Mengenal Batik Pandalungan Khas Kabupaten Probolinggo

2826
“Membicarakan batik memang tak akan pernah ada habisnya. Dimana Batik Indonesia sejak 2 Oktober 2009 ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO. Selain sebaga budaya bangsa, batik juga menjadi ciri khas daerah. Bagaimana geliat batik di Kabupaten Probolinggo?”

Laporan : Sundari Adi Wardhana, Probolinggo

SEJARAH perkembangan batik di Probolinggo memang tak diketahui secara pasti, namun hal itu sudah ada pada jaman dahulu. Hal itu terekam dalam pameran khusus Batik Probolinggo di Amsterdam Belanda pada 1883, dengan total 150 motif. Namun, setelah itu, perkembangnnya Batik Probolinggo hilang bak tertelan bumi.

Kini setelah mati suri, Kabupaten Probolinggo juga tak mau ketinggalan dalam mengembangkan batik yang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Beberapa pembatik memulai usaha batik lagi sekitar tahun 2009. Saat ini ada 13 pembatik yang terdaftar dalam Asosiasi Pengrajin Batik, Bordir dan Assesoris (APBBA) Kabupaten Probolinggo. Jumlah itu belum termasuk puluhan embrio pembatik lainnya yang belum terdaftar dalam organisasi.

Peluang usaha di sektor industri batik semakin besar seiring meluasnya pengguna kain batik, baik di lingkungan instansi pemerintah maupun masyarakat umum. Kondisi tersebut menarik minat kalangan pelaku usaha kecil menengah di kabupaten ini untuk menggeluti bidang perbatikan.

Dalam rentang 2011 hingga 2018, batik tulis khas Kabupaten Probolinggo mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kondisi itu dipengaruhi oleh kebijakan Bupati Probolinggo, P. Tantriana Sari.

“Di Jawa Timur, batik pengrajin disini sudah masuk dalam golongan menengah ke atas,” kata Taufik Alami, praktisi Batik Probolinggo.

 

Pembuatan batik.

Menurut Taufik, saat ini batik khas Kabupaten Probolinggo sudah terdaftar pada Batik Jawa Timuran, sebagai Batik Pendalungan. Batik Pandalungan adalah batik dengan corak warna-warna cerah dan berani dari Suku Madura yang dikombinasi dengan warna teduh Suku Jawa). Batik Probolinggo sebagai aliran Batik Pendalungan, cenderung mirip dengan batik Pasuruan, Situbondo, yang memang berada di satu wilayah yang dikenal sebagai Tapal Kuda.

Sehingga batik golongan ini, motif dan pewarnaanya berbeda dengan Batik Mataraman (Keraton Jokyakarta, Solo, dan etnik Jawa) maupun Batik Pesisiran Pantura (Pekalongan, Tuban dan Kudus).

Ciri khas batik Kabupaten Probolinggo terdapat pada warna dan motifnya. Untuk warna cerah, batik Kabupaten Probolinggo sangat kuat pada warna hijau, merah, kuning. Sementara untuk warna gelap atau teduh, ada pada warna hitam, maroon dan violet. Sedangkan untuk warna lembut, diwakili dengan warna tosca, turkish dan wortel.

Selain itu, pewarnaan batik Kabupaten Probolinggo, juga sennatisa memakai tehnik gradasi. Yaitu hantaran dari warna terang ke warna gelap, yang menghasilkan efek bayangan.

“Warna maroon, violet, tosca dan turkish ini jarang ditemui pada batik mataraman dan madura. Ini yang menjadi ciri khas batik disini,” tutur pelatih batik kelahiran Jember ini.

Untuk motif, Taufik mengatakan batik Kabupaten Probolinggo cenderung kontemporer. Namun, agar tidak meninggalkan filosofi batik klasik yang penuh simbol dan perlambang, maka citarasa itu dituangkan motif legenda rakyat yang tumbuh. Juga melalui cerita rakyat, adat istiadat, seni budaya. Semisal legenda Dewi Rengganis, Gajahmada, legenda Suku Tengger atau Tari Glipang.

Selain legenda dan budaya, motif batik disini juga mengangkat potensi alam, wisata dan produk unggulan. Seperti angin Gending, bawang merahh, tembakau, komak, gerabah dan lain sebagainya.

“Alhamdulillah, saat ini masyarakat sudah mengenal batik Kabupaten Probolinggo cukup melalui warna dan motifnya saja,” ujar putra ketiga pasangan H. Saiful Akbar dan Karyati ini.

Taufik Alami, mengatakan Batik tulis sebagai bagian dari industri kreatif, memerlukan strategi khusus untuk mengembangkannya. Startegi itu, antara lain harus Berbasis kearifan lokal, Pemetaan Batik Tulis, Fasilitasi HaKI dan Merk, Pemasaran, dan Pembinaan yang sinergi antar satuan kerja.

“Lima strategi ini, harus diperhatikan oleh pemerintah daerah dan para pengrajin. Karena kendala utama dalam industri ini, selain sumber daya pencanting yang kurang bagus, juga pengrajin tidak memiliki manajemen yang bagus,” kata ayah dua anak ini.