Bupati Probolinggo Sebut Batik Senjata Perang Ekonomi Global

851

Probolinggo (wartabromo.com) – Geliat batik di Kabupaten Probolinggo sangat potensial dikembangkan oleh masyarakat. Bahkan batik bisa menjadi senjata yang ampuh dalam perang ekonomi global.

Batik sebagai warisan budaya Indonesia mempunyai multiefek player dalam perekonomian bangsa. Dari segi tenaga kerja, kerajinan batik mampu menyerap tenaga kerja yang banyak tanpa harus berpendidikan formal. Mereka juga masih bisa mengerjakan pekerjaan lain selain membatik. Kemudian dari segi peluang bisnis, batik sangat menjanjikan. Baik sebagai kain, pakaian jadi maupun produk-produk turunannya.

“Saya akan terus mendorong warga Kabupaten Probolinggo, khususnya kaum muda untuk membidik bisnis fashion batik. Bagaimana memperjuangkan batik ini menjadi senjata, senjata perang ekonomi melawan perdagangan-perdagangan tekstil luar negeri, khususnya China,” kata Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari, Selasa (2/10/2018).

Penetapan batik sebagai warisan budaya oleh Unesco pada 2009 lalu, menurut Tantri merupakan sebuah pelaung besar. Pengakuan itu menunjukkan batik merupakan sebuah maha karya adi busana bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. “Multiefek player-nya sangat besar. Budayanya dapat, dari sisi pengembangan ekonominya dapat. Nah, tinggal bagaimana kita, khususnya kaum muda mencintai batik,” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan perkembangan batik di Kabupaten Probolinggo. Berpuluh-puluh tahun lamanya, tidak pernah terdengar cerita tentang batik khas Probolinggo. Baru dalam 5 tahun terakhir, batik Probolinggo mulai berkibar seiring munculnya perajin batik. Salah satu contoh adalah Batik Tulis Ronggomukti yang dikunjungi oleh Bupati Wanita pertama di Probolinggo tersebut, pada hari ini.

“Saya masih ingat, tiga tahun lalu, bagaimana pemilik batik ini dengan beraninya memamerkan hasil karyanya kepada saya di depan kantor Kecamatan Kraksaan. Waktu itu, hasil batiknya jauh dari kata bagus, masih bonteng-bonteng. Namun, dengan keuletan dan kegigihannya, batik ini sudah punya nama,” tutur istri Hasan Aminuddin ini.

Meski merupakan sebuah karya adi busana, Tantri ingin batik lebih populer dan terjangkau oleh lapisan bawah. Terutama siswa-siswa yang tengah mengenyam pendidikan.

“Tahun lalu saya tantang para membatik ini untuk membuat batik yang murah. Sehingga bisa dipakai oleh siswa mulai dari SD hingga SMA. Sekolah bekerjasama dengan UKM batik untuk membuat seragamnya,” tandas ibu 3 anak ini. (saw/saw)