakan perempuan-perempuan yang ada di sekitar desa ini, biar lebih makmur,” tandasnya. (*)