Beredar Selebaran Tolak Jokowi di Probolinggo

4115

Probolinggo (wartabromo.com) – Dua hari terakhir beredar selebaran penolakan terhadap calon presiden Joko Widodo (Jokowi). Selebaran itu berkop surat Pondok Pesantres Al Islam As Salafi “Nurul Qadim”.

Selebaran diduga diterbitkan oleh KH. Hasan Abdul Jalal, pengasuh pesantren Nurul Qadim Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Hal itu terlihat dalam akhir surat tertulis Khodimul Ma’had Nurul Qadim Hasan Abdul Jalal, meski tanpa tanda tangan dan stempel pesantren.

Dalam isi surat itu disebutkan alasan Hasan Abdul Jalal tidak mau mendukung Jokowi. Ada 9 poin tertulis dalam selebaran itu.

Pertama, Jokowi disebut-sebut merupakan keturunan PKI.

“Setelah jadi presiden jokowi menyuruh menteri dalam negeri meresmikan patung laskar cina di taman mini jakarta,” tulisnya.

Bukan hanya itu, selebaran juga berisi bahwa Jokowi didukung oleh PDIP yang dihuni mayoritas non muslim dan komunis, serta berjuang menurup pesantren. Meniadakan adzan dan menghapus pelajaran agama di sekolah umum.

“Di luar negeri Jokowi didukung oleh Cina Tiongkok yang berideologi komunis. Kami khawatir jika Jokowi menjadi presiden lagi PKI akan bertambah merajalela di bumi Indonesia,” sebutnya.

Ditambah lagi, jika negara Islam dikuasai komunis, semua masjid akan dibongkar kecuali yang bangunannya bagus. Lahan tersebut oleh para komunis dijadikan perkantoran, museum, diskotik, night club (hiburan malam) dll. Umat Islam yang sholat di jalan ditembaki seperti di negara Uganda.

Kemudian pada poin terakhir, ditulis dalam Bahasa Madura yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berbunyi sebagai berikut :

“Insya Allah pendapat saya ini benar, kalau pendapat saya menurut anda tidak benar,  tak apa jika anda tak mengikuti saya. Tapi awas Indonesia menjadi negara Uganda kedua. Anda akan dituntut di akhirat kelak. Lalu, Bagaimana nasib anak cucu kita di kemudian hari?  Naudzubillah min Dzalik’.

Belum ada klarifikasi resmi dari pihak pondok pesantren Nurul Qadim terkait adanya selebaran itu. namun, saat ini edaran tersebut sudah mulai diselidiki oleh Polres Probolinggo.

“Kami masih menyelidiki edaran itu, anggota kami sudah menemui pihak pesantren dan kiai untuk mengklarifikasi apakah tulisan itu benar atau tidak. Selain itu, kami juga melakukan patroli di media sosial,” kata Kasat Intel Polres Probolinggo, AKP Budi Handoko. (saw/saw)